Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Maka dari itu konsistenlah antara ucapan dengan perbuatan
Dalam kehidupan manusia di dunia ini, sering terjadi kesalahpahaman
disebabkan ucapan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataannya.
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bersikap konsekuen dan jujur. Dalam pepatah Arab juga dikatakan Salaamatul Insaan Fii Hifdzil Lisaan. Maksudnya, selamatnya manusia itu tergantung dia dalam menjaga lisannya.
Pentingnya penyelarasan antara ucapan dan perbuatan dengan dasar firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah As-Saff Ayat 2-3, yang artinya;
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
"( Itu ) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." ( Q.S. As-Saff : 2-3 )
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 44, yang artinya;
"Mengapa kamu menyuruh orang lain ( mengerjakan ) kebajikan, sedangkan
kamu melupakan dirimu sendiri..." ( Q.S Al-Baqarah : 44 )
Sebagai orang yang beriman, kita harus mampu menyelaraskan antara ucapan
dan perbuatan. Jangan hanya pandai berbicara, tetapi harus berusaha
melakukan apa yang diucapkannya.
Meskipun demikian, bukan
berarti kita tidak boleh menyampaikan kebenaran jika belum mampu
melakukannya. Sebagai contoh seorang mubalig mengajarkan dan
menganjurkan jamaahnya untuk melakukan ibadah haji. Namun mubalig itu
sendiri belum melaksanakannya. Dia belum mampu secara materi. Hal
seperti ini bukan termasuk kesalahan meskipun dia sendiri belum
melaksanakan ibadah haji tersebut. Haji adalah kewajiban bagi mereka
yang mampu. Lain halnya jika mubalig itu sudah mampu tetapi tidak mau.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda
" Orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tetapi dia tidak
mengamalkannya maka ia seperti lilin, yaitu ia menerangi orang banyak,
tetapi dirinya habis terbakar." (HR. Tabrani)
Untuk mengetahui betapa berat ancaman bagi penganjur atau pengajar kebaikan, tetapi tidak mau melakukannya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam. bersabda:
"Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka,
lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi
perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni
neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa
seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi
aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap
menjalankannya. (HR. Bukhari no. 3027 dan Muslim No.5305)
Dari
hadis itu, jelaslah kiranya betapa besar akibat orang yang tidak selaras
antara ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, kita harus memiliki sikap
konsekuen dan jujur, yaitu selaras antara ucapan dan perbuatan sehingga
terbebas dari ancaman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
wallahu a'lam bish-shawab
Opick - Assalamualaikum
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Juni 2013
Seorang Muslim Disebut Berilmu Harus Mengamalkan Ilmunya (Bukan Jago Teori Dan Koar-Koar Saja)
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
*Disebut berilmu jika mengamalkannya
Sahabat Abu Dar'da radhiallahu anhu berkata,
"Tidaklah seorang berlimu sampai ia belajar (sebelumnya), tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya."[Awa'iqut Thalab hal. 5, syamilah]
Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata,
"Seorang 'Alim (berilmu) itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar 'Alim (berilmu)."['Awa'iqut Thalab hal. 6, syamilah]
*Berusaha mengamalkan ilmu
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
"Tidak pernah aku menulis sebuah hadits pun kecuali aku akan berusaha mengamalkan hadits tersebut. Hingga pada suatu ketika, sampai kepadaku sebuah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berbekam dan memberi upah kepada Abu Thayyibah (tukang bekam) sebanyak satu dinar, maka aku pun memberikan upah satu dinar kepada tukang bekam setiap kali aku berbekam."[Siyar A'laamun Nubala' 9/213]
Asy-Sya'bi rahimahullah berkata,
"Kami berusaha menghapal hadits dengan mengamalkannya dan kami berusaha menuntut ilmu dengan bantuan berpuasa."['Awa'iqut Thalab hal. 6, syamilah]
Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman,
"Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-Waqi'ah: 24]
*Kemurkaan Allah jika sekedar teori dan tidak mengamalkan ilmu
ِAllah Ta'ala berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. ash-Shaff: 3)
Untuk mengetahui betapa berat ancaman bagi penganjur atau pengajar kebaikan, tetapi tidak mau melakukannya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam. bersabda:
"Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya." [HR. Bukhari no. 3027 dan Muslim No.5305]
*Ilmu akan ditanya dan dipertanggung jawabkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan (belanjakan); serta tentang badannya, pada perkara apa dia gunakan."[HR. At-Tirmidzi dan beliau katakan, "Hadits hasan sahih." Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666]
Beliau juga besabda,
"Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. "[HR Muslim no 223]
*Semoga kita selalu bisa mengamalkan ilmu kita
Dengan senantiasa berdoa (terutama sebelum salam shalat) agar kita selalu mendapat bantuan dari Allah agar kita bisa beribadah kepada-Nya.
"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu]." [HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]
Semoga kita segera sadar bahwa ilmu yang tidak kita amalkan ternyata menunjukkan bahwa niat kita menuntut ilmu tidak benar, bisa jadi pujian dan sanjungan manusia saja.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
"Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi niat ikhlasnya, pent), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng)."[Al Fawaid hal. 86]
Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Walamdulillahi robbil 'alamin.
*NB;
Akan tetapi kami berharap semoga Allah selalu meluruskan niat kami dan kita semua dalam beribadah dan bedakwah di jalan-Nya.
Kita tidak berharap semoga setiap tulisan tentang ilmu dan yang kami tulis, kamilah yang pertama mempraktekkanya.
Kami berharap setiap status nasehat yang kami posting, kamilah yang pertama melakukannya.
Kami berharap setiap petikan faidah yang kami petik, kamilah yang pertama menerapkannya.
Wallahu a’lam bish-shawab
Sabtu, 11 Mei 2013
Bahasa Lisan & Tulisan Sebaiknya Dijaga Dari Bahaya Lisan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Hati-hatilah berbicara, menulis status dan komentar di Facebook, dll !
HENDAKLAH BERBICARA KEPADA FAKTOR-FAKTOR PENDORONG TENTANG KEBAIKAN DAN TAQWA
Umur manusia adalah rahasia Allah......Mungkin ada sebagian sahabat FB kita yang telah lebih dahulu ajalnya datang (wafat :red)........namun perkataannya, tulisannya, gambar pada artikel tulisan FB atau sebuah websitenya ... yang baik maupun tidak senonoh masih tertera pada dindingnya.....entah itu pada status-status atau komentar - komentar yang mengandung keburukan, caci-makian, fitnah atau kebaikan......semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak...maka berhati-hatilah bagi kita untuk menulis sebuah status, komentar atau membagikan sebuah gambar........
Allah berfirman :
Dan bicarakanlah tentang membuat KEBAJIKAN dan TAKWA. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan." [QS. Al Mujadilah : 9]
....Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang MENGAWASI (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang MENCATAT (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka MENGETAHUI apa yang kamu kerjakan. [QS. Al Infithar :10-12]
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [QS. Al Isra' :53]
Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). [QS. Muhammad :21]
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". [QS. Al Qashash : 55]
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, [QS. Al Qalam : 10-11]
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,"Bukanlah seorang Mukmin, yaitu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya."[HR. Bukhari dalam Kitabnya Al Adabul Mufrad halaman 116 dari hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu].
Ketahuilah, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan kulit menjadi saksi di akhirat nanti terhadap apa-apa yang telah kita kerjakan.
