Opick - Assalamualaikum

Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Menuju Puncak Kesuksesan Dengan Sabar

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Kesuksesan dan keberhasilan tidak semua yang baik dapat dihasilkan dengan cepat dan tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa dan ingin cepat menuju pucak kesuksesan adalah berasal dari setan. Prilaku tergesa-gesa dan ingin cepat sukses menjurus kepada perbuatan yang menyimpang, contohnya korupsi, mencuri serta menipu dll.

Sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk menuju kesuksesan. Padahal sifat tergesa-gesa itu terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Untuk berhasil dan sukses, kita harus bersedia untuk bersabar menanti dampak dari upaya kita. Bukankah rahasia utama untuk mencapai keberhasilan dalam semalam, adalah bekerja keras dan terus berusaha serta berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kesuksesan dan keberhasilan itu butuh proses dan latihan serta belajar dari pengelaman. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkannya, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut."(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan Al-Albani dalam As-Shahihah No. 342)

Kalau kita gagal, jangan menyerah terus berusaha. Sesulit apapun kita alami pasti ada kemudahan. Seperti Janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Quran disurat Al Insyirah ayat 6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan" (Qs.Al Insyirah;94:6)

Untuk mencapai kerhasilan dan kesuksesan, kita harus terus-menerus dalam berusaha walaupun sedikit. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit." ( HR. Muslim no. 783 Dari 'Aisyah radhiyallahu anha)

Seorang trainer pernah mengatakan Kesuksesan besar adalah hasil dari kumpulan kesuksesan-kesuksesan kecil.

Lakukanlah perubahan itu, meski pun kecil, sebab tidak ada yang kecil jika kita melakukan secara terus menerus.

Akhirnya, semua itu tergantung pada diri kita menghadapinya dengan sabar atau tidak?. Bagaimana mengelola mindset serta mental kita ketika mengahadapi perubahan. Sekaligus secara tegas dan berkomitmen berubah hingga meraih apa yang kita impikan

wallahu a'lam bish-shawab

Selasa, 04 Juni 2013

Konsekuen Dengan Apa Yang Diucapakan Maupun Ditulis Di Akun Facebook(Bukan Jago Teori Dan Koar-Koar Saja)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


 Maka dari itu konsistenlah antara ucapan dengan perbuatan

Dalam kehidupan manusia di dunia ini, sering terjadi kesalahpahaman disebabkan ucapan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bersikap konsekuen dan jujur. Dalam pepatah Arab juga dikatakan Salaamatul Insaan Fii Hifdzil Lisaan. Maksudnya, selamatnya manusia itu tergantung dia dalam menjaga lisannya.

Pentingnya penyelarasan antara ucapan dan perbuatan dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah As-Saff Ayat 2-3, yang artinya;

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"

"( Itu ) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." ( Q.S. As-Saff : 2-3 )

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 44, yang artinya;

"Mengapa kamu menyuruh orang lain ( mengerjakan ) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri..." ( Q.S Al-Baqarah : 44 )

Sebagai orang yang beriman, kita harus mampu menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Jangan hanya pandai berbicara, tetapi harus berusaha melakukan apa yang diucapkannya.

Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan kebenaran jika belum mampu melakukannya. Sebagai contoh seorang mubalig mengajarkan dan menganjurkan jamaahnya untuk melakukan ibadah haji. Namun mubalig itu sendiri belum melaksanakannya. Dia belum mampu secara materi. Hal seperti ini bukan termasuk kesalahan meskipun dia sendiri belum melaksanakan ibadah haji tersebut. Haji adalah kewajiban bagi mereka yang mampu. Lain halnya jika mubalig itu sudah mampu tetapi tidak mau.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda
" Orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tetapi dia tidak mengamalkannya maka ia seperti lilin, yaitu ia menerangi orang banyak, tetapi dirinya habis terbakar." (HR. Tabrani)

Untuk mengetahui betapa berat ancaman bagi penganjur atau pengajar kebaikan, tetapi tidak mau melakukannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam. bersabda:
"Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya. (HR. Bukhari no. 3027 dan Muslim No.5305)

