Opick - Assalamualaikum

Jumat, 16 November 2012

JANGAN SUKA MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh. 
Bismillaahirrahmaanirrahiim


Entah mengapa, ada dari kita  yang selalu punya kecenderungan untuk menjadi sosok yang gemar sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya boleh-boleh saja mengkritik teman atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya kita tetap menghormati orang yang kita kritik.  Karena itu dalam menyampaikan informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya kita menyampaikannya dengan cara yang baik, ramah dan lembut. Dan jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat kita dengan cara yang baik, santun dan bijak.

Berkatalah yang baik atau diam. Ya, kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tidak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi)   Lalu dalam hadist lain disebutkan: “Allah SWT memberi rahmat keapda orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR. Ibnul Mubarak)
Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb.

Dalam mengkritik, kita harus bijak,  kita juga harus memusatkan perhatian pada kemampuan orang yang kita kritik. Carilah satu kelebihan dalam diri orang tersebut. Walaupun tampaknya dimata kita kemampuannya kecil/sepele dan kita masih bisa jauh lebih baik dari orang tersebut. Namun, cobalah bertanya pada diri sendiri, bagaimana bila kita berada di posisi orang yang kita kritik, tanpa mempertimbangkan sedikitpun,  kebenaran dan kemampuannya?

Kita juga harus memeriksa kembali apa motif kita mengkritik (tanyakan dengan jujur pada diri sendiri). Dan tanyakan juga apa keuntungan yang kita raih setelah mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Karena, apabila yang namanya kritik itu, hanyalah sebuah upaya untuk menonjolkan konsep tentang diri sendiri.  Atau kadang untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dari orang yang kita kritik (yang kita cari-cari kesalahannya, kelemahannya). Jika motif kita seperti itu, maka segeralah berhenti untuk mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Ketahuilah, tidak ada orang yang luput dari salah dan khilaf, dan begitupun diri kita.

Daripada kita terus menerus menyibukkan dan melelahkan diri kita dengan mengorek-ngorek dan mencari-cari kesalahan dan kelalaian orang lain, yang bisa kita jadikan senjata untuk menyerangnya, bukankah lebih baik kita berpikir positif. Coba tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, sudah mampukah kita berbuat lebih baik dari orang yang kita kritik atau kita cari-cari kesalahannya? Caranya hanya satu, yakni dengan pembuktian, lakukanlah ”sama persis” ”segala hal” yang dilakukan orang yang kita cari-cari kesalahannya. Kita buktikan pada diri sendiri dan dunia, apakah kita bisa melakukannya sama dengan orang yang kita cari-cari kesalahan/ kekurangannya, atau kita bisa melakukannya lebih baik dari orang tersebut? Semua ini hanya bisa diketahui dengan ”pembuktian”.

Istilahnya, jangan cuma sekedar bisa meng-kritik atau mencari-cari kesalahan orang lain saja, coba lakukan terlebih dahulu, ”semua hal”  yang dilakukan orang yang kita kritik atau yang kita cari-cari kesalahannya, kemudian lihat hasil yang kita capai, apakah hasil yang kita capai lebih baik darinya, sama dengannya atau lebih buruk darinya? Mampukah kita berbuat seperti dia, sebaik dia, atau lebih baik dari dia? Dan kalaupun ternyata kita memang mampu berbuat lebih baik daripada orang yang kita cari-cari kesalahannya/kritik, maka bersyukurlah, jangan sampai hal tersebut  menjadikan kita ujub dan tidak berarti hal tersebut membolehkan kita meneruskan mencari-cari kesalahan orang lain, perhatikanlah hadits-hadits shahih terkait.

Seorang ahli hikmah berkata, aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya. (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni. M.A.)

Kita sebagai umat islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya apalagi berusaha mempermalukan orang tersebut didepan umum, dengan menggunakan ilmu/kepandaian kita.

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini:

 ”Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no (6064) dan Muslim, no (2563).

