Opick - Assalamualaikum

Tampilkan postingan dengan label Mencari Rezky. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mencari Rezky. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Beberapa panduan dari Al-Qur'an dan Al Hadith tentang mencari rezeki yang berkat


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

  Panduan dari Al-Qur'an


“Barang siapa bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan (keperluannya) .” Surah at-Thalaq : ayat 3

“Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” Surah Ibrahim : ayat 7

“Tetapi mereka telah mendustakan ( tidak patuh kepada hukum Islam), maka kami rampas dari mereka apa-apa yang telah mereka usahakan.” Surah Al-A’raf : ayat 96

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang bertakwa.” Surah Thahaa : ayat 132

“(Nabi Hud berkata: wahai kaumku, minta ampun kepada tuhanmu dan bertaubatlah kepadaNya, nescaya ia akan menghantar kepada kamu air hujan yang lebat dan menambahkan kekuatan kamu, dan jangan kamu kembali menjadi orang-orang yang berdosa.” Surah Huud : ayat 52

“dan nikahkanlah orang-orang bujang dari kalangan kamu, dan orang-orang soleh dari hamba lelaki dan hamba perempuan kamu. Dan jika mereka orang-orang yang fakir nescaya Allah akan menjadikan mereka kaya, dan Allah sangat luas dan sangat mengetahui.” Surah An-Nur : ayat 32

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”. Surah Saba’ : ayat 39

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (bakhil); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan kurnia. Dan Allah Maha Luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.” Surah Al Baqarah : ayat 268

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya kerana memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” Surah Al -Baqarah : ayat 273

“dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperolehi (balasan) yang lebih banyak.” Surah Al Muddatsir : ayat 6

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, nescaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak……. ” Surah An Nisaa’ : ayat 100

“Wahai sekalian manusia, makanlah dari apa yang ada di muka bumi yang halal lagi baik”. Surah al-Baqarah : ayat 168

  Panduan dari Al Hadith


“Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah akan memanjangkan umurnya.” (Hadis Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim)

“Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya nescaya terputuslah rezeki (Allah) daripadanya.” (Hadis Riwayat al-Hakim dan ad-Dailami)

“Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Hadis Riwayat Bukhari)
“Carilah untukku orang-orang lemah kerana hanya kita diberi rezeki dan dibantu sebab orang-orang lemah dari kalangan kamu.” (Ahmad, Muslim, Ibnu Hibban, Al Hakim)

“Allah taala membantu umat ini hanyalah sebab orang-orang lemah mereka, sebab doa mereka, solat mereka dan ikhlas mereka.” (Riwayat AnNasaie, sahih)

“Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah akan menunaikan hajatnya…” (Hadis Riwayat Muslim)
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya.” (Hadis Riwayat Bukhari)
Seorang Arab desa menemui Rasulullah SAW dan meminta pedoman mengenai beberapa perkara termasuk mahu dimurahkan rezeki oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Sentiasalah berada dalam keadaan bersih (dari hadas) nescaya Allah akan memurahkan rezeki.” (Diriwayatkan daripada Sayidina Khalid al-Walid)

“Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

“Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.” (Hadis Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abu Hurairah r.a.)

“Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, nescaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, nescaya Allah menyedikitkan baginya.” (Riwayat ad-Daruquthni dari Anas r.a.)

“Tidak bertambah umur seseorang kecuali jika dia melakukan kebaikan, dan tidak akan ditolak qadar Allah (iaitu qadar al-Mu’allaq) kecuali melalui doa, dan sesungguhnya seseorang itu DITAHAN REZEKINYA disebabkan dosa-dosa yang sentiasa dilakukannya” ( Riwayat Ibn Majah, Ahmad Hadis Hasan)

“Nikahilah perempuan kerana mereka akan membawa harta kepada kamu.” (riwayat Bazzar, Daruqutni dan Hakim, hadis hasan)

“Adakah kamu suka hatimu menjadi lembut, dan kamu memperolehi hajat keperluanmu? Kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah dia daripada makananmu, nescaya lembutlah hatimu dan kamu akan memperolehi hajatmu.” (Riwayat Tabrani)

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan-amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan sebutan (zikir) kamu kepadaNya dan banyak bersedekah dalam bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” H.R Ibnu Majah.

“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah S.W.T akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)

“Apabila kamu telah selesai solat subuh janganlah kamu tidur tanpa mencari rezeki.” (Riwayat Tabrani)

“Pergilah awal pagi untuk mencari rezeki dan keperluan kerana pagi membawa keberkatan dan kejayaan.” (Tabrani, Ibnu Adi)
“Sesungguhnya tidur pada waktu pagi menghalang sebahagian rezeki” Abu Nuaim.