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. [QS. Fushilat : 21]
Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. [QS. Fushilat :20-22]
Tak ada satu katapun yang terucap, dan setiap kata-kata yang tertulis dalam status- statusmu dan komentar-komentar di Facebookmu, seluruh artikel dan catatanmu melainkan Allah mengetahuinya dan dicatat oleh para malaikat sebagai sebuah kebaikan atau keburukan bagimu.
Allah berfirman : "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."[QS. Qaaf :18]
"Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [QS. Al Anbiya : 4]
Ingatlah! Setiap perbuatan dan tingkah laku kita hingga yang remeh sekalipun akan dicatat pada kitab amalan. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya),"Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga." (QS. Al Kahfi [18] :49).
Kitab tersebut akan memuat amalan kebaikan dan kejelekan yang telah kita lakukan di dunia. Kitab tersebut akan diambil di sisi kanan dan kiri. Maka sungguh beruntung orang mukmin yang mendapat kitab tersebut dengan tangan kanannya dan dia akan sangat berbahagia. Dan sangat merugilah orang kafir yang mendapatkan catatan amalnya dengan tangan kirinya dan dia akan celaka.
Setiap orang bersama dengan amalan dan kitab amalannya akan ditimbang di suatu mizan (timbangan) yang memiliki dua daun timbangan. "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah." (QS. Al Qari’ah [101] : 6-9)
Allah berfirman :
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).[QS. Yunus : 61]
....dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), [QS. Al An'aam :59]
Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. [QS. Az Zukhruf : 80]
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Al Infithar: 10-12]
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.(Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." [QS. Al Jatsiyah : 28-29]
(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. [QS. Qaaf : 17]
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. [QS. Al Qamar : 52]
Muhasabahlah Sebelum Dan Sesudah Beramal
Duduklah bersama orang-orang yang cinta kepada Allah dan jujur serta menimba perkataan-perkataan mereka yang baik dan janganlah berbicara kecuali jika pembicaraan tersebut telah benar-benar baik dan diketahui dapat memberikan tambahan bagi keadaan sekarang dan manfaat bagi orang lain.
Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa muhasabah hendaknya dilakukan di dua waktu. Yakni sebelum beramal dan setelah beramal. Hal ini sangat perlu, agar amal yang akan dilakukan bermanfaat dan menghasilkan pahala.
Sebelum beramal, periksalah selalu niat dan tujuan dalam melakukan sesuatu. Prinsip yang baik adalah tidak tergesa-gesa sampai melihat apakah perbuatan tersebut lebih berhak dilakukan ataukah ditinggalkan.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak ketika berniat untuk melakukan sesuatu; jika ternyata ikhlas karena Allah, ia segera melanjutkan, dan jika ternyata bukan karena Allah, ia mundur."
Setelah beramal, sebaiknya memperhatikan tiga perkara berikut:
a. Mengevaluasi diri, apakah ketaatan yang telah dilakukan masih terdapat kekurangan-kekurangan. Perlu diperhatikan bahwa hak Allah dalam ketaatan ada didalam enam perkara, yaitu: Ikhlas, melakukannya dengan sebagus-bagusnya, mengikuti contoh Rasul, persaksian ihsan, persaksian ni’mat Allah, dan melihat kekurangan yang ada padanya.
b. Menghisab diri terhadap semua perbuatan yang lebih baik ditinggalkan dari pada dilakukan.
c. Bermuhasabah terhadap perbuatan yang mubah yang biasa dikerjakan. Yakni dengan cara bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia lakukan? Apakah mengharapkan keridhaan Allah, ataukah mengharapkan kehidupan dunia belaka?
Dengan cara-cara di atas, seorang hamba dapat melakukan muhasabah yang benar. Pertama, ia menghisab dirinya dalam amalan yang wajib. Jika ia ingat ada kekurangan padanya, ia segera memperbaikinya. Kedua, ia menghisab dirinya dalam perbuatan yang terlarang. Jika ia mengetahui bahwa ia telah melakukan sebuah dosa, ia segera bertaubat dan memohon ampun dan beramal kebaikan.
Selain itu, dengan cara-cara tersebut hamba Allah selalu sempat untuk menghisab kelalaiannya. Jika dirinya telah lalai dari tujuan penciptaannya, maka ia segera mengingat Allah dan kembali kepada-Nya. Kemudian ia menghisab ucapan-ucapannya, yang dilakukan oleh kedua kaki dan tangannya, dan yang didengar oleh telinganya.
Selalu bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang diinginkan dari semua itu? Karena siapa? Bagaimana caranya?
Berpikirlah Sebelum Berucap
Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat." (HR. Muslim)
Ulama besar Syafi'iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, "Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, hendaknya merenungkan dalam dirinya sebelum berucap. Jika memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara. Namun jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.” Itulah manusia, dia menganggap perkataannya seperti itu tidak apa-apa, namun di sisi Allah itu adalah suatu perkara yang bukan sepele.
Allah Ta'ala berfirman, "Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS. An Nur [24] : 15)
Ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam;
"Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat nanti dari sisi Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara:
(1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan,
(2) tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan,
(3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan, dan
(4) untuk apa dia belanjakan,
(5) tentang apa yang dia amalkan setelah mengetahui ilmunya."
[Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah hadits no. 946]
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau Diam" [HR. Bukhori & Muslim]
Sebagai seorang muslim yang baik, senantiasa dan sudah sepatutnya mengetahui bahwa setiap gerakan dan ucapan akan ditampakkan padanya dua pertanyaan: Karena siapa kamu melakukan dan bagaimana caranya?
Seperti yang dinyatakan oleh firman Allah:
"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." (QS AI Hijir: 92-93).
Wallahu a’lam bish-shawab
Rabu, 08 Mei 2013
Berpegang Teguh Kepada Al-Qur'an dan As-sunnah
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Berpegang Teguh Kepada Al-Qur'an dan As-sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam Supaya Kita Tidak Sesat
Firman Allah Ta'ala, artinya:
"Dan hendaklah kamu sekalian berpegang teguh kepada kitab Allah Al-Qur'an .. (QS. Ali-Imran : 103).
".. Dan apa jua suruhan yang dibawa oleh Rasulullah kepada kamu, maka ambillah akan dia serta amalkan, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya ..." (QS. Al-Hasyr: 7).
Dari Abu Hurairah, r.a. Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah," (sallallahu alaihi wasallam).
(Imam Malik).
Perintah untuk berpegang teguh kepada As-Sunnah adalah perintah Allah yang banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur'an, sehingga kedudukannya jauh lebih kuat dibandingkan hadits tsaqalain. Sedangkan hadits tsaqalain sendiri pada kenyataannya adalah perintah untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan perintah untuk memperhatikan ahlul bait.