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujuraat [49] : 12)

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini:
Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)
Abdullah bin Umar ra menyampaikan hadits yang sama, ia berkata,
 ” suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :”Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman  itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum  muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurat  mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurat saudaranya sesama  muslim, Allah akan mencari cari auratnya. dan siapa yang dicari cari  auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880.  hadits shahih)  

(keterangan: yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib/cela atau cacat, kejelekan dan kesalahan. Dilarang mencari cari kejelekan/kesalahan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia – tuhfatul Ahwadzi).

Dari hadits di atas dapat digambarkan dengan jelas pada kita betapa besarnya kehormatan  seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdullah bin Umar ra memandang Ka’bah, ia berkata:
 ” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Allah darimu. (HR Tirmidzi no. 2032)
Jadi, sebaiknya kita memelihara perkataan dan perbuatan kita, memang tampaknya enak dan menyenangkan mengkritik orang lain, apalagi bila kita bisa menemukan celah dari hasil kita mengorek-ngorek kesalahan orang yang kita kritik, karena hal tersebut bisa kita jadikan senjata untuk melontarkan kritik kita. Tapi sebelum itu semua, cobalah terlebih dulu berusaha menjadi orang yang kita kritik, sangat penting untuk “melakukan sama persis, semua hal  yang dilakukan orang yang kita kritik dan yang kita cari-cari kesalahannya”  kita buktikan terlebih dahulu hasil pencapaian kita, apakah hasil yang kita capai sebaik dia, lebih baik dari dia, atau lebih buruk dari dia.

Bagi seorang mukmin yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah, wajib mengerti bahwa “perkataan” itu termasuk amalannya yang kelak akan dihisab: amalan baik maupun buruk. Karena pena Ilahi tidak meng-alpakan, tidak pernah lalai ataupun menghapuskan satupun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal. Ingatlah bahwa semuanya, kelak harus kita pertanggungjawabkan.


Wallahu a'lam bish-shawab

Nasehat buat para pemuda dan remaja muslim.

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim




Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim.

Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim,

Agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya,

Agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi. 

Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya?

Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?

Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wa ta’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal.
Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?

Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan.

Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.

Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.


Umurmu Tidak Akan Lama Lagi

Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya.

Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).

Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini?

Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala

tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.

Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wa ta’ala.

Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. 

Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.

Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan.

Ingatlah akan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)


Bersegeralah dalam Beramal

Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)

Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.

Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini.

Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)

Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?

Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat nanti.

Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri,

sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala?

Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?

Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan?

Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.

Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.


Jauhi Perbuatan Maksiat

Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala.

Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka.

Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)

Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan.

Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian.

Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)

Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.


Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu

Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar.

Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama,

mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengenal agama Islam ini,

mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.

Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama.

Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)


Akhir Kata

Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua.

Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian,

sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)


Wallahu  a’lam bish-shawab

Rabu, 14 November 2012

Nasehat dan kritikan itu, merupakan sedekah yang teramat berharga bagi setiap muslim

Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim




Bahkan orangtua, guru, sahabat serta atasan kita di kantor sering menasehati untuk me

nghindari mengeluarkan kata-kata yang kasar, menyakitkan, memojokkan, merendahkan, mempermalukan, serta untuk menghindari pula nada suara yang keras lagi berlebihan. Kita harus menjaga perilaku dan etika yang terbaik sehingga akan menyenangkan siapapun.

Sahabat, apa yang segera terlintas di benak kita ketika mendengar orang berkata, " saya ingin mengkritik saudara!" Biasanya, perasaan orang langsung menjadi tidak enak. Seakan-akan bakal ada penyerangan dan gangguan yang mengancam kehormatannya. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga dirinya dan mencemarkan nama baiknya. Lalu, muncullah reaksi pada diri kita baik berupa pikiran, perasaan maupun sikap tubuh secepatnya untuk membela diri daripada menikmati kritik itu sendiri. Kita cenderung sungkan menerimanya.