Dari hadis itu, jelaslah kiranya betapa besar akibat orang yang tidak selaras antara ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, kita harus memiliki sikap konsekuen dan jujur, yaitu selaras antara ucapan dan perbuatan sehingga terbebas dari ancaman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

wallahu a'lam bish-shawab




Seorang Muslim Disebut Berilmu Harus Mengamalkan Ilmunya (Bukan Jago Teori Dan Koar-Koar Saja)



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


*Disebut berilmu jika mengamalkannya

Sahabat Abu Dar'da radhiallahu anhu berkata,


"Tidaklah seorang berlimu sampai ia belajar (sebelumnya), tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya."[Awa'iqut Thalab hal. 5, syamilah]


Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata,


"Seorang 'Alim (berilmu) itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar 'Alim (berilmu)."['Awa'iqut Thalab hal. 6, syamilah]


*Berusaha mengamalkan ilmu

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

"Tidak pernah aku menulis sebuah hadits pun kecuali aku akan berusaha mengamalkan hadits tersebut. Hingga pada suatu ketika, sampai kepadaku sebuah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berbekam dan memberi upah kepada Abu Thayyibah (tukang bekam) sebanyak satu dinar, maka aku pun memberikan upah satu dinar kepada tukang bekam setiap kali aku berbekam."[Siyar A'laamun Nubala' 9/213]

Asy-Sya'bi rahimahullah berkata,

"Kami berusaha menghapal hadits dengan mengamalkannya dan kami berusaha menuntut ilmu dengan bantuan berpuasa."['Awa'iqut Thalab hal. 6, syamilah]

Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman,

"Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-Waqi'ah: 24]


*Kemurkaan Allah jika sekedar teori dan tidak mengamalkan ilmu

ِAllah Ta'ala berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. ash-Shaff: 3)



Untuk mengetahui betapa berat ancaman bagi penganjur atau pengajar kebaikan, tetapi tidak mau melakukannya.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam. bersabda: 

"Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya." [HR. Bukhari no. 3027 dan Muslim No.5305]

*Ilmu akan ditanya dan dipertanggung jawabkan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan (belanjakan); serta tentang badannya, pada perkara apa dia gunakan."[HR. At-Tirmidzi dan beliau katakan, "Hadits hasan sahih." Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666]

Beliau juga besabda,

"Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. "[HR Muslim no 223]

*Semoga kita selalu bisa mengamalkan ilmu kita

Dengan senantiasa berdoa (terutama sebelum salam shalat) agar kita selalu mendapat bantuan dari Allah agar kita bisa beribadah kepada-Nya.

"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu]." [HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Semoga kita segera sadar bahwa ilmu yang tidak kita amalkan ternyata menunjukkan bahwa niat kita menuntut ilmu tidak benar, bisa jadi pujian dan sanjungan manusia saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

"Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi niat ikhlasnya, pent), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng)."[Al Fawaid hal. 86]

Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Walamdulillahi robbil 'alamin.

*NB;

Akan tetapi kami berharap semoga Allah selalu meluruskan niat kami dan kita semua dalam beribadah dan bedakwah di jalan-Nya.

Kita tidak berharap semoga setiap tulisan tentang ilmu dan yang kami tulis, kamilah yang pertama mempraktekkanya.

Kami berharap setiap status nasehat yang kami posting, kamilah yang pertama melakukannya.


Kami berharap setiap petikan faidah yang kami petik, kamilah yang pertama menerapkannya.


Wallahu a’lam bish-shawab

Rabu, 08 Mei 2013

Berpegang Teguh Kepada Al-Qur'an dan As-sunnah

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh     



  
Berpegang Teguh Kepada Al-Qur'an dan As-sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam Supaya Kita Tidak Sesat

Firman Allah Ta'ala, artinya:

"Dan hendaklah kamu sekalian berpegang teguh kepada kitab Allah Al-Qur'an .. (QS. Ali-Imran : 103).

".. Dan apa jua suruhan yang dibawa oleh Rasulullah kepada kamu, maka ambillah akan dia serta amalkan, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya ..." (QS. Al-Hasyr: 7).

Dari Abu Hurairah, r.a. Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah," (sallallahu alaihi wasallam).
(Imam Malik).