“Ikutlah antara haji dan umrah kerana di dalam mengikuti antara keduanya menambah panjang umur dan menambah rezeki” (Ahmad, Ibnu Majah, Daruqutni, Tabrani)

“Tidaklah ada makanan seseorang itu yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri”. (Riwayat al-Bukhari)

 
 Sumber : http://hikmatun.wordpress.com/2010/06/19/beberapa-panduan-dari-alquran-dan-alhadith-tentang-mencari-rezeki-yang-berkat/

wallahu a'lam bish-shawab

Jumat, 21 September 2012

PROPORSIONAL-LAH DALAM MENCARI REZEKI DARI ALLAH SWT

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
 
Ketika kita mencari rizkiNya, alangkah baiknya kita niatkan untuk beribadah, niatkan untuk memenuhi kewajiban yang Allah wajibkan kepada kita agar kita menafkahi keluarga. Maka dengannya kita melakukannya karena Allah, dan termotivasi dengan pahalaNya, TIDAK MALAS-MALASAN, dan terasa tulus lagi ikhlash ketika mengerjakannya. Tapi tetap, aturlah waktu dengan sebaik-baiknya!



Dan alangkah baiknya lagi jika didalam mencari ma-i-syah(PENGHASILAN YANG HALAL) tersebut, kita berusaha agar dapat membantu kaum muslimin lainnya, atau kita juga bisa meniatkan untuk sambil berdakwah. Maka alangkah banyak pahala yang dapat kita peroleh dengan kesibukan duniawi kita!!

Seperti dikatakan diatas, PROPORSIONAL-lah dalam mengatur waktu, jangan sampai waktu kita habis dengannya sehingga melupakan anak dan istri, melupakan menuntut ilmu, dan melalaikan ibadah-ibadah yang utama.

Niatkan saja dari awwal mencari ma-i-syah(PENGHASILAN YANG HALAL) ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok saja dulu, atau ditambah sedikit kebutuhan sekunder, qona'ah-lah(menerima apa adanya, selalu mensyukuri apa yg diberikan Allah SWT) dengan apa yang telah kita miliki; janganlah melihat orang yang lebih diatas dari kita dalam hal duniawi dan janganlah terlalu tinggi angan-angan. sehingga hati kita dapat kita jaga agar tidak tergantung dengan kehidupan dunia yang sesaat dan sementara

 Work Work and Worship


Mungkin dari kita pernah terpikir bekerja secara terus menerus dengan keras akan membuat kita mati? Sama sekali tidak secara umum, dengan bekerja kita akan menjadi lebih sehat, lebih hemat, lebih teratur hidupnya karena rutinitas yang kita jalani.

Berikut beberapa kutipan yang dapat kita jadikan rujukan dalam bekerja dan bagaimana bekerja, mudah - mudah dengan rujukan ini kita tidak mudah mengeluh dan stress menghadapi pekerjaan:

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” (QS 67: 15)

"Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."( QS 62: 10)

Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah.

Secara pribadi, kita juga mendapati Rasulullah SAW dan para sahabat adalah orang-orang yang menyukai kerja. Rasulullah SAW selain bekerja untuk umatnya, beliau melubangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarga. Subhanallah, Rasulullah adalah pemimpin sejati!

Hadis riwayat Tabrani seputar kerja:

“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perangainya/akhlaqnya”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
“Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya."
“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik (berperilaku) kepada keluarganya”
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempertahankan keluarganya selagi perbuatan itu tidak membawa kepada dosa”
“Barangsiapa yang menjadi susah pada petang hari kerana kerjanya, maka terampunlah dosanya.”

Berikut ini tips sederhana dalam bekerja dengan PROPORSIONAL:

Tujuan bekerja    : Pengabdian dan mencari ridha Allah SWT
Cara bekerja       : Halal, tidak bertentangan undang - undang, norma - norma dan ketentuan Allah
Lingkup kerja      : Bekerja ditempat yang baik, sehat, kondusif dan halal
Manfaat               : Memberikan kesejahteraan kepada umat

Namun bekerjalah secara proporsional dan berimbang, ada hak dari badan kita untuk beristirahat. Secara medis kita dianjurkan untuk tidur setidaknya 4 jam sehari untuk orang dewasa yaitu mulai dari jam 11 malam sampai 3 pagi.

Selamat bekerja dan tetap semangat !


wallahu a'lam bish-shawab


By : Mencari Rezky

Rabu, 19 September 2012

~° Jadilah Seorang Pemimpin Yang Bijaksana dan Belajarlah dari Sosok Umar Bin Khattab °~

Bismillahirrahmanirrahim.... 