Lalu apa yang dimaksud dengan sunnah disini? As-Sunnah menurut istilah syari'at ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi'il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri (pensyariatan) bagi ummat Islam (Qawaa'idut Tahdits (hal. 62), Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Ushul Hadits, Dr. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, cet. IV Darul Fikr 1401 H, Taisir Muthalahil Hadits (hal. 15), Dr. Mahmud ath-Thahhan)
Contoh-contoh ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk berpegang kepada As-Sunnah
"Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan."(Q.S. An Nisa': 13-14)
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat." (Q.S. Al Ahzab: 36)
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. An Nisa': 69)
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…"
(QS. Al Ahzaab: 21)
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (Q.S. An Nisa': 80)
"Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka." (HR. an-Nasa'i)
"Orang yang berpegangan kepada sunahku pada saat umatku dilanda kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid." (HR. Ath-Thabrani)
"Berpegangteguhlah kalian dengan Sunnah-ku dan sunnah para Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk (setelahku)." (HR. Al-'Irbadh bin Sariyah)
"Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid'ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku." (HR. Bukhari)
Kesimpulan : Berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah diperintahkan oleh Allah dalam Kitabullah, dan Rasul-Nya dala hadits-hadits beliau, sehingga jika kita berpegang kepada Kitabullah, secara otomatis kita wajib berpegang kepada Sunnah Rasul shalallahu 'alaihi wasalam, hal ini menunjukkan perintah berpegang kepada sunnah bersamaan dengan Kitabullah adalah sangat kuat, bahkan seandainya tidak ada satu hadits pun yang memerintahkan hal ini, cukuplah perintah ini kita dapatkan dari Al-Qur'an.
Wallahu a’lam bish-shawab
Jumat, 19 April 2013
Jangan berkata mendayu-dayu yang membangkitkan nafsu seseorang
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
JANGAN MELEBUTKAN PERKATAAN/MENDAYU-DAYU/ SEKEDAR BASA-BASI.
Penyimpangan dalam adab ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti "sayang", canda tawa, basa - basi, cari perhatian, dsb.
BAGAIMANA SELANJUTNYA.. ??
Syariat Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas untuk mengatur pola interaksi / IKHTILATH antara laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat). Islam tidak membenarkan adanya INTERAKSI seseorang dengan yang bukan muhrimnya.
" Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad).
Jangan mendayu-dayu saat berbicara, jangan memanja-manjakan suara, intinya harus tegas dalam berbicara baik melalui telepon mau pun ketika berbicara di forum-forum, di acara atau saat syura dan interaksi lainnya dengan orang-orang yang bukan mahram kita. Maka tegaskanlah cara bicara Anda. Tegas bukan berarti keras atau marah karena dengan tegas berarti kita telah membentengi hati dan menjaga izzah diri. Sebab jika tunduk berbicara maka telah membuka peluang bagi syeitan untuk mempermainkan nafsu, menghembus penyakit dalam hati, menikmati rasa yang tidak biasa dan pada akhirnya akan menjerumuskan kepada zina hati. Karena pada hakikatnya, hati seseorang dapat diketahui dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Apa yang diucapkan oleh lidah bisa dijadikan parameter untuk menilai keistiqamahan iman seseorang.
Setan itu sangat lihai mengambil celah untuk menggoda manusia dengan mempermainkan nafsunya. Ikhtilath tidak hanya terjadi dalam interaksi nyata namun bisa juga terjadi melalui jejaring sosial dunia maya. Dengan adanya orang yang mendampingi saat membahas hal urgen tersebut melalui telepon diharapkan komunikasi menjadi lebih terjaga.
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (terlebih dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (terlebih dahulu)." (HR. Ahmad dari Anas RA).
Dan pada hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh akan memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, 'Takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng'." (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).
Yahya bin Mu'adz berkata:
Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalam hatinya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana "rasa" hatinya, adalah apa yang ia keluarkan dari lidahnya.
"Dan ucapkanlah perkataan yang baik." termasuk penggalan ayat dalam surah Al-Ahzab ayat 32. Perkataan yang baik yaitu berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat dan kebaikan serta mampu menahan lidah dari ucapan yang bathil yang bisa merusak hati.
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan hal-hal yang baik atau diam saja" (HR. Bukhari-Muslim).
LALU BAGAIMANA.. ??
Jika ada hal urgen yang memang harus diselesaikan melalui TELP, SMS, FB, TWITER antara ikhwan dan akhwat, Maka hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan hal tersebut dengan baik dan efektif. Baik dalam arti menggunakan kata-kata yang formal, singkat, padat, jelas dan tegas. Dan efektif menggunakan waktu dalam menyampaikan hal itu melalui MEDIA.
Fokus pada tujuan awal agar hal-hal di luar bahasan tidak perlu diutarakan ( hemat ). Mengapa hal ini perlu dilakukan? Agar hal yang disampaikan baik dan efektif sesuai dengan urgentifitas hal tersebut dan untuk mengantisipasi terjadinya ikhtilath. Jika Laki-laki bertanya pada seorang akhwat, akhwat merekomedasikan untuk bertanya kepada ikhwan, misalkan " Maaf lebih baik anda bertanya sesama ikhwan. - sebaliknya untuk akhwat.
Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. al-Ahzab: 32)
Imam Qurtubi menafsirkan kata 'Takhdha'na' (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.
Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.
Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata-kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan.
Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa-biasa saja.
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
JANGAN MELEBUTKAN PERKATAAN/MENDAYU-DAYU/
Penyimpangan dalam adab ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti "sayang", canda tawa, basa - basi, cari perhatian, dsb.
BAGAIMANA SELANJUTNYA.. ??
Syariat Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas untuk mengatur pola interaksi / IKHTILATH antara laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat). Islam tidak membenarkan adanya INTERAKSI seseorang dengan yang bukan muhrimnya.
" Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad).
Jangan mendayu-dayu saat berbicara, jangan memanja-manjakan suara, intinya harus tegas dalam berbicara baik melalui telepon mau pun ketika berbicara di forum-forum, di acara atau saat syura dan interaksi lainnya dengan orang-orang yang bukan mahram kita. Maka tegaskanlah cara bicara Anda. Tegas bukan berarti keras atau marah karena dengan tegas berarti kita telah membentengi hati dan menjaga izzah diri. Sebab jika tunduk berbicara maka telah membuka peluang bagi syeitan untuk mempermainkan nafsu, menghembus penyakit dalam hati, menikmati rasa yang tidak biasa dan pada akhirnya akan menjerumuskan kepada zina hati. Karena pada hakikatnya, hati seseorang dapat diketahui dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Apa yang diucapkan oleh lidah bisa dijadikan parameter untuk menilai keistiqamahan iman seseorang.
Setan itu sangat lihai mengambil celah untuk menggoda manusia dengan mempermainkan nafsunya. Ikhtilath tidak hanya terjadi dalam interaksi nyata namun bisa juga terjadi melalui jejaring sosial dunia maya. Dengan adanya orang yang mendampingi saat membahas hal urgen tersebut melalui telepon diharapkan komunikasi menjadi lebih terjaga.
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (terlebih dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (terlebih dahulu)." (HR. Ahmad dari Anas RA).
Dan pada hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh akan memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, 'Takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng'." (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).
Yahya bin Mu'adz berkata:
Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalam hatinya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana "rasa" hatinya, adalah apa yang ia keluarkan dari lidahnya.
"Dan ucapkanlah perkataan yang baik." termasuk penggalan ayat dalam surah Al-Ahzab ayat 32. Perkataan yang baik yaitu berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat dan kebaikan serta mampu menahan lidah dari ucapan yang bathil yang bisa merusak hati.
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan hal-hal yang baik atau diam saja" (HR. Bukhari-Muslim).
LALU BAGAIMANA.. ??
Jika ada hal urgen yang memang harus diselesaikan melalui TELP, SMS, FB, TWITER antara ikhwan dan akhwat, Maka hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan hal tersebut dengan baik dan efektif. Baik dalam arti menggunakan kata-kata yang formal, singkat, padat, jelas dan tegas. Dan efektif menggunakan waktu dalam menyampaikan hal itu melalui MEDIA.