Perintah untuk berpegang teguh kepada As-Sunnah adalah perintah Allah yang banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur'an, sehingga kedudukannya jauh lebih kuat dibandingkan hadits tsaqalain. Sedangkan hadits tsaqalain sendiri pada kenyataannya adalah perintah untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan perintah untuk memperhatikan ahlul bait.

Lalu apa yang dimaksud dengan sunnah disini? As-Sunnah menurut istilah syari'at ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi'il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri (pensyariatan) bagi ummat Islam (Qawaa'idut Tahdits (hal. 62), Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Ushul Hadits, Dr. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, cet. IV Darul Fikr 1401 H, Taisir Muthalahil Hadits (hal. 15), Dr. Mahmud ath-Thahhan)

Contoh-contoh ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk berpegang kepada As-Sunnah

"Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan."(Q.S. An Nisa': 13-14)

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat." (Q.S. Al Ahzab: 36)

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. An Nisa': 69)

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…"
(QS. Al Ahzaab: 21)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (Q.S. An Nisa': 80)

"Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka." (HR. an-Nasa'i)

"Orang yang berpegangan kepada sunahku pada saat umatku dilanda kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid." (HR. Ath-Thabrani)

"Berpegangteguhlah kalian dengan Sunnah-ku dan sunnah para Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk (setelahku)." (HR. Al-'Irbadh bin Sariyah)

"Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid'ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

"Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku." (HR. Bukhari)

Kesimpulan : Berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah diperintahkan oleh Allah dalam Kitabullah, dan Rasul-Nya dala hadits-hadits beliau, sehingga jika kita berpegang kepada Kitabullah, secara otomatis kita wajib berpegang kepada Sunnah Rasul shalallahu 'alaihi wasalam, hal ini menunjukkan perintah berpegang kepada sunnah bersamaan dengan Kitabullah adalah sangat kuat, bahkan seandainya tidak ada satu hadits pun yang memerintahkan hal ini, cukuplah perintah ini kita dapatkan dari Al-Qur'an.



Wallahu a’lam bish-shawab

Jumat, 19 April 2013

Beramal tanpa ilmu ditolak, beramal tanpa niat ikhlas di tolak

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh   


Imam Ghazali berkata: "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia."

Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu tidak tahu ilmunya, maka pekerjaan kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak." (HR Muslim)

Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).

Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan:
wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu // a'maluhu mardudatun la tuqbalu. Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya.

Jelas sekali, kan?

Itu sebabnya, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda; "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim." (Ibnu Majah)

Dasar kewajiban ini, karena Islam menginginkan umatnya mengerjakan sesuatu berlandaskan ilmu yang diketahuinya, sehingga apa yang dikerjakan sesuai dengan al-Qur'an dan Sunah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam . Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah dan amal tanpa ilmu sama halnya perbuatan yang sia-sia.

*****
Yang menjadi ukuran amal seseorang ialah ke"Ikhlasannya".

Membicarakan soal ikhlas haruslah didahului dengan uraian tentang niat, sebab antara keduanya sangat erat hubungannya, tak ubahnya laksana pohon dan bibit.

Niat(ikhlas) itu adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan dan lain-lain. Dia menjadi ukuran yang menentukan tentang baik buruknya sesuatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peranan niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama salaf (dahulu kala) menyimpulkan : "Kerap kali amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya(ikhlas), dan kerap kali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya."

Niat(ikhlas), Iradah atau qashad ialah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan ataupun ucapan tertentu.

Kedudukan niat(ikhlas) itu dijelaskan dalam sebuah hadits

"Dari Amiril Mu'minin Abi Hafsin Umar Bin Khattab r.a berkata : "Saya dengar Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh sesuatu dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah ke arah yang ditujunya itu". (H.R. Bukhari dan Muslim)

Menurut hadits itu tiap-tiap amal perbuatan harus berlandaskan niat yang ikhlas, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah, bergantung kepada niat orang yang mengerjakannya, atau kepada nawaitu-nya. Jika niatnya baik, maka amalnya akan diterima. Sebaliknya kalau niatnya ada "udang dibalik batu", maka amalnya itu pun akan ditolak.

Didalam setiap niat yang penting adalah ikhlas. Arti ikhlas ialah memperindah ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaan-Nya. 