Apakah kita merasa takut dan terhina hanya karena dikoreksi. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai keinginan kita. Ada kalanya benar isinya benar, caranya salah. Ada masanya isinya benar dan caranya pun benar. kadang terjadi, isinya salah caranya sudah benar. Dan yang tak mustahil, isinya salah juga caranya salah!

Dalam menerima kritik, kita butuh beberapa trik yang dapat membuat kritik itu efektif sebagai sarana pembangunan kemuliaan. Kita harus bisa memosisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi dan rindu dinasehati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus.
  • Kritik itu penting
  • Kritik itu kunci kesuksesan dan kemajuan
  • Kritik membuka prestasi dan membuka derajat, dan kritik merupakan jalan untuk menuju lebih baik.

Kita harus berterima kasih atas kebaikan kritikannya tersebut dan jangan dilupakan pula selalu sertakan namanya dalam doa-doa kita. Semoga Allah SWT. membalas kebaikannya yang telah bersudi hati meluangkan waktu buat membantu perbaikan diri kita. Memaafkan kesalahannya, andaipun dia salah dalam menyampaikan kritik. Yang rugi adalah mereka yang salah dalam menyikapinya dan justru kehinaan itu ada pada orang yang tak mau memperbaiki diri setelah menerima kritikan.

Merasa diri tak sempurna itu wajar sebab memang selain menganugerahi kelebihan, Allah juga menitipkan hal yang kita sebut "kekurangan".

Yuk sahabat, kita niatkan bahwa kita menginginkan perubahan dan jangan merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang beruntung dan mudah-mudahan Dia senantiasa mendekatkan kita dengan orang-orang yang mau dengan tulus memberikan kritikannya dan menganugerahi kita kelapangan hati untuk mendengar kritik. Dan semoga kerendahan hati juga dapat menjadi jalan keselamatan hidup kita. Kita harus amanah dengan ilmu dan pengalaman yang kita miliki agar orang lain bertambah ilmunya, wawasannya, pengalamannya. Bukankah sebuah kenikmatan tersendiri bila kita bisa berbuat sesuatu untuk orang lain dengan tulus dan ikhlas.

Sebuah Kritik Dapat Membantu Anda Untuk Berubah.

Orang-orang berpikiran positif selalu menjadikan kritik sebagai guru yang mengajari mereka, untuk menghindarkan diri dari risiko dan tindakan yang salah. Mereka akan memahami isi dan makna kritik yang disampaikan. Lalu, meresapi, mengintrospeksi, serta menjadikannya sebagai energi perbaikan kualitas dan integritas diri. Sebaliknya, orang-orang berpikiran negatif akan menanggapi kritik dengan marah dan cara-cara tidak terpuji. Mereka tidak akan pernah punya nurani dan akal sehat, untuk dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab dalam memahami, meresapi, atau pun menjadikan kritik sebagai bahan renungan untuk memperbaiki sikap, perilaku, kebiasaan, moral dan mental.

wallahu a'lam bish-shawab

Selasa, 13 November 2012

Bergaul di Ranah Maya Sebagaimana di Ranah Nyata Tetap Saja Ada Rambu-Rambunya.


Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh.....
Bismillahirrahmanirrahim.....


Disadari atau tidak, dunia maya telah melahirkan bentuk komunikasi baru Silaturahmi, beramah tamah, bertegur sapa, menyampaikan pesan, bertukar informasi, dan mendapatkan teman haru, betapa mudahnya untuk dilakukan. Duduk di depan komputer, terhubung dengan Internet maka seluruh dunia dapat dijangkau hanya dalam sekejap. Bahkan kini, cukup dengan handphone dalam genggaman, semua model komunikasi yang kini tenar dengan nama jejaring sosial atau pertemanan makin menghidupkan dunia modern ini.

Namun berkomunikasi dalam dunia maya tetap saja ada aturan yang tak bisa disepelekan. Dalam dunia nyata, kita mengenal adab berinteraksi. Menjaga Iisan, menjaga pandangan, dan menjaga perilaku. Begitupun dalam dunia maya. Hal ini perlu diperhatikan karena karakter media online seperti jejaring sosial memang seperti itu, terbuka. Maka "bergaul di ranah maya sebagaimana di ranah nyata tetap saja ada rambu-rambunya".