Fokus pada tujuan awal agar hal-hal di luar bahasan tidak perlu diutarakan ( hemat ). Mengapa hal ini perlu dilakukan? Agar hal yang disampaikan baik dan efektif sesuai dengan urgentifitas hal tersebut dan untuk mengantisipasi terjadinya ikhtilath. Jika Laki-laki bertanya pada seorang akhwat, akhwat merekomedasikan untuk bertanya kepada ikhwan, misalkan " Maaf lebih baik anda bertanya sesama ikhwan. - sebaliknya untuk akhwat.
Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. al-Ahzab: 32)
Imam Qurtubi menafsirkan kata 'Takhdha'na' (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.
Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.
Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata-kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan.
Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa-biasa saja.
Wallahu a’lam bish-shawab
Jangan malu dan takut untuk berbuat baik dalam rangka berbagi ilmu pengetahuan dan mengajarkan, Insya Allah pahala akan mengalir
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Analoginya sebagai berikut:
A: "Hah? Yang bener mas?"
B: "Masnya punya anak?"
A: "Punya mas."
B: "Nah, masnya sudah ngajarin anak baca Al Fatihah? Sholat dan lain-lain?"
A: "Tentu saja mas, sudah."
B: "Masya Allah, besar sekali pahalanya mas. Mas tahu kalau misalnya anak mas baca Al Qur'an dan sholat maka pahalanya akan mengalir kepada mas?"
A: "Emang bisa ya mas?"
B: "Tentu saja bisa. Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
"Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: Kecuali sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakan untuknya." (HR. Muslim no. 1631)
Masnya kan sudah mengajarkan membaca Al Qur'an, sudah punya mengajarkan sholat. Itu semua adalah ilmu dan pahalanya akan terus mengalir kepada mas. Bahkan, kalau misalnya nanti masnya punya cucu, dan anaknya mas ngajarin ke cucunya, maka pahala cucu ini pun akan sampai kepada mas.
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Analoginya sebagai berikut:
A: "Hah? Yang bener mas?"
B: "Masnya punya anak?"
A: "Punya mas."
B: "Nah, masnya sudah ngajarin anak baca Al Fatihah? Sholat dan lain-lain?"
A: "Tentu saja mas, sudah."
B: "Masya Allah, besar sekali pahalanya mas. Mas tahu kalau misalnya anak mas baca Al Qur'an dan sholat maka pahalanya akan mengalir kepada mas?"
A: "Emang bisa ya mas?"
B: "Tentu saja bisa. Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
"Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: Kecuali sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakan untuknya." (HR. Muslim no. 1631)
Masnya kan sudah mengajarkan membaca Al Qur'an, sudah punya mengajarkan sholat. Itu semua adalah ilmu dan pahalanya akan terus mengalir kepada mas. Bahkan, kalau misalnya nanti masnya punya cucu, dan anaknya mas ngajarin ke cucunya, maka pahala cucu ini pun akan sampai kepada mas.
Wallahu a’lam bish-shawab
Beramal tanpa ilmu ditolak, beramal tanpa niat ikhlas di tolak
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Imam Ghazali berkata: "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia."
Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu tidak tahu ilmunya, maka pekerjaan kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT.
Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak." (HR Muslim)
Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).
Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan:
wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu // a'maluhu mardudatun la tuqbalu. Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya.
Jelas sekali, kan?
Itu sebabnya, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda; "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim." (Ibnu Majah)
Dasar kewajiban ini, karena Islam menginginkan umatnya mengerjakan sesuatu berlandaskan ilmu yang diketahuinya, sehingga apa yang dikerjakan sesuai dengan al-Qur'an dan Sunah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam . Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah dan amal tanpa ilmu sama halnya perbuatan yang sia-sia.
*****
Yang menjadi ukuran amal seseorang ialah ke"Ikhlasannya".
Membicarakan soal ikhlas haruslah didahului dengan uraian tentang niat, sebab antara keduanya sangat erat hubungannya, tak ubahnya laksana pohon dan bibit.
Niat(ikhlas) itu adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan dan lain-lain. Dia menjadi ukuran yang menentukan tentang baik buruknya sesuatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peranan niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama salaf (dahulu kala) menyimpulkan : "Kerap kali amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya(ikhlas), dan kerap kali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya."
Niat(ikhlas), Iradah atau qashad ialah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan ataupun ucapan tertentu.
Kedudukan niat(ikhlas) itu dijelaskan dalam sebuah hadits
"Dari Amiril Mu'minin Abi Hafsin Umar Bin Khattab r.a berkata : "Saya dengar Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh sesuatu dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah ke arah yang ditujunya itu". (H.R. Bukhari dan Muslim)
Menurut hadits itu tiap-tiap amal perbuatan harus berlandaskan niat yang ikhlas, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah, bergantung kepada niat orang yang mengerjakannya, atau kepada nawaitu-nya. Jika niatnya baik, maka amalnya akan diterima. Sebaliknya kalau niatnya ada "udang dibalik batu", maka amalnya itu pun akan ditolak.
Didalam setiap niat yang penting adalah ikhlas. Arti ikhlas ialah memperindah ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Imam Ghazali berkata: "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia."
Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu tidak tahu ilmunya, maka pekerjaan kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT.
Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak." (HR Muslim)
Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).
Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan:
wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu // a'maluhu mardudatun la tuqbalu. Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya.
Jelas sekali, kan?
Itu sebabnya, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda; "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim." (Ibnu Majah)
Dasar kewajiban ini, karena Islam menginginkan umatnya mengerjakan sesuatu berlandaskan ilmu yang diketahuinya, sehingga apa yang dikerjakan sesuai dengan al-Qur'an dan Sunah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam . Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah dan amal tanpa ilmu sama halnya perbuatan yang sia-sia.
*****
Yang menjadi ukuran amal seseorang ialah ke"Ikhlasannya".
Membicarakan soal ikhlas haruslah didahului dengan uraian tentang niat, sebab antara keduanya sangat erat hubungannya, tak ubahnya laksana pohon dan bibit.
Niat(ikhlas) itu adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan dan lain-lain. Dia menjadi ukuran yang menentukan tentang baik buruknya sesuatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peranan niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama salaf (dahulu kala) menyimpulkan : "Kerap kali amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya(ikhlas), dan kerap kali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya."
Niat(ikhlas), Iradah atau qashad ialah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan ataupun ucapan tertentu.
Kedudukan niat(ikhlas) itu dijelaskan dalam sebuah hadits
"Dari Amiril Mu'minin Abi Hafsin Umar Bin Khattab r.a berkata : "Saya dengar Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh sesuatu dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah ke arah yang ditujunya itu". (H.R. Bukhari dan Muslim)
Menurut hadits itu tiap-tiap amal perbuatan harus berlandaskan niat yang ikhlas, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah, bergantung kepada niat orang yang mengerjakannya, atau kepada nawaitu-nya. Jika niatnya baik, maka amalnya akan diterima. Sebaliknya kalau niatnya ada "udang dibalik batu", maka amalnya itu pun akan ditolak.