Wallahu a’lam bish-shawab
 

Jika menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata-mata

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh   


JANGANLAH sekali-kali engkau MENUNTUT ILMU dengan MAKSUD untuk BERMEGAH-MEGAH, SOMBONG, BERBANTAH-BANTAHAN, MENANDINGI dan MENGALAHKAN ORANG LAIN(lawan bicara), atau SUPAYA ORANG MENGANGUMIMU. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana MENGUMPULKAN HARTA KEKAYAAN DUNIAWI. Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.

kalau ingin dunia, ingin pujian orang, ingin dihormati, ketika tidak mendapatkan itu dan tidak disandarkan pada Allah, pada saat itulah galau dan stres muncul. Dan syaithan ikut berperan disana membuat kita jadi sombong. PUJIAN DAN SANJUNGAN BISA MENGHANYUTKAN SERTA MEMBUAT TERLENA (LUPA DIRI). Hati-hati dengan pujian & populer, pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'

Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. "Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. " [HR Abu Dawud]

Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda., "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka." [HR Tirmidzi & Ibnu Majah]


 Wallahu a’lam bish-shawab

Rabu, 17 April 2013

Dalam 'bersabar' itu terkandung sifat-sifat yang mulia. Sabar adalah salah satu puncak proses perjuangan

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


Subhanallah! ORANG YANG BISA BERSABAR, pasti MEMILIKI KEMAMPUAN KONTROL DIRI YANG BAGUS. Kecuali sabarnya karena terpaksa. Tapi, itu bukan sabar namanya. Sekadar terpaksa bersabar. KESABARAN hanya bisa dijalankan lewat KEIKHLASAN. Dan keikhlasan muncul karena LATIAHAN yang PANJANG berdasarkan kepahaman.

Maka, orang yang tidak memahami persoalan akan SULIT untuk menjalankan kesabaran. Dalam sabar juga terkandung seni dalam ber-positif-positif thinking. Orang yang negatif thinking, pastilah sulit untuk disuruh bersabar. Karena dia menduga jelek terus. Jadi, ringkas kata, dalam 'kesabaran' itu terkandung sifat-sifat yang baik dan mulia.

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Al [Fushilat : 35]

Betapa hebatnya 'kesabaran'. Karena itu, Allah lantas menyebutkan, bahwa DIA AKAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG YANG SABAR. Akan tetapi, begitu KESABARAN KITA HILANG, ALLAH PUN 'MENIGGALKAN' KITA. Bagian akhir dari ayat di atas juga menarik untuk dicermati. Bahwa, ORANG YANG BISA BERSABAR dijamin akan MEMPEROLEH KEUNTUNG YANG BESAR. Mereka yang sabar telah mengikuti dan menjalankan proses sunnatullah dengan benar, sehingga pantas memperoleh hasil yang terbaik. Tapi, 'BERSABAR' juga bermakna TAHAN UJI ketika mengalami cobaan. Dia tahu persis bahwa segala macam cobaan itu datangnya dari Allah. Allah ingin menguji seberapa tinggi kualitas kesabaran kita. Karena agama bukanlah teori, jadi harus terlihat dalam praktik kehidupan sehari hari.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Al Baqarah : 155]

Begitulah, KUALITAS BERAGAMA KITA TERLIHAT DARI PRAKTIK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI . BUKAN sekadar PENGETAHUAN AGAMA YANG TINGGI. Demikian pula kesabaran, sebagai salah satu parameter kualitas keagamaan. Bagi orang-orang yang sabar, Allah telah menyiapkan hasil terbaik untuknya. Maka, ayat di atas ditutup dengan : "berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar", BUKAN HANYA KETIKA DI DUNIA ALLAH MENJANJIKAN KEUTAMAAN , MELAINKAN JUGA DI AKHIRAT. Mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bermartabat tinggi dan terhormat, di dalam surga dan bahkan mereka MENDAPATKAN SALAA DARI PARA MALAIKAT.

"Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya."
[Al Furqan : 75]

"…Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [Ar Ra'd : 23-24]

Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahuakbar!