Satu hal yang kadang melalaikan seseorang ketika berinteraksi dalam dunia maya adalah adab.
Sesungguhnya adab-adab berinteraksi dalam dunia nyata berlaku sama ketika kita memasuki dunia maya. Yang membedakan hanya kemudahannya saja. Namun kadang hal itu luput dari kesadaran kita, entah karena lalai, keasyikan, atau memang tidak menyadari pola interaksinya. Sehingga seringkali terjadi, dalam dunia maya pun timbul konflik yang muncul dari buruknya cara berinteraksi. Merasa tidak bertatap muka Iangsung, yang terjadi adalah lepas kendali dalam menuliskan kata-kata.

Seperti dalam salah satu situs jejaring sosial yang kini makin digandrungi, Facebook, orang merasa bebas mengungkapkan isi hati dan berbagi cerita, hingga lupa bahwa bisa jadi ada kesalahpahaman persepsi dalam mengartikan kata-kata. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kadang orang terlalu gamblang menuangkan kehidupan pribadi dalam situs pertemanannya. Cerita soal pribadi dan kegiatan sehari-hari di Multiply misalnya. Padahal sebagai seorang Muslim, adab-adab berinteraksi harus dilekatkan di manapun kita berada. Bukan hanya sekadar mensosialisasikan kehidupan pribadi.

Tentu ada norma-norma Islam yang harus dijunjung tinggi ketika berkomunikasi dalam dunia maya. Sebab
dunia maya sendiri bukan sekedar dunia di luar realita. Saat menggunakan fasilitas audio chat misailnya, tetap menjaga ungkapan lisan dan cara bertutur kata menjadi kewajiban walaupun orang yang kita ajak bicara hanya terpampang fotonya saja. Apalagi bila bicara dengan mengaktifkan web Kamera. Begitu pula kita harus sigap menata hati untuk terus menerus mengingat berada di bawah “ pengawasan Allah “ agar bisa torhindar dari pergaulan maya yang melalaikan. Bercanda, saling ejek, saling goda hingga muncul-muncul efek negatif yang tidak diinginkan. Dengan sesama jenis bisa timbal intrik, dengan lawan jenis bisa tumbuh bibit perselingkuhan.

Karenanya perlu diperhatikan juga nahwa walaupun di dunia maya, bukan berarti adab-adab yang berlaku di dalamnya maya pula alias tidak nampak. Adab-adab yang berlaku di dalamnya maya pula alias tidak nampak. Adab-adab pergaulan dalam dalam dunia maya pun harus jelas mencirikan sebagai seorang Muslim yang beradab. Jangan sampai ketika di dunia maya maka adab yang selama ini dijunjung tinggi di kesampingkan. Seperti misalnya, ada kasus-kasus yang melanggar batas pergaulan dalam Islam, terjadinya perselingkuhan, hubungan tanpa status, bahkan sampai berlaku kriminal.


Diperlukan kondisi ruhiyah yang baik.

Mengedepankan adab Islam, inilah salah situ sikap bijak dalam menggunakan akun jejaring pertemanan. Lantas bagaimana adab Islam memanfaatkan jejaring sosial dunia maya ini.

Pertama tentulah dimulai dari niat. Itu yang harus diluruskan. 

“Sepertinya sepele. Masak mo fesbukan aja pake niat . Tapi kita memang harus memulainya dengan niat menebar kebaikan supaya jadi amal shaleh,”

Untuk tujuan apa kita membuka sebuah akun pertemanan? Apakah sekedar iseng, mengikuti tren, atau memang ada nilai lebih yang ingin disampaikan. Kalau hanya sekedar ikut-ikutan dan mengisi “status” dalam facebook yang tidak ada manfaatnya sebaiknya niat itu harus dikembalikan ke jalur yang benar. Karenanya ketika ada orang-orang tertentu yang salah langkah dalam menggunakan jaring pertemanan dunia maya ini, sebenarnya niatnya sudah salah. “Besar kemungkinan niat mereka sewaktu bergabung dengan jaring sosial dunia maya ini belum benar atau berubah di tengah jalan karena keasyikan. Atau bisa jadi akibat cultural dan, keterlambatan budaya. Maka yang timbul adalah masyarakat kita belum bisa memanfaatkan situs jejaring sosial ini selayaknya.”