Samudera Lautan begitu luas namun tak seluas Ciptaan Allah Azzawajalla....
Seorang Pemimpin ialah sosok yang akan lebih mengutamakan rakyatnya dibanding kepentingan sendiri... Dan Seorang Pemimpin ialah yang Selalu Lebih bermunajat kepada Sang Illahi Rabbii tentang Rakyatnya.... Karena banyak beban yang harus dipikul oleh sorang pemimpin yang bijaksana...Tawaduk dan Tegas...!!! Ketika sosok pemimpin itu salah maka bertanggungjawab lah ia dihadapan illahi Rabbii nantinya didalam neraca pertimbangan nya Allah Azzawajalla....

 ****

Kisah Singkat dari seorang Umar bin Khattab Umar bin Khattab (581 – November 644) (bahasa Arab: عمربنالخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga menjadi khalifah kedua (634-644) dari empat Khalifah Ar-Rasyidin. Latar belakang Nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, dilahirkan di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan bathil.

Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal, karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah. Sebelum memeluk Islam, sebagaimana tradisi kaum jahiliyah mekkah saat itu, Umar mengubur putrinya hidup-hidup. Sebagaimana yang ia katakan sendiri, “Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku”. Mabuk-mabukan juga merupakan hal yang umum dikalangan kaum Quraish.

Beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali. Tetapi, setelah masuk Islam, belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas. Sehingga ada kisah, Pada malam hari, Umar bermabuk-mabukkan sampai Subuh. Ketika waktu Subuh tiba, beliau pergi ke masjid dan ditunjuk sebagai imam. Ketika membaca surat Al-Kafirun, karena ayat 3 dan 5 bunyinya sama, setelah membaca ayat ke 5, beliau ulang lagi ke ayat 4 terus menerus. Akhirnya, Allah menurunkan larangan bermabuk-mabukkan yang tegas. Memeluk Islam Ketika ajakan memeluk Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad SAW, Umar mengambil posisi untuk membela agama tradisional kaum Quraish (menyembah berhala).

Pada saat itu Umar adalah salah seorang yang sangat keras dalam melawan pesan Islam dan sering melakukan penyiksaan terhadap pemeluknya. Dikatakan bahwa pada suatu saat, Umar berketetapan untuk membunuh Muhammad SAW. Saat mencarinya, ia berpapasan dengan seorang muslim (Nu’aim bin Abdullah) yang kemudian memberi tahu bahwa saudara perempuannya juga telah memeluk Islam. Umar terkejut atas pemberitahuan itu dan pulang ke rumahnya.Di rumah Umar menjumpai bahwa saudaranya sedang membaca ayat-ayat Al Qur’an (surat Thoha), ia menjadi marah akan hal tersebut dan memukul saudaranya. Ketika melihat saudaranya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.Ia kemudian menjadi sangat terguncang oleh isi Al Qur’an tersebut dan kemudian langsung memeluk Islam pada hari itu juga.

Kehidupan di Madinah Umar adalah salah seorang yang ikut pada peristiwa hijrah ke Yatsrib (Madinah) pada tahun 622 Masehi. Ia ikut terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad SAW. Kematian Nabi Muhammad SAW Setelah sakit dalam beberapa minggu, Nabi Muhammad SAW wafat pada hari senin tanggal 8 Juni 632 (12 Rabiul Awal, 10 Hijriah), di Madinah.

Persiapan pemakamannya dihambat oleh Umar yang melarang siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Ia berkeras bahwa Nabi tidaklah wafat melainkan sedang tidak berada dalam tubuh kasarnya, dan akan kembali sewaktu-waktu. (Hayatu Muhammad, M Husain Haikal) Abu Bakar yang kebetulan sedang berada di luar Madinah, demi mendengar kabar itu lantas bergegas kembali. Ia menjumpai Umar sedang menahan muslim yang lain dan lantas mengatakan: “Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah mati. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati.” Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur’an : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (surat Ali ‘Imran ayat 144) Umar lantas menyerah dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan. Masa kekhalifahan Abu Bakar Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya.

Kemudian setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk menggantikannya. Menjadi khalifah Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini.

Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad. Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut.

Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat. Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah. Kematian Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah salah seorang warga Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara digdaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu: 

1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH SWT. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain ALLAH SWT.
 4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya. 

Wallahu ta'ala alam bissowab.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kunci Sukses Rasulullah Dalam Bisnis,...Bisnis yang benar menurut islam adalah bisnis yang menerapkan nilai-nilai syariat islam tentunya.