Didalam setiap niat yang penting adalah ikhlas. Arti ikhlas ialah memperindah ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab
Jika menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata-mata
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
JANGANLAH sekali-kali engkau MENUNTUT ILMU dengan MAKSUD untuk BERMEGAH-MEGAH, SOMBONG, BERBANTAH-BANTAHAN, MENANDINGI dan MENGALAHKAN ORANG LAIN(lawan bicara), atau SUPAYA ORANG MENGANGUMIMU. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana MENGUMPULKAN HARTA KEKAYAAN DUNIAWI. Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.
kalau ingin dunia, ingin pujian orang, ingin dihormati, ketika tidak mendapatkan itu dan tidak disandarkan pada Allah, pada saat itulah galau dan stres muncul. Dan syaithan ikut berperan disana membuat kita jadi sombong. PUJIAN DAN SANJUNGAN BISA MENGHANYUTKAN SERTA MEMBUAT TERLENA (LUPA DIRI). Hati-hati dengan pujian & populer, pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. "Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. " [HR Abu Dawud]
Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda., "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka." [HR Tirmidzi & Ibnu Majah]
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
JANGANLAH sekali-kali engkau MENUNTUT ILMU dengan MAKSUD untuk BERMEGAH-MEGAH, SOMBONG, BERBANTAH-BANTAHAN, MENANDINGI dan MENGALAHKAN ORANG LAIN(lawan bicara), atau SUPAYA ORANG MENGANGUMIMU. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana MENGUMPULKAN HARTA KEKAYAAN DUNIAWI. Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.
kalau ingin dunia, ingin pujian orang, ingin dihormati, ketika tidak mendapatkan itu dan tidak disandarkan pada Allah, pada saat itulah galau dan stres muncul. Dan syaithan ikut berperan disana membuat kita jadi sombong. PUJIAN DAN SANJUNGAN BISA MENGHANYUTKAN SERTA MEMBUAT TERLENA (LUPA DIRI). Hati-hati dengan pujian & populer, pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. "Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. " [HR Abu Dawud]
Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda., "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka." [HR Tirmidzi & Ibnu Majah]
Wallahu a’lam bish-shawab
Jangan berbisik bisa menyinggung perasaan teman, mungkin bisa juga menimbulkan prasangka yang bukan-bukan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda tentang "larangan berbisik-bisik dalam islam", mengapa berbisik itu dilarang?
Bersabda Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam:
"Idzaa Kuntum Tsalaatsatan Falaayatanaajatsaani Duunal Aakkhari Hatta Taktalithuu Binnaasi Min Ajli Annadzaalika Yuhzinuhu". (HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud)
Artinya :
Sabda Rasulullah Saw :
"Apabila kamu sedang bertiga sekawan, maka janganlah dua orang diantaranya berbisik-bisik tanpa ikut sertanya yang lain (yang ketiga) sampai kamu bercampur gaul dengan orang banyak, karena yang demikian akan menyedihkan hatinya."
(HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud).
Apa yang dimaksud berbisik-bisik disini, berbisik-bisik ialah berkata-kata yang hanya dapat didengar sendiri atau orang lain yang ada didekatnya. Dalam pergaulan, bisik-bisik berduaan saja padahal disitu ada kawan yang ketiga dalam aturan islam dilarang, sebab dapat menyinggung perasaan kawan yang tidak diajak berbicara. mengapa? sebab mungkin bisa menimbulkan prasangka yang bukan-bukan baginya, apakah sedang membicarakan tentang aib dirinya atau ia merasa disingkirkan atau dianggap tak pandai memegang rahasia dan sebagainya, maka dari itu berbisik dilarang dalam islam.
Termasuk dalam kategori berbisik ialah berbicara berdua dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh kawan yang ketiga. tetapi apabila kawan yang ketiga telah mendapat teman sendiri atau telah bercampur dengan orang banyak sehingga teman ketiga tidak memiliki urusan lagi dengan dua teman yang lain maka bisik-bisik dua orang itu dilarang.
Saudaraku sekalian janganlah pernah kita berbisik-bisik, apabila ada urusan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, maka akan lebih baik jika kita berbicara empat mata dengan orang yang ada urusan dengan kita, hal ini tidak akan menyinggung perasaan orang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda tentang "larangan berbisik-bisik dalam islam", mengapa berbisik itu dilarang?
Bersabda Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam:
"Idzaa Kuntum Tsalaatsatan Falaayatanaajatsaani Duunal Aakkhari Hatta Taktalithuu Binnaasi Min Ajli Annadzaalika Yuhzinuhu". (HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud)
Artinya :
Sabda Rasulullah Saw :
"Apabila kamu sedang bertiga sekawan, maka janganlah dua orang diantaranya berbisik-bisik tanpa ikut sertanya yang lain (yang ketiga) sampai kamu bercampur gaul dengan orang banyak, karena yang demikian akan menyedihkan hatinya."
(HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud).
Apa yang dimaksud berbisik-bisik disini, berbisik-bisik ialah berkata-kata yang hanya dapat didengar sendiri atau orang lain yang ada didekatnya. Dalam pergaulan, bisik-bisik berduaan saja padahal disitu ada kawan yang ketiga dalam aturan islam dilarang, sebab dapat menyinggung perasaan kawan yang tidak diajak berbicara. mengapa? sebab mungkin bisa menimbulkan prasangka yang bukan-bukan baginya, apakah sedang membicarakan tentang aib dirinya atau ia merasa disingkirkan atau dianggap tak pandai memegang rahasia dan sebagainya, maka dari itu berbisik dilarang dalam islam.
Termasuk dalam kategori berbisik ialah berbicara berdua dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh kawan yang ketiga. tetapi apabila kawan yang ketiga telah mendapat teman sendiri atau telah bercampur dengan orang banyak sehingga teman ketiga tidak memiliki urusan lagi dengan dua teman yang lain maka bisik-bisik dua orang itu dilarang.
Saudaraku sekalian janganlah pernah kita berbisik-bisik, apabila ada urusan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, maka akan lebih baik jika kita berbicara empat mata dengan orang yang ada urusan dengan kita, hal ini tidak akan menyinggung perasaan orang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab
Bahaya Cinta Ketenaran dan Popularitas
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Bahwa orang-orang yang ingin mencari ketenaran dalam hidupnya biasanya tidak jujur terhadap orang lain. Karena ingin cepat terkenal dia mengambil jalan pintas, misalkan seorang penulis MENGAKUI karya orang lain sebagi karyanya sendiri, atau seorang mubaligh "menjatuhkan" mubaligh lainnya agar dirinya lebih terkenal dari mubaligh itu, atau seorang pemuda yang ingin cepat kaya dengan jalan menjual narkoba, dan sebagainya.
Orang-orang yang menyukai ketenaran adalah orang-orang yang cinta dunia. Yang mengukur segala sesuatunya dengan hal-hal yang berbau materi. Ketenaran adalah sesuatu yang ingin selalu diperlihatkan pelakunya kepada orang lain. Dan dengannya manusia memuji-mujinya karena kehebatan, prestasi, dan kebaikan yang ia lakukan. Bukan semakin rendah hati justru semakin menjadi-jadi, dia selalu ingin dipuji-puji. Jika tidak ada orang yang memujinya, maka dia mencari jalan agar orang mau memujinya. Entah apa itu jalan yang halal maupun haram. Dia harus memanipulasi dirinya agar terlihat hebat dan cerdas.
kalau ingin dunia, ingin pujian orang, ingin dihormati, ketika tidak mendapatkan itu dan tidak disandarkan pada Allah, pada saat itulah galau dan stres muncul. Dan syaithan ikut berperan disana membuat kita jadi sombong. PUJIAN DAN SANJUNGAN BISA MENGHANYUTKAN SERTA MEMBUAT TERLENA (LUPA DIRI). Hati-hati dengan pujian & populer, pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'
Orang-orang semacam ini hanya pintar berkata-kata (bermanis mulut). Di hadapan orang banyak dia tampil begitu meyakinkan, namun ketika sedang sendiri dia melakukan kebusukan-kebusukan dan lupa dengan apa yang dikatakannya sendiri.