“Sayang memang, apabila teknologi secanggih ini tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya hanya dengan rnengindahkan adab pertemanan. urerkadang mengabaikan etika sehingga teknologi tidak membantu menjodi lebih balk matah menimbulkan efek-efek negatif,” 

Kedua, isilah ‘status’ dalam jejaring sosial yang kita ikuti dengan kata-kata yang penuh inspirasi, 

Bukan dengan kata-kata yang tidak jelas. Atau kalimat yang sekedar bilang ,”lagi kebeleeeet bangetssss.”

Namun bukan berarti, kita perlu berkata-kata ‘garing’ di dalam bergaul di dunia maya. Hanya saja, perlu disesuaikan formatnya. “Jaringan sosial itu kan punya karakter sendiri. la adalah sarana bergaul, bukan sarana taklim atau ceramah. Lalu pesan-pesan kita harus dikemas secara komunikatif. Saya pun bila merespons komentar teman-teman di jaringan sosial seringkali tidak saya jawab dengan langsung mengemukakan dalil tapi saya uraikan dengan renungan dan refleksi saya sendiri. Dengan begitu dialog akan terasa lebih akrab. Tidak berkesan menggurui tapi lebih berkesan ‘curhat’. Dan satu hal lagi, jawabannya juga tidak perlu panjang-panjang. Setelah lawan bicara menanggapi positif pesan kita baru kita berikan dalil syar’inya.”

Ketiga, selektif. Selektiflah dalam memilih teman dan dalam berkomentar. 

“Saya selalu berupaya tidak mengkonfirmasi orang yang minta dijadikan teman bila ia tidak jelas. Misalkan, foto profilnya tidak berupa foto tapi gambar-gambar yang tidak jelas, namanya terlihat dibuat-buat, dan lain-lain. Juga selektiflah dalam berkomentar. Kadang banyak komentar-komentar yang tidak perlu dikomentari. Ada pula yang bila dikomentari hanya akan memperpanjang debat kusir dan mengotori hati. Jauhi dialog seperti ini. Dan satu hal yang bisa menjaga kualitas selektifitas kita adalah tarbiyah ruhiyah yang baik,”

Memang, karakter jaringan sosial adalah sangat bebas. Baik buruknya tergantung pemakai. Maka untuk terhindar dari efek negatif maka kita harus memiliki self control yang kuat. Self control yang kuat dapat kita peroleh lewat tarbiyah ruhiyah yang intensif. Dengan tarbiyah ruhiyah, nurani kita akan peka dengan keburukan-keburukan yang mungkin muncul sewaktu kita menggunakan jaring sosial.

Interaksi dalam dunia maya memang mengharuskan memiliki kondisi ruhiyah yang baik. Kondisi ruhiyah yang baik akan mengontrol kita agar menggunakan jaring sosial dengan baik dan efektif.

“Ruhiyah yang baik akan melahirkan mata hati yang bersih yang peka dengan keburukan. Kepekaan
ini sangat perlu karena dalam jaring sosial batas antara sombong, narsis, atau tidak, sangat tipis. Dan hanya hati yang bersihlah yang mampu mendeteksi dan membedakan apakah tindakan kita wajar atau tidak,” 



wallahu a'lam bish-shawab

Minggu, 11 November 2012

Kebanggaan orang ber-IMAN adalah: MENGENDALIKAN LIDAHA

Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh.....
Bismillahirrahmanirrahim.....