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kunci Sukses Rasulullah Dalam Bisnis


PERTAMA
Bekerja sebagai sarana menuju surga. Bekerja bukan semata mata mencari dunia, tetapi di niatkan untuk mencari bekal ibadah

DUA
Tidak pernah main-main dengan "kejujuran"dan "kepercayaan". Salah satu hal tersebut adalah kunci keberhasilan. Kejujuran akan menumbuhkan kepercayaan

TIGA
Berfikir visioner, kreativ dan siap menghadapi perubahan.Usaha harus dikembangkan dengan visi jauh ke depan.

EMPAT
Memiliki rencana dan tujuan yang ingin di capai. Rasulullah selalu merencanakan pekerjaan dengan baik dan melaksanakan dengan ketekunan, keuletan dan kecerdasan untuk mencapai sukses

LIMA
Memperhatikan karyawan dengan lebih baik. Rasulullah menganjurkan memberi gaji selagi keringat belum kering

ENAM
Mengembangkan usaha dengan sinergi yang baik. Dengan berninergi banyak mendapatkan keuntungan

TUJUH
Semua pekerjaan dilakukan dengan kasih sayang dan cinta sehingga tidak akan muncul keterpaksaan dalam melaksanakan pekerjaan

DELAPAN
Pandai bersyukur dan berucap terima kasih atas apa yang telah di peroleh. Dengan bersyukur Allah dijanjikan akan di tambah.

SEMBILAN
Berusaha untuk menjadi yang bermanfaat bagi orang lain



Bisnis yang benar menurut islam adalah bisnis yang menerapkan nilai-nilai syariat islam tentunya.

Kesuksesan Nabi Muhammad dalam berbisnis telah dirasakan sejak usia mudanya. Beliau banyak menerapkan strategi marketing bisnis yang sangat cerdas, tidak merugikan orang lain tapi menguntungkan bagi pebisnis yang menerapkannya.

Berikut adalah tips atau strategi marketing yang dilakukan Rasulullah SAW dalam mengembangkan bisnisnya

1. Jadikan "Jujur" Sebagai Brand Bisnis

Berkat kejujuran beliau (dalam segala hal), nabi Muhammad mendapatkan julukan Al-Amin (Yang Dapat Dipercaya). Sikap jujur dalam bisnis ini beliau tunjukkan pada customer maupun pemasok barang dagangannya. Pada masa awal mula berbisnis, nabi mengambil barang dagangannya ke Khadijah, seorang konglomerat kaya raya yang akhirnya menjadi istrinya.

Ketika bekerjasama dengan Khadijah, beliau selalu bersikap jujur. Selain jujur pada Khadijah, beliau juga jujur pada pelanggannya. Hal ini tercermin ketika pelanggan mendatanginya, beliau memasarkan barangnya dengan menjelaskan semua keunggulan dan kekurangan barang tersebut, tanpa mengharapkan keuntungan lebih besar dari hasil penjualannya.

Bagi nabi Muhammad, kejujuran harus dijadikan brand dagang para pebisnis. Apapun jenis bisnisnya, kejujuran harus tetap ditempatkan pada posisi yang utama.

2. Sayangi Pelanggan

Pelanggan atau pembeli adalah raja, demikianlah prinsip dalam bisnis. Menarik satu pelanggan memang sulit tapi mempertahankannya justru lebih sulit. Nabi Muhammad memberikan contoh bahwa keuntungan dalam berbisnis hanyalah sekedar "hadiah" dari upaya kita.

Nabi selalu melayani costumers dengan ikhlas, beliau tidak relah jika pelanggannya tertipu saat membeli barangnya. Pesan yang disampaikan oleh beliau adalah "Cintailah saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri".

Jika pelayanan yang kita berikan kepada pelanggan itu memuaskan maka pelanggan juga akan terus percaya dan akan terus berlangganan dengan produk yang anda tawarkan. Begitu pula sebaliknya.

Letakkan kepuasan pelanggan ditingkat yang lebih tinggi. Cobalah memenuhi janji seperti apa yang pernah anda iklankan dalam pemasaran anda. Ini justru akan mengangkat kepercayaan pelanggan terhadap bisnis atau usaha anda.

3. Bedakan Jenis Produk Anda

Rasulullah saw juga memberikan contoh untuk memisahkan antara barang yang bagus dan barang yang jelek. Selain itu, beliau juga membedakan harga sesuai kualitas produknya. Bukan menyamakan semua produk tanpa melihat kualitas produknya.