Orang-orang seperti inilah yang ditegur dan dibenci Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Sangat MERDU firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaff ayat ke 2 & 3, yang artinya ;
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. ash-Shaff: 2-3).
Orang-orang saleh sangat tidak menyukai ketenaran. Karena mereka beribadah hanya semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka menjauhi ketenaran seolah-olah ketenaran itu sebuah kemaksiatan yang sangat besar.
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Bahwa orang-orang yang ingin mencari ketenaran dalam hidupnya biasanya tidak jujur terhadap orang lain. Karena ingin cepat terkenal dia mengambil jalan pintas, misalkan seorang penulis MENGAKUI karya orang lain sebagi karyanya sendiri, atau seorang mubaligh "menjatuhkan" mubaligh lainnya agar dirinya lebih terkenal dari mubaligh itu, atau seorang pemuda yang ingin cepat kaya dengan jalan menjual narkoba, dan sebagainya.
Orang-orang yang menyukai ketenaran adalah orang-orang yang cinta dunia. Yang mengukur segala sesuatunya dengan hal-hal yang berbau materi. Ketenaran adalah sesuatu yang ingin selalu diperlihatkan pelakunya kepada orang lain. Dan dengannya manusia memuji-mujinya karena kehebatan, prestasi, dan kebaikan yang ia lakukan. Bukan semakin rendah hati justru semakin menjadi-jadi, dia selalu ingin dipuji-puji. Jika tidak ada orang yang memujinya, maka dia mencari jalan agar orang mau memujinya. Entah apa itu jalan yang halal maupun haram. Dia harus memanipulasi dirinya agar terlihat hebat dan cerdas.
kalau ingin dunia, ingin pujian orang, ingin dihormati, ketika tidak mendapatkan itu dan tidak disandarkan pada Allah, pada saat itulah galau dan stres muncul. Dan syaithan ikut berperan disana membuat kita jadi sombong. PUJIAN DAN SANJUNGAN BISA MENGHANYUTKAN SERTA MEMBUAT TERLENA (LUPA DIRI). Hati-hati dengan pujian & populer, pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'
Orang-orang semacam ini hanya pintar berkata-kata (bermanis mulut). Di hadapan orang banyak dia tampil begitu meyakinkan, namun ketika sedang sendiri dia melakukan kebusukan-kebusukan dan lupa dengan apa yang dikatakannya sendiri.
Orang-orang seperti inilah yang ditegur dan dibenci Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Sangat MERDU firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaff ayat ke 2 & 3, yang artinya ;
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. ash-Shaff: 2-3).
Orang-orang saleh sangat tidak menyukai ketenaran. Karena mereka beribadah hanya semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka menjauhi ketenaran seolah-olah ketenaran itu sebuah kemaksiatan yang sangat besar.
Wallahu a’lam bish-shawab
Kalau tidak bisa berkata baik & benar lebih baik diam
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka.
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda tentang Berpikirlah Sebelum Berkata:
"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat." (HR. Muslim)
Hendaknya kita berhati-hati dalam berucap & berbuat, karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta'ala di akhirat.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.." (QS. Al Isra': 36)
jangan main-main dengan lisan dan tulisanmu
begitu sayang Allah Ta'ala memberi peringatan pada hamba_Nya.
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya ;
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS.Qaf[50] : 18)
PESAN MORAL:
Hidup dan mati seseorang dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Lidah memang suatu anggota yang kecil, tapi sangatlah besar kuasanya.
Bila kita salah menggunakan, maka hancurlah semua yang ada di sekitar kita.
Lidah yang lembut adalah pohon kehidupan, tapi lidah yang jahat melukai hati orang lain!
Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang ke AKHIRAT
Cuma ada 2 PILIHAN untuk LIDAH
- Berkata BAIK & BENAR
- Atau DIAM
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka.
Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda tentang Berpikirlah Sebelum Berkata:
"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat." (HR. Muslim)
Hendaknya kita berhati-hati dalam berucap & berbuat, karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta'ala di akhirat.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.." (QS. Al Isra': 36)
jangan main-main dengan lisan dan tulisanmu
begitu sayang Allah Ta'ala memberi peringatan pada hamba_Nya.
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya ;
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS.Qaf[50] : 18)
PESAN MORAL:
Hidup dan mati seseorang dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Lidah memang suatu anggota yang kecil, tapi sangatlah besar kuasanya.
Bila kita salah menggunakan, maka hancurlah semua yang ada di sekitar kita.
Lidah yang lembut adalah pohon kehidupan, tapi lidah yang jahat melukai hati orang lain!
Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang ke AKHIRAT
Cuma ada 2 PILIHAN untuk LIDAH
- Berkata BAIK & BENAR
- Atau DIAM
Wallahu a’lam bish-shawab
Sebelum Terlambat…mintalah maaf & berilah maaf
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Kita tidak tahu ajal kita kapan…
Jangan sampai ajal menjemput kita atau dirinya, sehingga kita meninggalkan perlakuan buruk kepadanya…
Betapa banyak tangisan yang hampa disebabkan keangkuhan untuk memohon maaf…
Betapa banyak penyesalan yang tiada berbanding; ketika kita ditinggalkan seorang yang telah jujur memohon maaf tapi kita tidak segera memaafkannya sehingga ajalnya mendahului maaf kita…
Ingat muslim adalah saudara bagi muslim yang lain! Inginkah dirimu ditinggal wafat saudara/i-mu dalam keadaan engkau tidak memohon maaf atau memaafkannya?!
Sebelum penyesalan dan tangisan itu datang…
Maka hendaknya kita:
- Menjaga lisan dan perbuatan kita dari menyakitinya..
- Berlapang hati dengan segera memaafkan kesalahannya…
- Dan tidak angkuh untuk bersegera memohon maaf apabila tergelincir…
Karena kita tidak tahu, apakah ajal ataukah permohonan/penerimaan maaf kita yg mendahului…
Bukankah kita tidak ingin meninggalkan kesan akhir yang tidak kita sukai terhadap saudara kita!?
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Kita tidak tahu ajal kita kapan…
Jangan sampai ajal menjemput kita atau dirinya, sehingga kita meninggalkan perlakuan buruk kepadanya…
Betapa banyak tangisan yang hampa disebabkan keangkuhan untuk memohon maaf…
Betapa banyak penyesalan yang tiada berbanding; ketika kita ditinggalkan seorang yang telah jujur memohon maaf tapi kita tidak segera memaafkannya sehingga ajalnya mendahului maaf kita…
Ingat muslim adalah saudara bagi muslim yang lain! Inginkah dirimu ditinggal wafat saudara/i-mu dalam keadaan engkau tidak memohon maaf atau memaafkannya?!
Sebelum penyesalan dan tangisan itu datang…
Maka hendaknya kita:
- Menjaga lisan dan perbuatan kita dari menyakitinya..