Lebih jauh, orang yang sabar adalah orang yang SELALU MEMPEROLEH PETUJUK ALLAH. Inilah salah satu bukti bahwa Allah selalu bersamanya, dimana pun dan kapan pun. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya, semata-mata berdasarkan pada petunjuk dan bimbingan Allah. Ya, Allah selalu bersamanya.

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka MEYAKINI AYAT-AYAT Kami." [As Sajadah : 24]

Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah berkata dalam bait syair,

Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.

Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.

Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.

Sabar, juga memiliki keterkaitan erat dengan TAWAKKAL. Orang yang bisa bersabar adalah orang yang bertawakkal. MENGGANTUNGKAN SEGALA PERSOLANNYA KEPADA ALLAH. Tentu saja setelah melakukan usaha keras. Kata 'sabar' dan 'tawakkal' memiliki konotasi yang mirip, yaitu 'aktif berusaha'. tetapi tidak tergesa-gesa dan menyerahkan hasilnya kepada Allah saja. Jika pun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak kecewa karenanya. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik buat dirinya.


 Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur'an, baik berbentuk isim maupun fi’'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah subhanahu wa ta'ala

1. Sabar merupakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala. "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.

2. Larangan isti'jal (tergesa-gesa). "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…" (Al-Ahqaf: 35)

3. Pujian Allah subhanahu wa ta'ala bagi orang-orang yang sabar: "…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 177)

4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)

5. Kebersamaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46)

6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)



 Wallahu a’lam bish-shawab

Selasa, 16 April 2013

Dalam membaca status yang posting di akun facebook oleh seseorang

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


kalau tidak suka dengan status yang posting di akun facebook oleh seseorang, sebagusnya tindakan sebagai 'seorang muslim yang beriman' adalah; abaikan(ignore) atua lewati saja. Kenapa...? karena, kalau kita comment bisa terjadi perdebatan dan bisa timbul bahaya lisan.
kalau niat ingin meluruskan dan memberi nasehat, cukup satu kali comment. kenapa...? karena sesuai sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam ;

"Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang MENINGGALKAN DEBAT MESKIPUN DIA BERADA DALAM PIHAK YANG BENAR. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya."
(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

kenapa kita MENINGGALKAN DEBAT MESKIPUN BERADA DALAM PIHAK YANG BENAR?

-supaya lisan kita terjaga dari bahaya lisan (Secara umum bahaya lisan ada pada kesalahan dalam berbicara, berdusta, menggunjing (ghibah), adu domba (namimah), bermuka dua (nifaq), berkata-kata kotor, berdebat yang tidak ada gunanya, memuji diri sendiri, membicarakan kebatilan, menyebarkan permusuhan, menyakiti orang lain, menodai kehormatan orang lain, dan sebagainya)
-supaya kita terhindar dari sifat sombong
-supaya kita di jauh sifat gila pujian(Barang Siapa Yang Begitu Girang Dengan Pujian Manusia, Syaithan Pun Akan Merasuk Dalam Hatinya).
-supaya terhindar dari pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'

 kalau status yang posting di akun facebook oleh seseorang membawa manfa'at tinggal mengamalkan




Wallahu a’lam bish-shawab

Dunia maya ini juga milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


Maalik Al-Mulk Raja Segala Raja, Allah pemilik segalanya, kekuasaan dan kerajaan di bumi dan di langit.

Dalam Al-Qur'an yang mengatur tentang gelombang elektromagnetik/frekuensi terdapat pada surat Al-Baqarah ayat ke:255. Gelombang elektromagnetik/frekuensi dipergunakan oleh alat komunikasi, televisi, radio, radar dan internet(dunia maya= facebook, twitter, gmail dll)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya;
"Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Q.s. Al-Baqarah:255)

Jadi dunia maya ini milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Biarpun facebook ini di ciptakan oleh non muslim(yahudi). Maka jangan dianggap main-main untuk berselancar di dunia maya ini.Oleh karena itu apa yang kita posting di dunia maya ini, semua tidak luput dari pengawasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan di minta pertanggung jawaban kelak.