Dalam dunia marketing bisnis kita mengenal banyak jenis produk yang bisa dipasarkan. Tapi, faktanya justru sebaliknya. Sebagian besar malah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dari "Cacat Produk". Ini tentu akan merugikan pelanggan dan akan membuat pelanggan tidak percaya lagi dengan anda.

Mungkin masih banyak lagi nilai-nilai yang dapat diambil dari strategi marketing ala Rasulullah Muhammad SAW. Tapi jika anda pernah membaca atau sekedar ingin menambahkan silahkan ditulis saja di komentar.


NB :
Menjadikan Bekerja sebagai ladang menjemput syurga: Rasulullah menganggap bekerja adalah termasuk ibadah manusia kepada Allah yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berharap hasil terbaik dalam hidupnya. Sebagai diriwayatkan dalam hadist berikut ini:

"Sesungguhnya Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan yang dengan tekun dan sungguh-sungguh".(HR. Bukhari dan Muslim)


wallahu a'lam bish-shawab


By : Mencari Rezky


Sumber :
1]. AMIRULLOH SYARBINI & J. HAYADI DALAM BUKU MUHAMMAD SEBAGAI BISNISMAN ULUNG
2]. Rahasia Bisnis Rasulullah (Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D.)
3]. Prof. Laode, PH.D dalam buku Rasulullah Business' School
4]. Thorik Gunara & Utus Hardiono Sudibyo : Marketing Muhammad saw. - Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad saw

5].  Syafii Antonio - Strategi Bisnis Nabi Muhammad
6].  Management Syari'ah - Abu Hasan

Senin, 06 Agustus 2012

BERSYUKUR AWAL DARI KETENAGAN JIWA


Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ketahuilah! Bahwa ketenangan itu tidak akan didapatkan sebelum benar–benar menikmati hidup ini. Merasakan bahwa hidup ini pasti ada arti dan makna.

Rasakanlah bahwa hidup ini adalah Anugrah yang mencerminkan Kasih Sayang Allah.


Sebab permasalahan-permasalahan hidup yang dihadapi di dalam dunia ini hanyalah sebagai fase/tahapan–tahapan dari penampakan Ujud Tuhan. Ibarat seorang pembuat keris, ia akan membakar dan menempa besi kemudian di bentuk untuk menjadi sebuah keris yang indah. Begitu pula halnya manusia, ujian–ujian dan cobaan adalah merupakan tempaan–tempaan dari Allah sebagai tanda Cinta Kasih Nya. Kalau sudah begitu kenyataannya, mengapa kita tidak menerimanya dengan lapang dada?.

Allah SWT berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS, Ibrahim : 7)

Terkadang banyak yang beranggapan bersyukur atas nikmat Allah itu adalah sebatas apa saja yang didapatkannya diluar dari dirinya. Padahal terlebih utama dan untuk pertama kalinya ia harus melihat kepada dirinya sendiri, bahwa apa–apa yang ada pada dirinya zahir dan batin adalah karunia dan nikmat Allah terbesar yang sudah sepantasnya tidak boleh dilupakannya begitu saja. Wajar saja jika Allah memberikan ujian dan cobaan kepadanya untuk mengingatkan hambanya bahwa Allah sangat dekat akan dirinya dengan sangat nyatanya dan sangat dekatnya nikmat Allah pada dirinya yang pada hakikatnya Allah meliputi dirinya zahir dan batin.

Sadarilah! Bahwa segala apa–apa yang ada pada diri kita adalah nikmat Allah. Nafas adalah nikmat Allah, penglihatan nikmat Allah, pendengaran nikmat Allah, penciuman nikmat Allah begitu pula darah yang selalu mengalir disekujur tubuh kita, jantung yang selalu memompanya juga nikmat Allah dan segala apa saja organ–organ tubuh yang bekerja semuanya adalah nikmat Allah, milik Allah, karena Allah dan dengan izin Allah semata.

Siapa saja yang mensyukurinya dengan keyakinan semua yang ada pada dirinya adalah karunia dan nikmat Allah terbesar sebagai landasan cinta kasih Allah kepadanya, maka sebagai penghargaan dari Allah Ia akan menambahkan nikmat Nya yang lain (yaitu karunia Allah yang datang dari luar dirinya, seperti rezeki, jodoh, kedudukan dll).

Akan tetapi barang siapa yang lupa akan nikmat karunia Allah yang ada pada dirinya berarti sama halnya ia lupa akan Allah yang memberikan nikmat itu sebagai I’tibar (cerminan) adanya Allah dekat dan meliputi akan dirinya. Lalu bagi siapa yang lupa akan Allah, maka Allah akan menurunkan berbagai macam ujian dan cobaan kepadanya agar mereka bisa sadar dan kembali kepada kebenaran (Allah SWT).

