Opick - Assalamualaikum

Rabu, 08 Agustus 2012

HATI-HATI BAHAYA LISAN DALAM BERCANDA DI AKUN FACEBOOK,..JANGAN SAMPAI LEWAT BATAS

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim


Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. [al-Ahzab/33:21].

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM JUGA BERCANDA
Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.[Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. [Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahîh.]

CANDA YANG DIBOLEHKAN
Ada kalanya kita mengalami kelesuan dan ketegangan setelah menjalani kesibukan. Atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga atau dengan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam bercanda.

1. Meluruskan Tujuan.
Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan Melewati Batas.
Sebagian orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Dia mempunyai maksud buruk dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.
Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.
Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebagainya.

5. Hindari Perkara-Perkara Yang Dilarang Allah Subhanahu Wa Ta'ala Saat Bercanda.
Tidak boleh bercanda atau bersenda gurau dalam perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya sebagai berikut.

- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda.Ada orang yang bercanda dengan memakai sesuatu untuk menakut-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai topeng yang menakutkan pada wajahnya, berteriak dalam kegelapan, atau menyembunyikan barang milik temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seperti ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5003), dan at-Tirmidzi (2161). Lihat Shahîh Abu Dawud (4183).]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang tidur, datanglah seseorang lalu mengambil cambuknya, dan menyembunyikannya. Pemilik cambuk itupun merasa takut. Sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain.[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5004). Lihat Shahîh Abu Dawud (4184)]

Intinya, tidak boleh menakuti-nakuti seorang muslim meskipun hanya untuk bercanda, terlebih lagi jika dengan sungguh-sungguh.


- Berdusta saat bercanda.
Banyak orang yang dengan sesuka hatinya bercanda, tak segan berdusta dengan alasan bercanda. Padahal berdusta dalam bercanda ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang memperbaiki akhlaknya.

Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tetap berkata jujur meskipun sedang bercanda. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar. [Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir (XII/13443). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (2494)]

Oleh karena itu, tidak boleh berdusta ketika bercanda. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia. [Diriwayatkan oleh Ahmad (V/5), Abu Dawud (4990), at-Tirmidzi (2315). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (7126).]

Apalagi bila dalam candanya itu ia menyebut aib dan rahasia orang lain, atau mencela dan mengejek orang lain.


- Melecehkan sekelompok orang tertentu.
Misalnya bercanda dengan melecehkan orang-orang tertentu, penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, atau bahasa tertentu, atau menyebut aib mereka dengan maksud untuk bercanda dan membuat orang lain tertawa. Perbuatan ini sangat dilarang.


- Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain.
Kadang kala ini juga terjadi, terlebih bila canda itu sudah lepas kontrol. Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu ia mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan keji. Seperti ia mengatakan kepada temannya, ‘hai anak hantu,’ dan kata-kata sejenisnya untuk membuat orang tertawa. Sangat disayangkan, hal seperti ini nyata terjadi di tengah orang-orang kebanyakan dan jahil. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan keterlaluan dalam bercanda, sehingga melampui batas.

6. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.
Banyak orang yang tidak menyukai bercanda seperti ini. Dan seringkali berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Sering kita dengar kasus perkelahian yang terjadi berawal dari canda. Maka tidak sepatutnya bercanda dengan aksi kecuali dengan orang yang sudah terbiasa dan bisa menerima hal itu. Sebagaimana para sahabat saling melempar kulit semangka setelah memakannya. [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad, hlm. 41. Lihat as-Silsilah ash-Shahîhah (436). ]

Adapun bercanda dengan kata-kata yang buruk tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [al-Isra`/17:53].

7. Tidak Banyak Tertawa.
Banyak orang yang tertawa berlebihlebihan sampai terpingkal-pingkal ketika bercanda. Ini bertentangan dengan sunnah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :

“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Seperti yang telah dijelaskan di atas dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha. Banyak tertawa dapat mengeraskan hati dan mematikannya.

8. Bercanda Dengan Orang-Orang Yang Membutuhkannya.
Seperti dengan kaum wanita dan anakanak. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana yang beliau lakukan terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha dan al Hasan bin Ali, serta seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair.

9. Jangan Melecehkan Syiar-Syiar Agama Dalam Bercanda.
Umpamanya celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat al-Qur‘an dan syiarsyiarnya, wal iyâdzu billâh! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekanejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”. [at-Taubah/9:64-65]

Dan mengangungkan syiar agama merupakan tanda ketakwaan hati. Allah berfirman:


Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [al-Hajj/22:32].


Demikianlah, semoga dengan CORETAN ini kita bisa mengetahui kedudukan bercanda dalam pandangan Islam, mengetahui canda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan batasan-batasan yang dibolehkan dalam bercanda. Sehingga kita dapat membedakan antara bercanda yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan.



wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

Selasa, 07 Agustus 2012

ISLAM ADALAH AGAMA YANG BENAR


Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 
Bismillahirrahmanirrahim

Saudaraku sekalian, semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk meniti jalan yang lurus. Bagi umat Islam, kebenaran agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak bisa lagi diutak-atik. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti pasti tergolong orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85). Meskipun demikian, ternyata masih ada juga orang-orang (yang disebut-sebut sebagai cendekiawan) mencoba menularkan penyakit tasykik (peragu-raguan) ke dalam tubuh umat Islam. Mereka berpendapat bahwa semua agama benar berdalih dengan kenyataan pluralisme (kemajemukan) agama yang ada di dunia ini. Nama lain ‘penyakit’ ini adalah inklusivisme, suatu istilah yang terkesan ‘mentereng’ namun menyimpan racun yang mematikan!