Perhatikan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaaf: 18)

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS.Al-Israa': 36)




Wallahu a’lam bish-shawab

kapan dikatakan ILMU itu BERMANFA'AT bagi pemiliknya yaitu saat ILMU itu harus DIAMALKA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh

 


Sebuah MANFA'AT/FAEDAH yang penting bagi para penuntut ilmu dimana memiliki KEWAJIBAN untuk MENGAMALKAN ILMUNYA. Karena sebelum mendakwahkannya, kita hendaknya mengamalkannya terlebih dahulu. Bagaimana kita bisa mengajak seseorang ke jalan kebenaran, namun kita sendiri tidak mengamalkannya ?

Perlu diingat, ilmu BUKANLAH hanya SEKEDAR HIASAN di lisan dan banyaknya hapalan, namun rasa takut kita kepada Allah Ta'ala. Semakin tinggi kadar ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula kadar rasa takutnya kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, yang artinya;
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang yang berilmu)"[QS.Fathir: 28]

LUPAKAH ? kita terdapat ANCAMAN bagi orang yang TIDAK MENGAMALKAN ilmunya?

Allah Ta'ala berfirman,yang artinya;
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan"[QS. Ash- Shaff : 2-3)]


 Wallahu a’lam bish-shawab

Minggu, 14 April 2013

Ayat-ayat Al Quran Berhubungan dengan ilmu fisika

Ayat-ayat Al Quran Berhubungan dengan ilmu fisika
Gejala Fisis

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.
(Al Imran :190) 

Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain adalah: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali gejala dalam seluruh dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang.

” Hanya kepada Allah lah tunduk/patuh segala apa yang ada dilangit dan di bumi baik atas kesadarannya sendiri ataupun karena terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang”  
(ar Raad :15)


Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kita bahwa apapun nama dan bentuk gejala yang ditunjukan-Nya selalu mengikutisuatu sistem dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.



” Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah diwaktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya. Dan dengan bulan apabila jadi purnama, sesungguhnya kamu melalui tingkat-demi tingkat”. 
(Al Insyiqaaq 16-19) 

Allah SWT menampilkan gejala fisis untuk diartikan sebagai perumpamaan antara lain behwa terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu : pertama, adanya ketidaktahuan kita seperti kita melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya keragu-raguan kita seperti halnya kepekaan kita melihat cahaya merah di waktu senja dan ketiga, ditunjukan-Nya gejala fisis serta penjelasan secara nyata dan membawa isyarat keindahan dan keagungan-Nya.

Model dan Perumusan Fisika



” Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat memetik pelajaran “ 
(az Zumar :27) 



“Kepunyaan Allah lah segala apa yang dilangit dan dibumi, Sesungguhnya Allah, Dialah Maha kaya lagi Maha Terpuji. “
(Luqman :26) 

Untuk memenuhi keingintahuan terhadap rahasia-rahasia alam ini penjelasan-penjelasannya selalu dipakai pendekatan-pendekatan dalam bentuk atau keadaan yang sederhana atau keadaan-keadaan ideal. Keadaan ideal ini dinyatakan dalam bentuk perumusan matematika yang selanjutnya kita sebut sebagai hukum-hukum fisika.


Besaran Fisis

” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.  
(Al Qamar: 49) 


” Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
(Al Furqan :2) 


Kedua ayat diatas mengisyaratkan bahwa kata ” Ukuran” adalah apa yang ada di alam ini dapat dinyatakan dalam dengan dua peran, yang pertama sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian yang terkandung didalamnya dan yang keduanya sebagai hukum atau aturan.


Dimensi dan Ruang

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup ( bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?” 
(Al Fushshilat :53) 

Dalam kata kata “tanda-tanda (kekuasaan) Allah” tersirat sifat dan perilaku seluruh ciptaan Nya dengan berbagai proses dan gejalanya. Adapun yang terkandung dalam pengertian “ufuk”, selain yang berlaku sebagai dimensi ruang juga termasuk dalam makna dimensi-dimensi.

Dinamika


“Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula.”
(Ar Rahman: 60) 

Secara harfiah dapat diartikan bahwa munculnya balasan kebaikan merupakan buah dari interaksi. Dalam ayat ini tersirat pula makna dari pemberian dan balasan berupa potensiyang dimiliki suatu benda.