Kalau sudah begitu berarti ujian dan cobaan itupun termasuk nikmat Allah, karena datangnya ujian tersebut untuk mengingatkan hambanya agar hambanya menyadari bahwa Allah sayang kepadanya.

Allah SWT mengingatkan kita sampai 31 kali di dalam Firman Nya yang disebutkan di dalam surah Ar–Rahman :

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.(QS,Arrahman:13,16,18,21,23,25,28,30,32,34,36,38,40,42,45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71,73,75,77)

Dan di dalam surah yang lain Allah berfirman :

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS, An – Nahl : 18)

Sungguh sangat banyaknya nikmat karunia Allah yang sudah diberikan Nya kepada kita, sampai–sampai kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya.

Karena itu Allah memerintahkan kita untuk membaca surah Al–Fatihah berulang kali di setiap kita Shalat dan termasuk salah satu Rukun Shalat yang apabila tidak membaca surah Al – Fatihah maka batal lah Shalatnya. “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin”. (Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam). Adalah suatu ungkapan yang menjelaskan bahwa apa saja yang ada di seluruh Jagad Raya ini dan apa saja yang ada pada diri kita hendaklah kita sadari semuanya itu adalah nikmat Allah SWT.

Itulah salah satu Rahasia ke Agungan dan Kebesaran Allah tentang di balik ujian dan cobaan. Karena itu syukurilah dengan harapan agar dimantapkan Iman dan Keyakinan serta dibukakan ketentraman dan ketenangan Jiwa. Hidup ini akan nampak indah jika kita mau menerimanya dengan lapang dada apa saja yang datang pada diri kita adalah sebagai bukti Kasih Sayang Allah SWT.

Apabila Allah mendatangkan suatu ujian, tentu itu menurut kadar kemampuan hamba Nya. Tidak akan mungkin Allah menurunkan ujian yang hamba Nya sendiri tidak sanggup untuk memikulnya. Kalaupun kita merasa berat dengan suatu ujian yang didatangkan Allah seolah–olah kita tidak sanggup untuk memikulnya, itu dikarenakan bukan kita tidak mampu untuk memikulnya melainkan karena kurangnya pengetahuan untuk menghadapi ujian tersebut.

Oleh sebab itu menuntut ilmu hukumnya wajib, agar kita mengerti tentang hakikat dari pada ujian–ujian Allah yang datang kepada kita. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : yang artinya “telah diwajibkan atas kalian menuntut ilmu baik muslim laki–laki maupun muslim perempuan”.

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya

 wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

Sabtu, 04 Agustus 2012

Sebuah Investasi Tanpa Henti Untuk Memperoleh Tiket Surga

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim

 Rasulullah saw, bersabda:
"ketika seorang anak adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yang pahala dari amal itu tetap mengalir walau dia telah meninggal dunia, yang pertama dalah shodaqoh jariah, yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat,
dan yang ketiga adalah anak yang sholih dan sholihah yang mau mendoakan kedua orang tuanya" (H.R Muslim).

Dari hadits Rasulullah tersebut mengandung arti bahwa ibadah seperti salat, puasa, haji dan lainnya akan terputus amalnya ketika orang tersebut meninggal karena begitu meninggal seseorang itu pastinya tidak akan bisa salat, puasa maupun haji. Namun ada tiga jenis ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, yang meski pun dia sudah wafat, pahala ibadah itu tetap saja terus mengalir kepadanya. Tiga ibadah itu adalah anak sholeh yang selalu mendoakannya, ilmu yang bermanfaat, dan shodaqoh jariyah.

Seperti halnya sobat membangun masjid di mana selama masjid itu masih digunakan untuk ibadah sobat memperoleh pahala atau dengan memyumbangkan kursi roda ke rumah sakit di mana setiap orang sakit menggunakannya sobat mendapat pahala, saat sobat menanam pohon pun sama. Setiap orang berteduh di bawahnya, menghirup oksigen yang dihasilkannya, meminum air yang disimpannya setiap itu pula (insa Allah) sobat memperoleh pahala.

Sungguh nikmat ketika kita telah meninggal namun point-point pahala kita terus bertambah lantaran senang berbagi (shodaqoh jariyah.) dengan ikhlas kita berikan dan dimanfaat oleh orang lain.

wallahu a'lam bish-shawab
 
By : Mencari Rezky

Kamis, 02 Agustus 2012

BEKERJA DALAM MENCARI REZEKI DARI ALLAH SWT SEBAHAGIA DARI IBADAH

 Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
 Bismillahirrahmanirrahim

Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs 'Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta'ala 'anhu berkata: Saya mendeng
ar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan" (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang "Bashirah" atau mata hatinya terbuka dan telah bersinar cahaya Allah di dalamnya. Yaitu orang-orang menyadari bahwa ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan" (Qs.22. al-Hajj : 77).