Sekilas tentang pluralisme dan inklusivisme

Sebagaimana yang diungkap oleh Dr. Syamsuddin Arif, bahwa pluralisme agama merupakan persenyawaan dari tiga dasar pemikiran : [1] semua tradisi agama-agama besar adalah sama, semuanya merujuk dan menunjuk sebuah realitas tunggal yang transenden dan suci, [2] semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan, [3] semuanya tidak ada yang final. Artinya setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi. Di Indonesia, pluralisme kerap dipadankan dengan inklusivisme. Oleh para pengusungnya, gagasan ini diartikan sebagai paham keagamaan yang mengakui dan menerima kebenaran agama lain. Pada hakikatnya, paham ini sangat berbahaya. Sebab ia mengajarkan bahwa agama Anda [Islam] bukanlah satu-satunya jalan keselamatan. Tidak boleh Anda menganggap penganut agama lain bakal menghuni neraka. Asal mereka beriman dan berbuat baik -apa pun agamanya- bisa saja selamat. Islam berarti penyerahan diri kepada Tuhan, tidak lebih dari itu. Maka siapa pun yang menyerahkan diri kepada Tuhan, meskipun secara formal dia berada di luar agama Islam, boleh disebut Muslim [?]. Jika dibiarkan, –masih menurut beliau- paham-paham ini akan bekerja menghabisi semua agama [!] (Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hal. 82-83 dengan ringkas).

Benarkah semua agama benar?

Pernyataan semua agama benar sesungguhnya pernyataan yang kekanak-kanakan, tidak ilmiah, bahkan tidak masuk akal, dan yang lebih parah lagi bertentangan dengan Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kebenaran itu adalah berasal dari Rabbmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah : 147). Allah juga berfirman tentang kebenaran Al-Qur’an (yang artinya), “Alif lam mim. Ini adalah kitab yang sama sekali tidak terdapat keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian harta yang kami rezekikan kepada mereka. Dan orang-orang yang mengimani kitab yang diturunkan kepadamu (al-Qur’an) dan kitab yang diturunkan sebelummu serta meyakini hari akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5).

Dengan mencermati ayat-ayat di atas dengan pikiran yang jernih, jelas bagi kita bahwa : [1] Kebenaran bersumber dari Allah ta’ala, [2] Allah ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk menuju kebenaran, [3] Al-Qur’an sedikitpun tidak boleh diragukan, [4] Orang-orang yang dapat memetik pelajaran dan bimbingan Al-Qur’an kemudian akan bisa mengaplikasikannya di dalam kehidupan adalah orang-orang yang bertakwa; yaitu yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, [5] di antara ciri orang yang bertakwa itu adalah mengimani perkara gaib [iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, takdir, dsb], mendirikan shalat, menunaikan zakat, membenarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada para rasul sebelum nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam –dan sekarang syariat mereka telah dihapuskan dengan syariat beliau-, dan juga mengimani hari akhirat.

Nah, dengan memperhatikan ini saja maka tampak dengan jelas bagi kita betapa rusaknya keyakinan bahwa semua agama benar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik akan berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di sana selama-lamanya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangannya. Tidaklah ada seorang pun di antara umat manusia ini –Yahudi ataupun Nasrani- yang mendengar kenabianku kemudian meninggal dalam keadaan tidak mau beriman dengan ajaranku kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Alangkah benar sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dan alangkah dusta apa yang dikatakan oleh mereka…

Semuanya menawarkan jalan keselamatan?


Menawarkan jalan keselamatan, semua orang pun bisa. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika penawaran tersebut tidak didukung oleh bukti dan dalil yang sah alias tawaran palsu. Orang Arab mengatakan, “Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, akan tetapi Laila tidak mengakui ucapan mereka”. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka (orang-orang kafir) berkata; ‘Jadilah kamu sebagai penganut agama Yahudi atau Nasrani pasti kamu akan mendapat petunjuk’. Katakanlah [kepada mereka itu] : Bahkan, ajaran yang benar adalah agama Ibrahim yang hanif (bertauhid), dan dia sama sekali bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 135). Kalau memang agama-agama selain Islam dapat mengantarkan kepada keselamatan lantas untuk apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersusah payah berdakwah di Mekah untuk memberantas pemujaan berhala, mendakwahi orang-orang Yahudi dan Nasrani supaya masuk Islam, dan bahkan memerangi mereka? Dan untuk apa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam repot-repot mengajak pamannya Abu Thalib –menjelang kematiannya- untuk mengucapkan syahadat? Aduhai, tampaknya orang-orang yang termakan pemikiran ‘nyleneh’ semacam itu benar-benar tidak memahami sejarah? Atau mungkin saja otak mereka telah dicuci? Allahu yahdiihim.