Usaha dan Energi

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan … 
(ar Rad : 4) 

Secara harfiah diartikan sebagai berdekatan dalam dimendi tempat, sebagi daerah, wilayah, negara dsb. Yang mempunyai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang mengolah, mengembangkan dan meningkatkan.. Berikutnya potensi tersebut saling dipertukarkan baik dari sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.


Impuls dan momentum



” Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakan, dan mereka tidak akan merugikan.”  
(Al Jaatsiyah :22)

Ayat diatas merupakan penjabaran interaksi yang terjadi dialam secara lebih luas lagi. Interaksi tidak sekedar saling pengaruh mempengaruhi, saling memberi dan saling menerima antar manusia, mahluk atau benda.

Getaran




” Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah mahluk yang paling banyak membantah.” 
(Al Kahfi :54) 

Ayat diatas merupakan pernyataan Allah SWT tentang kandungan al Quran yang mengingatkan kita dengan berbagai perumpamaan secara berulang-ulang. Apabila kita perluas makna ayat diatas dengan peristiwa atau gejala fisis bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan wujudnya atau materinya selalu bergerak secara berulang-ulang. Gerak berulang dalam ruang berdimensi satu sering kita sebut sebagai getaran.


Gelombang



” Dan diantara tanda -tanda kekuasaanNya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintahNya dan supaya kamu dapat mencari karuniaNya, mudah-mudahan kamu bersyukur.”
(Ar Ruum : 46) 

Secara umum “angin” disini sebagai angin yang bertiup membawa awan untuk menurunkan air hujan dan angin yang meniup kalpal layar agar dapat berlayar dilautan. Kita merasakan kedekatan makna “angin” dalam ayat ini adalah gelombang, bukan saja gelombang bunyi yang membawa berita tetapi juga gelombang radio atau gelombang elektromagnet yang mampu dipancarkan kesegala penjuru dunia bahkan seluruh jagad raya ini.


Elastisitas

” Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca.”  
(ar Rahman: 7) 

Dalam ayat ini tersirat yang berhubungan dengan kenyataan yang telah diketahui manusia dari berbagai gejala yang terlihat atau telah dilakukan percobaan dan pengukurannya. Dalam kaitan masalah yang akan di bahas di sini, bukan peristiwa pemuaiannya atau keseimbangannya , namun ada suatu sifat yang menertai dalam peristiwa itu yaitu sifat kelenturan atau elastis.


Fluida bergerak atau mengalir


” Dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berakal.
(Al Jaatsiyah : 5) 





” Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi kaum yang berfikir.”  
(Al Jaatsiyah : 13) 


Kedua ayat diatas sangat berkaitan erat dengan teknologi keudaraan.. Diawali dengan ayat 5, dengan terjemahan “tshriifirriyaahi” sebagai perkisaran angin kita dituntun untuk mempelajari sifat fluida yang bergerak atau mengalir. Disambung oleh ayat 13, menegaskan dasar dari teknologi keudaraan.


Suhu dan Kalor


“Dan Dia {menundukan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainnan macamnya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaannya.  
(An Nahl :13) 


Secara harfiah memang kita melihat dan merasakan banyak wujud dan jenis benda yang diciptakan Allah SWT. Dibalik itu banyak juga yang tidak tampak dan berupa sifat atau potensi, antara lain seperti energi yang disediakan untuk manusia. Energi itu termasuk suhu dan kalor.


besi


Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti “besi”, kita diberitahu sebagai berikut:

“…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al Qur’an, 57:25)

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.



Magnet dan Logam



“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”  
(Al Qur’an, 36:36)

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”


RELATIVITAS WAKTU



Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.





Tapi ada perkecualian; Al Qur’an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.”  
(Al Qur’an, 22:47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”  
(Al Qur’an, 32:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”  
(Al Qur’an, 70:4)


Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:


“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.”  
(Al Qur’an, 23:122-114)

Lisensi Dokumen:
Copyright © 2010-2011 Zhuldyn.Wordpress.Com Seluruh dokumen di Zhuldyn.Wordpress.Com
dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan 
komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis
dan menyelipkan copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Diperbolehkan
melakukan penulisan ulang, dengan catatan Menyelipkan Zhuldyn.Wordpress.Com
sebagai sumber.
Belajarlah Untuk Jujur dan Hargailah Karya Orang Lain