Hati dan akal pikirannya sibuk memikirkan urusan ibadah. Ia memahami bahwa usaha keras dalam menjemput rezeki hukumnya mubah, sedangkan usaha keras dalam ibadah untuk meraih ridha Allah hukumnya wajib. Gerakan anggota badannya sigap dan penuh semangat dalam pengabdian kepada Allah.

Aktifitas kerja dan usaha tidak sampai menyibukkan hatinya di saat shalat atau menuntut ilmu. Ia membagi waktu dan perhatiannya dengan adil. Ada saatnya ia khusus menghadap Allah dan ada saatnya ia berinteraksi dengan sesama manusia. Ia giat pergi kerja ke sawah, pasar, kantor atau tempat usaha lainnya.

Namun ia juga tekun dan disiplin hadir di tengah-tengah jama'ah masjid, musholla, majlis ta'lim, pondok pesantren atau tempat-tempat perjuangan di jalan Allah. Ia yakin bahwa jika ia taat kepada Allah, maka Allah Yang Maha Mengetahui akan memberikan karunia yang terbaik untuk hidupnya.

Di dalam Hadits Qudsi, Allah swt berfirman, "Wahai hamba-Ku, taatlah kepada-Ku di dalam segala sesuatu yang Aku perintahkan, dan jangan mengajari-Ku dengan segala sesuatu yang akan menjadi kebaikan bagimu".

Diantara tanda-tanda orang yang "Bashirah"nya telah terbuka, atau hatinya telah bercahaya adalah ia akan selalu memperhatikan akhir atau akibat dari segala sesuatu. Jika akibatnya baik dan ridha Allah, maka ia lakukan. Jika akibatnya buruk dan murka Allah, maka ia tinggalkan. Ia senantiasa berusaha menjadi ahli taqwa.

Dan Allah swt berfirman, "Maka bersabarlah. Sesungguhnya akibat (kesudahan) yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Qs.11. Huud : 49).

Semoga Allah membimbing dan menolong kita untuk memiliki amal dan kepribadian orang-orang yang terbuka terang mata hatinya dan bersinar bashirahnya sebagaimana para Sahabat Rasulullah saw, yang hidupnya dihabiskan untuk taat kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya, maka Allah menganugerahkan kepada mereka kemenangan, kebahagiaan dan kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

wallahu a'lam bish-shawab
 
By : Mencari Rezky

Yuk, Menabung di 'Bank Akhirat'...Bunganya Menggiurkan


Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

 
Tidak ada biaya administrasi per bulannya. Mau? Inilah 'bank Akhirat'.

Tidak ada setoran minimal yang ditentukan untuk membuka rekening tabungan. "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu…" (QS Al-Baqoroh: 267)

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya, memperoleh pahala yang besar.” (QS Al-Hadiid: 7)

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata: Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shale?" (QS Al-Munaafiquun: 10)

Dari tiga keterangan tersebut tidak dijelaskan besaran pasti untuk kita melakukan setoran. Yang diminta hanya sebagian. Bisa sebagian kecil, bisa sebagian besar. Tergantung diri kita masing-masing maunya berapa. Ketika kita sudah menyedekahkan harta kita, maka otomatis catatan kebaikan di buku amal kita akan bertambah.

Dan, "bunga" yang kita dapatkan dari hasil sedekah kita adalah 700 persen. "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus benih. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqoroh: 261)

Hitung-hitungannya, menurut saya: 1 butir benih x 7 bulir x 100 benih = 700 benih. Itu minimalnya. Kalo kita lihat di hitungan tersebut, setiap benih itu bisa menghasilkan tujuh bulir. Kalo kita punya 700 benih berarti jadi 4.900 bulir yang akan menghasilkan lagi 100 biji pada masing-masing bulir. Begitu seterusnya. Tak akan pernah berhenti. Hal itu bisa kita lihat di ayat tersebut. "Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki."

Bank akhirat ini memang tidak punya kantor resmi. Tapi kita bisa melakukan setoran di mana saja. Misal, ke orang tua, sanak-saudara, anak-anak yatim, orang miskin, dan musafir.

"Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (QS Al-Baqoroh: 215)

Mudah kan?

wallahu a'lam bish-shawab
 
By : Mencari Rezky

Makanlah dari Hasil Keringat Kamu Sendiri.