Hanya ada satu jalan keselamatan

Sesungguhnya orang yang menganggap bahwa semua agama menawarkan jalan keselamatan adalah orang yang telah rusak akalnya, kalau tidak boleh dikatakan gila. Mengapa demikian? Perhatikan saja berbagai macam ajaran agama yang ada di dunia ini yang satu sama lain saling bertentangan. Orang-orang Nasrani menganggap Nabi Isa ‘alaihis salam adalah anak Tuhan, sementara umat Islam menganggap beliau adalah hamba dan rasul-Nya kepada kaumnya. Orang-orang ahli kitab menaati pendeta dan rahib dalam memutarbalikkan hukum Allah, sementara kaum muslimin menaati para ulama selama tidak untuk bermaksiat kepada Allah. Orang-orang musyrik meyakini bahwa doa mereka tidak akan sampai kecuali dengan perantara sesembahan mereka selain-Nya, sedangkan orang-orang beriman meyakini bahwa Allah Maha mengabulkan doa hamba-Nya, apa pun kedudukan mereka. Bagaimana mungkin ajaran yang saling bertentangan ini bisa dikatakan semuanya menawarkan jalan keselamatan?

Allah ta’ala mengajarkan kepada kita –melalui Sunnah nabi-Nya- agar berdoa di setiap rakaat shalat kita, “Ya Allah, tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6). Jalan yang lurus itu tidak lain adalah Islam dengan segala rincian syariat yang ada di dalamnya, yang bersih dari penyimpangan dalam hal ilmu maupun amal. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain sebab itu akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’aam: 153). Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan hakikat shirathal mustaqim. Hakikat dari jalan yang lurus itu adalah; jalan yang Allah hamparkan untuk hamba-hamba-Nya agar mereka bisa sampai kepada-Nya. Tidak ada jalan untuk menemui-Nya kecuali jalan itu. Semua jalan akan tertutup dan buntu bagi manusia selain jalan Allah itu yang telah diterangkan melalui lisan para rasul-Nya dan Allah jadikan jalan itu mengantarkan hamba untuk menjumpai-Nya (di akhirat kelak). Hakikat dari jalan itu adalah mengesakan Allah dalam hal peribadahan dan menunggalkan rasul-Nya dalam hal ketaatan. Sehingga tidak boleh sesuatupun disekutukan dengan Allah dalam hal ibadah kepada-Nya, dan tidak boleh mengangkat manusia manapun untuk disekutukan dengan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ketaatan… (Dinukil dari Fath Al-Majid, hal. 25).

Islam sudah final dan gamblang

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dia lah Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas semua agama. Meskipun orang-orang musyrik itu tidak menyukainya” (QS. Ash-Shaff: 9). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19). Apakah makna Islam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam yaitu kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke baitullah jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.” (HR. Muslim). Lalu di manakah Islam pada diri para pemeluk agama Yahudi dan Nasrani kalau demikian?
Maka teranglah bagi kita bahwa pernyataan ‘siapa pun yang menyerahkan diri kepada Tuhan, meskipun secara formal dia berada di luar agama Islam, boleh disebut Muslim’ tidak lebih daripada kedustaan atas nama agama Islam, dusta atas nama Allah, atas nama rasul-Nya, dan atas nama para ulama!! Padahal berbicara tentang agama tanpa ilmu merupakan dosa yang sangat-sangat besar! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan berbagai perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa haq, mempersekutukan sesuatu dengan Allah padahal tidak ada sama sekali hujjah yang Allah turunkan untuk mendukungnya, dan kalian berkata-kata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-A’raaf : 33).

Bukankah mereka juga beriman dan berbuat baik?

Sebagian orang yang sudah termakan oleh penyimpangan yang satu ini bisa saja mengatakan, “Bukankah mereka (Yahudi dan Nasrani serta pemeluk agama lain) juga beriman dan berbuat baik? Padahal, Allah menjanjikan keberuntungan bagi orang yang beriman dan berbuat baik.”

Saudaraku, marilah kita cermati hal ini dengan pikiran yang jernih. Apakah makna iman dan apa yang dimaksud dengan berbuat baik atau amal saleh? Karena boleh jadi pemahaman kita tentang iman masih terbatas pada keyakinan bahwa Allah itu ada, atau amal saleh adalah berbuat baik kepada sesama manusia belaka. Padahal ternyata kedua istilah itu tidak sesempit yang mereka sangka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim). Keimanan kepada Allah meliputi keimanan kepada rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Sedangkan keimanan kepada rasul ialah dengan membenarkan beritanya, menaatinya, dan beribadah kepada Allah dengan syariatnya.

Oleh sebab itu amal tidak dinamakan sebagai amal saleh kecuali jika memenuhi 2 syarat ; ikhlas/bertauhid dan mengikuti tuntunan, tidak tercampur syirik dan bukan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari agama kami maka tertolak.” (HR. Muslim). Apabila orang-orang kafir dan musyrik berbuat baik kepada sesama di dunia –tapi mereka tetap bertahan di atas kekafirannya- maka Allah akan membalas kebaikan mereka itu di dunia saja, sementara di akhirat Allah mengharamkan mereka masuk ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maa’idah: 72). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menginginkan kesenangan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami akan menyempurnakan balasan atas amal mereka di sana (di dunia), dan mereka di sana sama sekali tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kelak kecuali neraka, dan lenyaplah seluruh yang mereka lakukan dan sia-sialah amal yang dulu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

Di akhir tulisan ini, pantaslah jika kita semua mau merenungkan nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah ajaran yang aku tinggalkan untuk kalian ini apa adanya. Sesungguhnya sumber kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka suka mempertanyakan dan sering menyelisihi nabi-nabi mereka…” (HR. Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah meninggalkan kalian di atas (hujjah) yang sangat jelas, malamnya bagaikan siangnya. Siapa saja yang menyimpang darinya setelah aku hidup, pasti dia akan binasa.” (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 937 mengatakan bahwa hadits ini shohih) Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka semoga Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya. Bukan ajaran Nabi yang perlu dikritisi dan direvisi, namun akal kitalah yang seharusnya diperbaiki.

wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

DALAM DISKUSI JANGAN SALING MENGOLOK-OLOK

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 

Bismillahirrahmanirrahim
DALAM DISKUSI JANGAN SALING MENGOLOK-OLOK

...seperti yangg terjadi disalah "satu Blog dan Akun Facebook(maupun Grub & Page) di dalam Status serta Note" saudara kita sungguh sangat kita sayangkan…

"Kalau Terjadi Perbedaan Pendapat, Mari Saling Menghargai"

Pendapat Imam Syafi'i:
"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah"

Maka kalau Tidak Sesuai Dalam Berdiskusi. Apabila Terjadi Saling Mengolok-Olok,.. Bagusnya Ditinggalkan,..Walaupun Anda Benar!!!

Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (QS Hujurat:11)

Berdiskusilah dengan baik!

Bagaimana?

1. Jangan mencela
Hendaknya kita mengingat kembali nasehat Rasulullah shalallhu'alaihi wasallam:
"Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menzhaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya" (HR.Muslim dan lainnya)
Dalam hadist lain juga ditegaskan
"Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur" (HR.Bukhari dan Muslim)
Dan juga hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan, tulisan kita akan dicatat dan dimintai pertanggung-jawaban
"Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid". (QS. Qaff : 18)
Nah, yang sering jadi masalah, kadang sulit dibedakan antara mencela dan menasehati....
tidak ada ruginya antum menyimak tulisan ini

2. Jangan bicara tanpa ilmu
Telah kita ketahui dari dalil-dalil di atas, diskusi yang tercela adalah diskusi tanpa ilmu, meskipun antum merasa di pihak yang benar. ALLAH mencela orang seperti ini:
"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat." (Al-Hajj: 3)
Dan ilmu yang dimaksud tentulah Al Qur'an dan Hadist. Jangan gemar berdiskusi tentang agama kalau antum tidak memiliki pengetahuan hadits dan Qur'an. Yang harus dilakukan orang seperti ini adalah: banyak bertanya.

3. Gunakan bahasa yang baik
Jika kita merasa di atas al haq, merasa di atas ilmu, tunjukkanlah ilmu antum itu telah membuahkan akhlak yang mulia. Buktikan itu dengan bahasa yang baik, sopan. Karena demikianlah akhlak para anbiya dan 'ulama.
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah swt?" (Al Fushilat : 33)
Jika kita melihat kesalahan pada saudara kita, dan kita memang ingin membuatnya sadar akan kesalahannya, bukankah disini lebih HARUS menegurnya dengan bahasa yang baik?? Bagaimana mungkin seseorang akan tersadar dari kesalahannya jika ia hanya ditahdzir dan dicela saja?

4. Sampaikan saja, jangan memaksa
Jika kita melihat ada saudara kita yang terjerumus ke dalam kesalahan. Maka kewajiban kita adalah menyampaikan. Bukan tanggung jawab kita nantinya ia sadar atau tidak. Apakah kita berharap saudara kita itu sadar setelah di nasehati 1 atau 2 kali? Didalam forum diskusi? Sungguh kewajiban kita hanya menyampaikan, soal hidayah ditangan ALLAH.
"Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka" (QS Ar Ra'du: 40)

5. Tidak membalas, bukan berarti kalah
Seringkali ana perhatikan di antara dudunger yang berdebat saling me-reply terus, bantah, dibantah lagi, dan seterusnya. Seolah-olah ia berpikiran "Ah, kalo ga dibantah lagi nanti saya dibilang kalah". Subhanallah, tanya lagi pada hati kita tentang tujuan berdiskusi di sini: mau menyampaikan nasehat atau jadi jawara debat?

wallahu a'lam bish-shawab
By : Mencari Rezky

AYAH KITA SEBAGAI PEMIMPIN., MAKA IKUTI AJAKAN ' AYAH ' UNTUK MENUTUP AURAT,..WAHAI WANITA MUSLIMAH

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 
Bismillahirrahmanirrahim

"Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke Neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke Neraka."

Haruskah kau menyalahkan ayah semata-mata karena dia tidak memberi penekanan yang tegas kepadamu sebagai seorang perempuan? Adakah kau tidak menyayangi ayahmu? Sanggupkah kau biarkan ayahmu masuk Neraka HANYA KARENAMU? Mengapa tidak mau kau sendiri yang berubah karena kau ingin menjauhkan ayah dari Neraka?
Bila kau tak pedulikan itu, sungguh kau SANGAT KEJAM jika kau sengaja biarkan ayahmu ditarik ke dalam Neraka. Dia ayahmu, dia ayahmu, dia ayahmu. Selangkah ayahmu ingin masuk ke Syurga kau tarik dia ke Neraka. Selangkah lagi ayah menuju ke Syurga kau tarik dia ke Neraka. Kasihanilah ayahmu.
Tidakkah kau sayang dan kasihkan ayahmu??
Sanggupkah kau biarkan ayah di Neraka sendirian HANYA KARENAMU??

"Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya."
(HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)


wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky


RONTOKNYA HAK ISTERI KARENA NUSYUZ (DURHAKA) KEPADA SUAMI

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 
Bismillahirrahmanirrahim
 


 Nusyuz secara kebahasaan diartikan “tempat yang tinggi”, yaitu sikap ketidakpatuhan yang muncul dari isteri ataupun suami. Dalam kitab Lisanul Arab – Ibnu Manzur (630 H) mendefenisikan nusyuz adalah “rasa kebencian salah satu pihak (suami atau isteri) terhadap pasangannya”. Sedangkan Fikih Islam Waadillatuhu – Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily – guru besar Fikih dan Usul Fikih Universitas Damaskus – Siria, mengartikan nusyuz adalah “ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi dan/atau rasa benci terhadap pasangannya”. Dengan kata lain, nusyuz berarti tidak taatnya suami/isteri kepada aturan-aturan yang telah diikat oleh perjanjian yang telah terjalin dengan sebab ikatan perkawinan, tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.
Dengan demikian, ketidakpatuhan, kedurhakaan, pembangkangan terhadap sesuatu yang memang tidak wajib untuk dipatuhi, seperti suami menyuruh isteri untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt, atau isteri menuntut sesuatu di luar kemampuannya, maka sikap ini tidak dapat dikategorikan kepada nusyuz – karena Nabi Saw bersabda: Tidak ada kepatuhan kepada makhluk untuk ma’siat kepada khaliq (Allah Swt).
Nusyuz bisa terjadi dari pihak isteri, sebagai dasar hukumnya adalah firman Allah Swt:  

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz¬nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka dan jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. an-Nisa’: 34).

Adapun dasar hukum nusyuz dari pihak suami terhadap isteri adalah firman Allah Swt: 

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. an-Nisa’: 128).

Jika nusyuz terjadi secara bersamaan dari kedua belah pihak (isteri dan suami), maka tidak dikategorikan kepada nusyuz, akan tetapi dikategorikan kepada syiqaq yang berarti perselisihan dan percekcokan, permusuhan yang berkepanjangan dan meruncing antara suami dan isteri, maka penyelesaian yang dilakukan untuk mengatasi kemelut yang berkepanjangan tersebut adalah dengan mengangkat hakim (penengah atau juru damai) guna mencari akar permasalahan dan juru damai yang dimaksud dapat diangkat dari pihak suami dan isteri atau dari pihak luar keluarga selama tujuan damai dapat dicapai, dan dasar hukum syiqaq ini terdapat di dalam surat an-Nisa’ ayat 35.

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Maka jika tujuan damai tidak tercapai, para ulama Fikih berbeda pendapat tentang kebolehan menjatuhkan talak (cerai) karena semata-mata pertimbangan syiqaq. Mazhab Hanafi, tidak membolehkan menceraikan isteri karena alasan syiqaq, karena masih dapat diselesaikan lewat pengadilan untuk diberi nasehat oleh haki agar suami/isteri tidak lagi mengulangi sikapnya yang dapat menimbulkan perselisihan yang baru. Mazhab Maliki, membolehkan terjadinya perceraian atas pertimbangan syiqaq, karena syiqaq menimbulkan mudarat dalam rumah tangga dan mudarat dapat dihilangkan melalui perceraian lewat pengadilan atau wewenang suami.

Sedangkan Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily berpendapat, pasangan suami/isteri yang berseteru berkepanjangan (syiqaq) tidak selamanya dapat diselesaikan tanpa perceraian, maka pengadilan dapat memutuskan untuk terjadinya perceraian dan putusan hakim terhadap perceraian akibat syiqaq, talaq yang dijatuhkan berstatus ba’in sughra, yakni suami bisa kembali kepada bekas isterinya dengan akan nikah yang baru (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz: 7 hal.529).

Kembali kepada persoalan nisyuz. Nusyuz dapat terjadi dalam bentuk perkataan dan tindakan. Nusyuz perkataan dapat terjadi jika seorang isteri tidak berbicara sopan kepada suaminya, seperti memaki-maki suaminya, atau menjawab secara tidak sopan terhadap pembicaraan suaminya yang bersikap santun kepadanya. Sedangkan nusyuz dalam perkataan bagi pihak suami kepada isterinya adalah menghina isterinya, atau membentak-bentak isterinya yang telah menjalankan tugasnya sebagai isteri.

Adapun nusyuz dalam bentuk perbuatan, dari pihak isteri misalnya tidak mau pindah ke rumah yang telah disediakan oleh suaminya, tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya dalam batas-batas tertentu sebagai tugas seorang isteri, keluar rumah tanpa izin suami, tidak mau melayani suaminya sedangkan dia tidak dalam keadaan uzur atau sakit. Sedangkan nusyuz dari pihak suami adalah mengabaikan hak-hak isterinya atas dirinya, seperti, tidak memberikan nafkah lahir batin pada isteri atau berfoya-foya dengan perempuan lain, atau menganggap sepi atau rendah terhadap isterinya.

Jika seorang isteri mengalami perlakuan nusyuz dari suaminya, maka isteri dapat melakukan dua hal, yakni: Pertama, bersabar terhadap perlakuan suaminya, karena dengan sikap sabar akan dapat menimbulkan kesadaran pada suaminya, jika membalas dengan perlakuan yang sama, maka kedua-duanya akan terjebak kepada nusyuz, dan pada gilirannya akan membawa kepada syiqaq dan syiqaq akan membawa kepada perseteruan yang berkepanjangan. Kedua, isteri dapat melakukan khulu’, yaitu kesediaan untuk membayar uang iwad (uang pengganti) agar suami bersedia untuk menceraikannya.