- Berlapang hati dengan segera memaafkan kesalahannya…
- Dan tidak angkuh untuk bersegera memohon maaf apabila tergelincir…
Karena kita tidak tahu, apakah ajal ataukah permohonan/penerimaan maaf kita yg mendahului…
Bukankah kita tidak ingin meninggalkan kesan akhir yang tidak kita sukai terhadap saudara kita!?
Wallahu a’lam bish-shawab
Kamis, 18 April 2013
Menasehati jangan memaksa, tapi kalau dinasehat jangan marah
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Sangat MERDU firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-Balad ayat 17, yang artinya;
"…orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. "
Kau hanyalah menasehati… bukan memaksakan…
Maka jika demikian.. si penasehat tidak perlu marah-marah kalau nasehatnya tidak diterima..
Demikian pula, yang dinasehati.. tidak usah marah-marah kepada yang menasehatinya, toh dia hanya menasehati bukan memaksamu.. Tapi perlu engkau ingat… Jika apa yang disampainya adalah kebenearan dan engkau menerimanya, maka kebaikan bagimu.. Jika kau menolaknya, maka dilihat lagi kepada nasehat tersebut: apakah ia adalah suatu kewajiban yang harus engkau tunaikan? atau hanya keutamaan? jika kewajiban, maka berdosalah dirimu.. jika keutamaan, maka lalailah dirimu..
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Sangat MERDU firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-Balad ayat 17, yang artinya;
"…orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. "
Kau hanyalah menasehati… bukan memaksakan…
Maka jika demikian.. si penasehat tidak perlu marah-marah kalau nasehatnya tidak diterima..
Demikian pula, yang dinasehati.. tidak usah marah-marah kepada yang menasehatinya, toh dia hanya menasehati bukan memaksamu.. Tapi perlu engkau ingat… Jika apa yang disampainya adalah kebenearan dan engkau menerimanya, maka kebaikan bagimu.. Jika kau menolaknya, maka dilihat lagi kepada nasehat tersebut: apakah ia adalah suatu kewajiban yang harus engkau tunaikan? atau hanya keutamaan? jika kewajiban, maka berdosalah dirimu.. jika keutamaan, maka lalailah dirimu..
Wallahu a’lam bish-shawab
Tahukan wahai wanita muslimah yang sholehah akibat dari pajang fotomu di akun facebookmu
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Janganlah kau jadikan dirimu sebagai fitnah bagi laki-laki yang beriman, meskipun kau katakan tidak berniat seperti itu. Janganlah kau jadikan dirimu hiasan syaitan. Ketahuilah, bahwa para wanita shalihah yang merindukan Jannah tidak akan pernah rela menjadikan dirinya TONTONAN bagi kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Para wanita yang beriman kepada hari akhir, tidak akan TEGA membuat laki-laki yang beriman terfitnah oleh dirinya. Maka janganlah kau jadikan dirimu sebagai SUMBER FITNAH.
(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu…semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.. apalagi keelokan tubuhmu….
(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang auratnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??
(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…
(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!!
Sebaiknya jangan posting status pakai foto wanita. karena itu merupakan sumber fitnah bagi LAKI-LAKI yang BERIMAN, meskipun kau katakan tidak berniat seperti itu. Janganlah kau jadikan dirimu HIASAN SYAITAN.
Terkadang Facebook kerap menampilkan foto baik... yang Anda upload atau di tagged oleh teman atau rekan. Sering kali foto tersebut tampak memalukan dan tersebar ke seluruh jejaring teman yang ada di Facebook Anda. Untuk itu, berhati-hatilah jika tak ingin citra Anda menjadi buruk.
Seorang Wanita yang menampakkan foto dirinya di internet mungkin telah melanggar larangan untuk tidak tabarruj dan sufur. Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.
Apabilaseorang Wanita menampakkan gambar dirimu di internet lalu dimanakah esensi hijab sebagai al Haya' (RASA MALU). Sebagai seorang muslimah sejati, tentulah saudariku akan berpikir ribuan kali untuk melakukan hal yang demikian. Padahal Rasullullah Shallallahu'alaih wa sallam bersabda yang artinya: "Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlaq dan akhlaq Islam adalah malu" sabda beliau yang lain; "Malu adalah bagian dari Iman dan Iman tempatnya di Surga".
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Janganlah kau jadikan dirimu sebagai fitnah bagi laki-laki yang beriman, meskipun kau katakan tidak berniat seperti itu. Janganlah kau jadikan dirimu hiasan syaitan. Ketahuilah, bahwa para wanita shalihah yang merindukan Jannah tidak akan pernah rela menjadikan dirinya TONTONAN bagi kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Para wanita yang beriman kepada hari akhir, tidak akan TEGA membuat laki-laki yang beriman terfitnah oleh dirinya. Maka janganlah kau jadikan dirimu sebagai SUMBER FITNAH.
(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu…semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.. apalagi keelokan tubuhmu….
(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang auratnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??
(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…
(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!!
Sebaiknya jangan posting status pakai foto wanita. karena itu merupakan sumber fitnah bagi LAKI-LAKI yang BERIMAN, meskipun kau katakan tidak berniat seperti itu. Janganlah kau jadikan dirimu HIASAN SYAITAN.
Terkadang Facebook kerap menampilkan foto baik... yang Anda upload atau di tagged oleh teman atau rekan. Sering kali foto tersebut tampak memalukan dan tersebar ke seluruh jejaring teman yang ada di Facebook Anda. Untuk itu, berhati-hatilah jika tak ingin citra Anda menjadi buruk.
Seorang Wanita yang menampakkan foto dirinya di internet mungkin telah melanggar larangan untuk tidak tabarruj dan sufur. Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.
Apabilaseorang Wanita menampakkan gambar dirimu di internet lalu dimanakah esensi hijab sebagai al Haya' (RASA MALU). Sebagai seorang muslimah sejati, tentulah saudariku akan berpikir ribuan kali untuk melakukan hal yang demikian. Padahal Rasullullah Shallallahu'alaih wa sallam bersabda yang artinya: "Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlaq dan akhlaq Islam adalah malu" sabda beliau yang lain; "Malu adalah bagian dari Iman dan Iman tempatnya di Surga".
Wallahu a’lam bish-shawab
Rabu, 17 April 2013
Dalam 'bersabar' itu terkandung sifat-sifat yang mulia. Sabar adalah salah satu puncak proses perjuangan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Subhanallah! ORANG YANG BISA BERSABAR, pasti MEMILIKI KEMAMPUAN KONTROL DIRI YANG BAGUS. Kecuali sabarnya karena terpaksa. Tapi, itu bukan sabar namanya. Sekadar terpaksa bersabar. KESABARAN hanya bisa dijalankan lewat KEIKHLASAN. Dan keikhlasan muncul karena LATIAHAN yang PANJANG berdasarkan kepahaman.
Maka, orang yang tidak memahami persoalan akan SULIT untuk menjalankan kesabaran. Dalam sabar juga terkandung seni dalam ber-positif-positif thinking. Orang yang negatif thinking, pastilah sulit untuk disuruh bersabar. Karena dia menduga jelek terus. Jadi, ringkas kata, dalam 'kesabaran' itu terkandung sifat-sifat yang baik dan mulia.