"Berpikir baik-baik sebelum melangkah atau mengucapkan sesuatu, karena bertindak atau berbicara yang tidak tepat waktu dan sasaran justru akan berakibat buruk. Adakalanya kita harus melangkah, adakalanya kita harus diam"



Kenapa begitu? Kebanggaan orang ber-IMAN adalah: MENGENDALIKAN LIDAH

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya
(Riwayat Bukhori dan Muslim)

Penjelasan:
Kalimat "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat", maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, "maka hendaklah ia berkata baik atau diam" karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :

"...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya". (QS. Al Isra' : 36)

dan firman-Nya:
"Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid". (QS. Qaff : 18)

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
"Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya".

Beliau juga bersabda :
"Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah kemungkaran".

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

wallahu a'lam bish-shawab

Pembagian Waris Menurut Islam

Hukum Fiqih - Hukum Fiqih   

Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh.....
Bismillahirrahmanirrahim.....

Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya, kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris.

Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada, kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris.

Contoh Cara Pertama

Seseorang wafat dan meninggalkan istri, anak perempuan, ayah, dan ibu. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar, maka pembagiannya seperti berikut:
Pokok masalahnya dari 24, istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian, anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian, ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian, sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah.
Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24), berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.
Jadi,
bagian istri
3 bagian
x
20 dinar
=
60 dinar

Anak perempuan
12 bagian
x
20 dinar
=
240 dinar

Ibu
4 bagian
x
20 dinar
=
80 dinar

Ayah ('ashabah)
5 bagian
x
20 dinar
=
100 dinar




Total
=
480 dinar
Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan, ibu, suami, cucu perempuan keturunan anak lelaki. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian, suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian, dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Tabelnya seperti berikut:


2


12 24
Cucu perempuan keturunan anak lelaki
1/2 6 12
Suami 1/4
1/4 3 6
Ibu 1/6
1/6 2 4
2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair)
1 2
Adapun nilai per bagian; 960 dinar: 24 = 40 dinar. Jadi, bagian masing-masing ahli waris:
Jadi,
Cucu pr. keturunan anak lelaki
12
x
40 dinar
=
480 dinar

Suami
6
x
40 dinar
=
240 dinar

Ibu
4
x
40 dinar
=
160 dinar

Dua saudara kandung perempuan
2
x
40 dinar
=
80 dinar




Total
=
960 dinar
Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan, dua anak lelaki, ayah, ibu, dan tiga saudara kandung lelaki, dan harta peninggalannya 3.000 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian, ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian, dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak, dengan ketentuan bagian lelaki dua kali lipat bagian perempuan, berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian), sedangkan bagian anak lelaki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian), sedangkan saudara kandung lelaki mahjub. Simak tabel berikut:


2


6 12
Empat anak perempuan

4 4
Dua anak lelaki

3 4
Ayah
1/6 1 2
Ibu
1/6 1 2
Tiga saudara kandung lelaki (mahjub)
- -
Adapun nilai per bagiannya adalah 3.000:12 = 250 dinar
Jadi,
Jadi bagian 4 anak perempuan
4
x
250 dinar
=
1.000 dinar

dua anak lelaki
4
x
250 dinar
=
1.000 dinar

ibu
2
x
250 dinar
=
500 dinar

ayah
2
x
250 dinar
=
500 dinar




Total
=
3.000 dinar
Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dua saudara lelaki seibu, dan nenek. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.900 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3, saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3, dua saudara lelaki seibu memperoleh 1/3 berarti 2, sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). Perhatikan tabel berikut:


6 9
Suami
1/2
3
Saudara kandung perempuan
1/2
3
2 Saudara lelaki seibu
1/3
2
Nenek
1/6
1
Adapun nilai per bagiannya adalah 9.900: 9 = 1.100 dinar
Jadi,
Suami
3
x
1.100 dinar
=
3.300 dinar