Sebaliknya, jika suami mengalami perlakuan nusyuz dari pihak isterinya, maka suami dapat melakukan empat hal, yakni: 


Pertama, memberikan nasehat kepada isteri agar bertaqwa kepada Allah Swt, dan nasehat diawali mengintrospeksi dirinya sendiri karena boleh jadi sikap nusyuz isteri timbul akibat sikap suami sendiri. 

Kedua, berpisah ranjang dan tidak saling tegur sapa (sebagai lanjutan dari tahapan pertama jika tidak berhasil di nasehati) dan tidak lebih dari tiga hari, berdasarkan Sabda Nabi Saw: Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidka bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam ((HR. Abu Daud dan Nasai).

Ketiga, memikulnya dengan tidak sampai mencederai, tidak boleh memukul wajah dan perut, dan dengan alat yang tidak membahayakan. Nabi Saw bersabda: Tidak dibenarkan salah seorang kamu memukul dengan pemukul yang lebih dari sepuluh helai lidi, terkecuali untuk melakukan hal-hal yang ditetapkan (hudud) Allah (HR. al-Bukhari Muslim). 

Keempat, adalah tahap yang diberikan untuk menyelesaikan syiqaq, yaitu mencari juru damai, hingga sampai ke pengadilan untuk melakukan perceraian.

Adapun konsekuensi hukum akibat nusyuz isteri terhadap suaminya adalah gugur kewajiban suami memberi nafkah kepada isteri nusyuz selama dalam nusyuznya, dan apabila suaminya meninggal dunia, isteri tidak mendapat warisan, terkecuali harta pembawaan sebelum terjadi akad nikah. Apabila jika seorang isteri murtad (na’uzubillāh), maka terputuslah hak untuk mendapat warisan, dan jika ada harta pembawaannya, tidak diwarisi tapi diserahkan kepada Baitul Mal (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz 8 hal.408). alasan dari semua itu adalah karena nafkah adan warisan merupakan nikmat Allah, maka tidak dibenarkan mendapatkan dengan jalan kedurhakaan dan kemaksiatan.



wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

SALING MENASEHAT DALAM KEBAIKAN


Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 
Bismillahirrahmanirrahim
 
 
 Nasihat membawa maksud yang dinasihati akan mendapat faedah daripada nasihat yang telah diberi. Ia juga membawa erti bahawa yang menasihati hendaklah menggunakan perkataan yang terbaik dan ikhlas bersih dari maksud yang tidak baik. “Siapa yang memberi nasihat dengan memandang dirinya baik, maka dia akan berdiam diri apabila berbuat kesalahan. Dan siapa yang memberi nasihat, kerana memandang (apa yang ia ucapkan) sebagai kebaikan dari Allah untuk dirinya, maka dia tidak berdiam diri apabila berbuat kesalahan.”

Nasihat sebenarnya boleh diberikan oleh sesiapa saja kepada siapapun dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan menghindari kesalahan, boleh berupa mengajak kepada kebaikan atau saling mengingatkan. Nasihat tidak selalu disampaikan dalam bentuk ceramah, dan juga tidak selalu harus disampaikan oleh seorang Ulama atau seorang Kiayi dan tidak harus selalu disampaikan dalam sebuah forum keagamaan. 
 
Dari Abi Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda, 
“sesungguhnya agama itu nasihat , sesungguhnya agama itu nasihat , sesungguhnya agama itu nasihat“, mereka (sahabat) bertanya siapa yang berhak nasihat ya Rasulullah ? bersabda (Nabi) “Bagi Allah dan bagi kitabnya Allah, dan bagi utusannya dan bagi imamnya orang muslim dan bagi umumnya muslim“

Memberi nasihat untuk dijadikan teladan baik dalam rangka mengajak kepada kebaikan sesama hamba Allah adalah perbuatan yang utama. Akan tetapi memberi nasihat kerana merasa diri kita adalah orang baik, berilmu dan soleh, adalah perbuatan yang kurang baik. kerana, apabila suatu waktu ia tergelincir kedalam perbuatan jelek atau salah menyampaikan nasihat, maka akan tumbuh perasaan malu kerana bersalah, yang menyebabkan ia akan bersikap diam atau tidak lagi memberi pelajaran atau nasihat-nasihat.

Akan tetapi apabila nasihat yang dijalankan dan pelajaran yang disampaikan didasarkan kerana wajib menyampaikan ajaran Allah, atau kerana apa yang ia sampaikan adalah anugerah dan rahmat serta izin Allah semata, maka ketika ia khilaf kerana tergelincir lidah atau salah ucapan, atau sikap yang tidak pada tempatnya, atau berbuat suatu kesalahan di mata masyarakat, ia tidak merasa malu, serta terus menyampaikan ajaran dan nasihat. Ia tidak berhenti, kerana yang ia sampaikan adalah ajaran yang benar, dan kerana izin rahmat Allah untuknya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengajak kepada kebaikan…

1. Sampaikan nasihat atau ajakan kepada kebaikan dengan hati yang tulus ikhlas, semata-mata kerana Allah.

2. Berniatlah dalam hati bahwa ajakan yang di laksanakan semata-mata melaksanakan kewajiban yang diizinkan Allah dalam rangka dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar.

3. Hindarkan perasaan dari dalam hati, bahwasanya apa yang disampaikan dan nasihat yang diberikan, adalah kerana kepandaian dirinya sendiri, kecekapan dirinya sendiri, kecekapan pembicaraannya sendiri, atau ilmu yang ia kuasai. Perasaan seperti ini akan melahirkan rasa angkuh, kemudian bersifat riya’, yang akan merosak hati dan amal ibadah kita.