"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Al [Fushilat : 35]
Betapa hebatnya 'kesabaran'. Karena itu, Allah lantas menyebutkan, bahwa DIA AKAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG YANG SABAR. Akan tetapi, begitu KESABARAN KITA HILANG, ALLAH PUN 'MENIGGALKAN' KITA. Bagian akhir dari ayat di atas juga menarik untuk dicermati. Bahwa, ORANG YANG BISA BERSABAR dijamin akan MEMPEROLEH KEUNTUNG YANG BESAR. Mereka yang sabar telah mengikuti dan menjalankan proses sunnatullah dengan benar, sehingga pantas memperoleh hasil yang terbaik. Tapi, 'BERSABAR' juga bermakna TAHAN UJI ketika mengalami cobaan. Dia tahu persis bahwa segala macam cobaan itu datangnya dari Allah. Allah ingin menguji seberapa tinggi kualitas kesabaran kita. Karena agama bukanlah teori, jadi harus terlihat dalam praktik kehidupan sehari hari.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Al Baqarah : 155]
Begitulah, KUALITAS BERAGAMA KITA TERLIHAT DARI PRAKTIK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI . BUKAN sekadar PENGETAHUAN AGAMA YANG TINGGI. Demikian pula kesabaran, sebagai salah satu parameter kualitas keagamaan. Bagi orang-orang yang sabar, Allah telah menyiapkan hasil terbaik untuknya. Maka, ayat di atas ditutup dengan : "berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar", BUKAN HANYA KETIKA DI DUNIA ALLAH MENJANJIKAN KEUTAMAAN , MELAINKAN JUGA DI AKHIRAT. Mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bermartabat tinggi dan terhormat, di dalam surga dan bahkan mereka MENDAPATKAN SALAA DARI PARA MALAIKAT.
"Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya."
[Al Furqan : 75]
"…Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [Ar Ra'd : 23-24]
Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahuakbar!
Lebih jauh, orang yang sabar adalah orang yang SELALU MEMPEROLEH PETUJUK ALLAH. Inilah salah satu bukti bahwa Allah selalu bersamanya, dimana pun dan kapan pun. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya, semata-mata berdasarkan pada petunjuk dan bimbingan Allah. Ya, Allah selalu bersamanya.
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka MEYAKINI AYAT-AYAT Kami." [As Sajadah : 24]
Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah berkata dalam bait syair,
Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.
Sabar, juga memiliki keterkaitan erat dengan TAWAKKAL. Orang yang bisa bersabar adalah orang yang bertawakkal. MENGGANTUNGKAN SEGALA PERSOLANNYA KEPADA ALLAH. Tentu saja setelah melakukan usaha keras. Kata 'sabar' dan 'tawakkal' memiliki konotasi yang mirip, yaitu 'aktif berusaha'. tetapi tidak tergesa-gesa dan menyerahkan hasilnya kepada Allah saja. Jika pun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak kecewa karenanya. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik buat dirinya.
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur'an, baik berbentuk isim maupun fi’'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah subhanahu wa ta'ala
1. Sabar merupakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala. "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
2. Larangan isti'jal (tergesa-gesa). "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…" (Al-Ahqaf: 35)
3. Pujian Allah subhanahu wa ta'ala bagi orang-orang yang sabar: "…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 177)
4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)
5. Kebersamaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46)
6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)
Wallahu a’lam bish-shawab
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Subhanallah! ORANG YANG BISA BERSABAR, pasti MEMILIKI KEMAMPUAN KONTROL DIRI YANG BAGUS. Kecuali sabarnya karena terpaksa. Tapi, itu bukan sabar namanya. Sekadar terpaksa bersabar. KESABARAN hanya bisa dijalankan lewat KEIKHLASAN. Dan keikhlasan muncul karena LATIAHAN yang PANJANG berdasarkan kepahaman.
Maka, orang yang tidak memahami persoalan akan SULIT untuk menjalankan kesabaran. Dalam sabar juga terkandung seni dalam ber-positif-positif thinking. Orang yang negatif thinking, pastilah sulit untuk disuruh bersabar. Karena dia menduga jelek terus. Jadi, ringkas kata, dalam 'kesabaran' itu terkandung sifat-sifat yang baik dan mulia.
"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Al [Fushilat : 35]
Betapa hebatnya 'kesabaran'. Karena itu, Allah lantas menyebutkan, bahwa DIA AKAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG YANG SABAR. Akan tetapi, begitu KESABARAN KITA HILANG, ALLAH PUN 'MENIGGALKAN' KITA. Bagian akhir dari ayat di atas juga menarik untuk dicermati. Bahwa, ORANG YANG BISA BERSABAR dijamin akan MEMPEROLEH KEUNTUNG YANG BESAR. Mereka yang sabar telah mengikuti dan menjalankan proses sunnatullah dengan benar, sehingga pantas memperoleh hasil yang terbaik. Tapi, 'BERSABAR' juga bermakna TAHAN UJI ketika mengalami cobaan. Dia tahu persis bahwa segala macam cobaan itu datangnya dari Allah. Allah ingin menguji seberapa tinggi kualitas kesabaran kita. Karena agama bukanlah teori, jadi harus terlihat dalam praktik kehidupan sehari hari.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Al Baqarah : 155]
Begitulah, KUALITAS BERAGAMA KITA TERLIHAT DARI PRAKTIK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI . BUKAN sekadar PENGETAHUAN AGAMA YANG TINGGI. Demikian pula kesabaran, sebagai salah satu parameter kualitas keagamaan. Bagi orang-orang yang sabar, Allah telah menyiapkan hasil terbaik untuknya. Maka, ayat di atas ditutup dengan : "berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar", BUKAN HANYA KETIKA DI DUNIA ALLAH MENJANJIKAN KEUTAMAAN , MELAINKAN JUGA DI AKHIRAT. Mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bermartabat tinggi dan terhormat, di dalam surga dan bahkan mereka MENDAPATKAN SALAA DARI PARA MALAIKAT.
"Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya."
[Al Furqan : 75]
"…Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [Ar Ra'd : 23-24]
Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahuakbar!
Lebih jauh, orang yang sabar adalah orang yang SELALU MEMPEROLEH PETUJUK ALLAH. Inilah salah satu bukti bahwa Allah selalu bersamanya, dimana pun dan kapan pun. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya, semata-mata berdasarkan pada petunjuk dan bimbingan Allah. Ya, Allah selalu bersamanya.
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka MEYAKINI AYAT-AYAT Kami." [As Sajadah : 24]
Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah berkata dalam bait syair,
Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.
Sabar, juga memiliki keterkaitan erat dengan TAWAKKAL. Orang yang bisa bersabar adalah orang yang bertawakkal. MENGGANTUNGKAN SEGALA PERSOLANNYA KEPADA ALLAH. Tentu saja setelah melakukan usaha keras. Kata 'sabar' dan 'tawakkal' memiliki konotasi yang mirip, yaitu 'aktif berusaha'. tetapi tidak tergesa-gesa dan menyerahkan hasilnya kepada Allah saja. Jika pun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak kecewa karenanya. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik buat dirinya.
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur'an, baik berbentuk isim maupun fi’'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah subhanahu wa ta'ala
1. Sabar merupakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala. "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
2. Larangan isti'jal (tergesa-gesa). "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…" (Al-Ahqaf: 35)
3. Pujian Allah subhanahu wa ta'ala bagi orang-orang yang sabar: "…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 177)
4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)
5. Kebersamaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46)
6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)
Wallahu a’lam bish-shawab
Langganan:
Postingan (Atom)