Saudara perempuan kandung
3
x
1.100 dinar
=
3.300 dinar

Dua saudara lelaki seibu
2
x
1.100 dinar
=
2.200 dinar

Nenek
1
x
1.100 dinar
=
2.200 dinar




Total
=
9.000 dinar
Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami, ibu, dua anak perempuan, 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki, satu cucu lelaki dari keturunan anak lelaki, sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar, maka pembagiannya seperti berikut:
Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian), dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian).
Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah, sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. Perhatikan tabel berikut:

12 13
Suami
1/4 3
Ibu
1/6 2
Dua anak perempuan
2/3 8
Tiga cucu perempuan dari anak laki-laki
1 cucu laki-laki dari anak laki-laki
'ashabah -
Jadi,
Suami
3
x
585:13 dinar
=
135 dinar

Ibu
2
x
585:13 dinar
=
90 dinar

Dua anak perempuan
8
x
585:13 dinar
=
360 dinar




Total
=
585 dinar
Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung, cucu perempuan keturunan anak lelaki, ibu, suami, sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24, cucu perempuan keturunan anak lelaki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian), dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah.


12 24
Cucu pr. ket. anak lelaki
1/2 6 12
Ibu
1/6 2 4
Suami
1/4 3 6
Dua saudara kandung ('ashabah)

1 2
Cucu pr. ket. anak lelaki
12
x
240:24 dinar
=
120 dinar
Ibu
4
x
240:24 dinar
=
40 dinar
Suami
6
x
240:24 dinar
=
60 dinar
Dua saudara kandung ('ashabah)
2
x
240:24 dinar
=
20 dinar



Total
=
240 dinar
Misal lain, seseorang wafat dan meninggalkan ibu, dua saudara kandung perempuan, saudara perempuan seayah, saudara lelaki seayah, dan cucu perempuan keturunan anak lelaki. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1.500 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6, ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian), cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian), dan sisanya --dua bagian-- menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Sedangkan ahli waris yang lain ter- mahjub. Inilah tabelnya:


6
Ibu
1/6 1
Cucu pr. ket. anak lelaki
1/2 3
Dua saudara kandung pr. ('ashabah)

2
Saudara perempuan seayah,
Dua saudara lelaki seayah (mahjub)

-

Masalah Dinariyah ash-Shughra

Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid, yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum perempuan, dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar.
Contoh masalahnya, seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri, dua (2) orang nenek, delapan (8) saudara perempuan seayah, dan empat (4) saudara perempuan seibu. Harta peninggalannya: 17 dinar. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian), dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian), kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian), sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar, jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17, dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. Berikut ini tabelnya:


12 17
Ke-3 istri
1/4 3 masing-masing 1 bagian = 1 dinar
Kedua nenek
1/6 2 masing-masing 1 bagian = 1 dinar
Ke-8 sdr. pr. seayah
2/3 8 masing-masing 1 bagian = 1 dinar
Ke-4 sdr. pr. seibu
1/3 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar

Masalah Dinariyah al-Kubra

Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar, sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar, dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra.
Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya, seseorang wafat meninggalkan istri, ibu, dua anak perempuan, dua belas saudara kandung lelaki, dan seorang saudara kandung perempuan. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung lelaki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah.
Jadi, bagian
Istri
3
x
600:24 dinar
=
75 dinar

Ibu
4
x
600:24 dinar
=
100 dinar

Kedua anak perempuan
16
x
600:24 dinar
=
400 dinar




Total
=
575 dinar
Sedangkan ke-12 saudara kandung lelaki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak lelaki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung lelaki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya:


25


24 600
Istri
1/8 3 75
Ibu
1/6 4 100
Kedua anak perempuan
2/3 16 100
12 saudara kandung laki-laki
1 saudara kandung perempuan ('ashabah)
1
24
1
Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, perempuan tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu.
Kendatipun perempuan tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang."
Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.


Pembagian Waris Menurut Islam
oleh Muhammad Ali ash-Shabuni
penerjemah A.M.Basamalah
Gema Insani Press, 1995
http://luk.staff.ugm.ac.id/