4. Kekuatan tekad di dalam jiwa, bahwasanya nasihat dan tabligh yang akan disampaikan dan yang telah disampaikan, banyak atau sedikit kerana ingin mencari Redha Allah semata, melalui jihad dakwah yang terpikul dipundaknya.

5. Buatlah sebuah rencana atau cara penyampaian melalui pendekatan yang efektif, sesuai dengan kemampuan masing-masing, agar apa yang disampaikan diterima oleh Masyarakat, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

6. Hendaknya apa yang disampaikan, sudah difahami dan dihayati, dan jika belum difahami dengan benar mengenai apa yang akan disampaikan, hendaknya dipelajari terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh.

7. Semata-mata apa yang disampaikan, baik berupa nasihat atau ajakan, hendaklah sudah dijalankan terlebih dahulu atau ia sedang menjalankan apa yang disampaikannya, dengan maksud bersama-sama mencari kebaikan di Jalan Allah.

8. Selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Dengan nasihat dan ajakan kepada kebaikan, seseorang dapat berubah dari yang tidak faham menjadi faham, dari yang lupa menjadi ingat, dari salah menjadi sedar kerana diingatkan dan dari tidak baik menjadi baik. Tentunya semua itu tidak terlepas dari Kehendak Allah SWT, kerana upaya kita hanyalah terbatas dalam mengajak atau saling menasehati, selebihnya untuk urusan hati dan apakah orang yang diajak menerima atau tidak, tergantung daripada upaya orang yang diajak tersebut apakah menerima, atau menolaknya, kerana, hanyalah Allah Yang Maha Kuasa dan membolak-balikkan hati manusia.
 
Adab-adab memberi nasihat

1. Meluruskan niat sebelum menasihati seseorang supaya tidak ada yang berasa disakiti. Ikhlas menasihati saudara semuslim semata-mata kerana Allah. Seharusnya seorang yang ingin memberikan nasihat itu perlulah bersih dari segala bentuk niat yang terpesong kerana ia akan memberi kesan ke atas nasihat yang ingin diberikan. Janganlah menasihati seseorang itu kerana ingin menunjukkan kitalah orang yang benar, tetapi tegurlah kerana ingin mengajak sahabat ke jalan yang benar.

2. Menjaga ukhuwah semasa menasihati. Diusahakan supaya menasihati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain. Sebahagian ulama berkata, “Barangsiapa yang menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua, maka itulah nasihat yang sebenarnya. Barangsiapa yang menasihati saudaranya di depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan mencelakan orang yang dinasihati.” Islam mengajar umatnya supaya mempunyai akhlak yang tinggi. Dalam hal menasihati juga terdapat perkara ini. Ini menunjukkan bahawa Islam amat menjaga hati dan maruah orang yang dinasihati supaya tidak berlaku perpecahan kerana perkara nasihat.

3. Bersih hati semasa menasihati. Menggunakan bahasa yang halus dan menegur hanya untuk perkara-perkara yang salah. Kadang-kadang kita sering menggunakan perkataan yang sangat teruk untuk meluahkan nasihat kita. Dalam ceramah-ceramah dan kuliah-kuliah yang berbentuk menasihati, kita lebih gemar menyatakan salah orang lain seolah-olah mereka yang melakukan perkara tersebut sangat jahat dan sudah tiada ruang untuk bertaubat. Seharusnya selaku seorang pendakwah, nasihat adalah senjata utama yang perlu digunakan sebaiknya.

4. Memikirkan cara yang terbaik untuk menasihati saudara. Seboleh-bolehnya mengenali dulu saudara yang bakal kita nasihati itu. Nasihatilah mereka dengan kasih sayang dan jadilah sebahagian dari mereka, kerana dari situ kita akan tahu apa puncanya mereka begitu.

5. Memberi waktu dan kesempatan kepada saudara yang dinasihati untuk mengubah sifat buruk/ kesalahan yang dilakukannya. Manusia perlukan masa untuk berubah, jangan memaksa mereka untuk berubah mendadak, ia bukan dalam lingkungan tugas seorang pendakwah. Dalam berdakwah perlu akan sifat sabar dan berserah kepada Allah. Jadilah orang yang sentiasa mengharap pertolongan Allah dan jangan mudah putus asa di atas nasihat yang diberikan kerana itu mungkin ujian yang telah ditentukan oleh Allah untuk menguji kesabaran.

Sebagaimana peringatan dari Allah SWT dalam QS Al-‘Asr (103) 1-3 
“Demi waktu ‘asr sesungguhnya manusia niscaya dalam keadaan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal solih dan saling wasiat (nasihat) untuk menetapi barang hak , dan saling berwasiat dengan kesabaran.”
Semoga kita senantiasa di bawah lindungan Allah SWT yang Maha Esa...

.
wallahu a'lam bish-shawab
 
By : Mencari Rezky

Senin, 06 Agustus 2012

Kenapa Pria Kaya Menikahi Wanita Yang Wajahnya Biasa Saja

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Seorang gadis mengirim surat ke sebuah majalah terkenal. Gadis tersebut sangat cantik dan sangat populer di lingkungan sekitarnya. Karena dianggap unik, majalah terkenal tersebut lalu memuat tulisan itu dengan judul “Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan pria
kaya?”.

Dibawah ini surat gadis cantik tersebut: ↓

Maaf jika sedikit menyindir, tetapi saya hanya mencoba jujur dengan apa yang saya pikirkan selama ini. Saya berumur 25 tahun, sangat cantik, dan punya selera fashion yang sangat bagus. Saya ingin menikah dengan seorang pria yang berpenghasilan minimal 500 ribu dollar per tahun.

Anda mungkin berpikir saya matre, tetapi persyaratan yang saya ajukan tersebut sebenarnya sangat wajar. Tahukah Anda jika penghasilan 1 juta dollar per tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York? Saya hanya mengajukan syarat separuhnya sehingga saya kira cukup masuk akal.

Adakah diantara pembaca majalah ini yang punya penghasilan minimum 500 ribu dollar per tahun? Apa kalian mau menikah denganku? Yang ingin saya tanyakan ialah apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti Anda?

Pria terkaya yang pernah kencan dengan saya hanya berpenghasilan 250 ribu dollar per tahun. Saya yakin Anda tahu, penghasilan segitu tidaklah cukup untuk hidup di pemukiman elit City Garden, NewYork.

Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan di mana saya bisa bertemu pria lajang kaya? Pria umur berapa yang harus saya cari? Kenapa kebanyakan istri orang-orang kaya hanya berpenampilan ‘standar’? Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan ‘tidak menarik’, tetapi mereka justru mendapatkan pria kaya.

Bagaimana cara Anda, para pria kaya, mengambil keputusan siapa yang kelak menjadi istri dan siapa yang hanya pantas menjadi pacar?

(Si Cantik)

***

Tidak disangka, tulisan yang berisi banyak tantangan tersebut ditanggapi oleh banyak pria kaya dengan serius.

Di bawah ini adalah balasan dari seorang pria kaya yang bekerja di Finansial Wall Street: ↓

Saya sangat bersemangat saat membaca surat Anda. Saya rasa banyak gadis di luar sana yang punya pertanyaan sama dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi yang Anda alami, tentunya dari sudut pandang seorang profesional. Penghasilan saya per tahun lebih dari 500 ribu dollar, sesuai dengan syaratmu, jadi saya tidak main-main dengan balasan saya ini.

Menurut saya, jika dipandang dari sisi bisnis, menikahi Anda adalah sebuah keputusan yang salah. Jawabannya mudah, Saya akan coba menjelaskannya.

Saya menarik kesimpulan bahwa Anda telah menempatkan “kecantikan” dan “uang” adalah dua hal yang sederajat, di mana Anda mencoba menukar kecantikan dengan uang. Pihak A menyediakan kecantikan dan Pihak B membayar untuk itu, hal yang masuk akal. Tetapi, ada masalah besar di sini, yaitu kelak kecantikan Anda akan hilang. Faktanya, penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tetapi Anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Dan sebagai seorang pebisnis saya tidak akan merelakan uang saya hilang tanpa alasan yang jelas.

Jika dipandang dari sudut ekonomi, saya adalah aset positif yang selalu meningkat dan Anda adalah aset negatif yang selalu menyusut atau liabilitas. Bahkan, saya bisa berkata bahwa penyusutan aset yang Anda miliki bukan hanya penyusutan normal, tetapi penyusutan eksponensial. Jika Anda menganggap kecantikan sebagai aset, tentunya nilai Anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang.

Setiap aset selalu memiliki nilai tukar. Kecantikan Anda juga memiliki nilai tukar. Berdasarkan aturan yang kita gunakan di Wall Street, jika nilai tukar sebuah aset selalu turun maka aset tersebut harus segera dilepaskan. Menyimpan aset menurun dalam jangka waktu lama adalah ide yang sangat buruk. Maaf jika terdengar kasar, tetapi semua pria kaya tahu bahwa setiap aset dengan nilai depresiasi besar harus segera dijual atau setidaknya “disewakan”.

Anda seharusnya tahu bahwa pria dengan penghasilan lebih dari 500 ribu dollar per tahun pasti bukanlah pria bodoh. Kami mungkin mau berkencan dengan Anda, tetapi tidak untuk menikahi Anda. Saya menyarankan agar Anda melupakan saja ide untuk mencari cara menikahi pria kaya. Lebih baik Anda menjadikan diri Anda orang kaya dengan pendapatan lebih dari 500 ribu dollar per tahun. Hal ini lebih bagus daripada mencari pria kaya bodoh yang mau menikahi Anda.

Mudah2an balasan ini dapat membantu dan menyadarkan anda

(J.P. Morgan)**

**J.P Morgan adalah pendiri salah satu bank terbesar di Amerika yaitu J.P Morgan Chase Bank

(Kata Mutiara)

***

Kecantikan fisik hanya sebatas kulit. . .cepat memudar. . .lama-lama orang bisa bosan. Tapi orang yg cantik akhlak yg terbaik. . .menenangkan di saat gelisah. . . menyejukan di saat gerah. . .

Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??

Faham Syariat = CANTIK
Tidak Faham Syariat = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?.

Dari Abu Hurairah, Rosullalloh saw bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan amal kalian (HR. Muslim)

Mari kita simak syair indah dibawah ini:

Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum
Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga
Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu

Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik. . .Karena memiliki hati yang cantik
Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya

. . .Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada. . .Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang. . .

Semoga Bermanfaat

Silahkan saudara-saudariku yang baik, yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin, Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamin …
wallahu a'lam bish-shawab
By : Mencari Rezky