 Asslamualaikum warahmatullah wabakatuh
 Bismillahirrahmanirrahim

Kita di umat muslim disuruh buka usaha sendiri, perhatiakan Hadits di bawah ini:
....dari Aisah(RA) berkata; Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya sebaik-baiknya yang dimakan seseorang hasil kerja sendiri" (HR. Bukhari Dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda :
"Tidaklah seseorang bekerja suatu pekerjaan yang lebih suci daripada hasil kerja tanganya, dan apa-apa yang ia belanjakan untuk dirinya, keluarganya, anak-anaknya dan pembantuknya maka itu merupakan sedekah" (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna dari hadits diatas
- Orang yang makan dari keringatnya sendiri itu jauh lebih baik daripada hasil meminta-minta, hasil sumbangan atau hasil kejahatan
- Orang yang bekerja itu lebih baik dari pada mengantungkan hidup dari orang lain
-Kita Disuruh buka usaha sendiri
- Kita disuruh mencari rezeki sendiri bukan cara meminta-minta
- Hasil kerja yang di belanjakan untuk menghidupi keluarga dan pembantu merupakan sedekah
Islam memiliki pandangan tersendiri terhadap rezeki, nikmat dan makanan yang pada hakikatnya semua berasal dari Allah SWT. Konsep ini mengandung arti bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat pemberi nikmat bagi setiap makhluk hidup yang ada diseluruh dunia ini.
Allah SWT melimpahkan nikmatnya pada hamba-hambanya yang mau berusaha dan menggunakannya demi untuk memenuhi janji-janjinya kepada Allah SWT. Bagaimanapun juga Allah SWT tidak akan melimpahkan nikmat dan rahmatnya pada orang-orang yang berusaha mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak halal dan membelanjakannya dengan cara yang tidak bertanggung jawab.
Manusia hanyalah sarana bagi Allah SWT untuk melimpahkan nikmatnya. Nikmat Allah SWT yang diperuntukkan bagi manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan atau hanya sekedar untuk menyambung hidup. Allah SWT menghendaki kehidupan yang nyaman dan tentram bagi umat manusia.
Allah SWT menyatakan bahwa Dia hanya melimpahkan karunianya bagi hamba-hambanya yang mau berusaha dan bekerja keras. Semakin keras mereka bekerja, akan semakin bertambah pula nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadanya. Umat islam tidak hanya dianjurkan untuk bekerja keras, tetapi dianjurkan juga untuk mempotensikan akal mereka supaya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sebanyak mungkin dan bahkan jika diperlukan, mereka dianjurkan untuk melakukan hijrah ke setiap penjuru dunia supaya mereka menemukan dan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan penghasilan mereka.
Nabi Muhammad SAW juga telah bersabda :
"Tak ada sesuatupun yang dimakan seseorang yang lebih baik kecuali apa-apa yang dihasilkan dari jerih payah keringatnya sendiri.Nabi Daud ra makan dari hasil keringatnya sendiri." (HR Bukhari Muslim) 
Sungguh sangat rasional jika islam memberikan sanksi yang berat pada orang-orang yang malas karena ini menyangkut keberadaan ciptaan Allah SWT dimuka bumi yang tak terhitung jumlahnya yang semua itu diperuntukkan bagi manusia supaya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bagi orang-orang yang malas mereka tidak hanya dianggap sebagai orang yang tidak mnesyukuri nikmat Allah SWT, tetapi mereka juga dianggap telah gagal menerima karunia Alllah SWT yang diperuntukkan baginya supaya dapat hidup produktif sehingga mereka bisa menciptakan kemakmuran dimuka bumi ini.
Allah SWT juga telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengeksploitasi sumberdaya alam yang telah diciptakan secara melimpah ruah diseluruh hamparan muka bumi ini. Meskipun Allah SWT menjamin rezekinya bagi semua umat manusia, tetapi Allah SWT telah menyatakan dengan jelas bahwa hanya orang-orang yang berbuat kebaikan dan mensyukuri nikmatnya sajalah yang akan dikaruniai dengan nikmat yang lebih besar. Ini merupakan pahala yang diberikan Allah SWT secara langsung didunia fana ini dan bahkan pahala yang lebih besar akan deberikan kelak di akherat.
Satu pertanyaan yang mungkin patut diajukan adalah: mengapa justru orang-orang yang kejujurannya diragukan dan keimanannya dangkal justru mendapatkan kekayaan yang banyak? Jawaban sederhana atas pertanyaan ini adalah mungkin kekeyaan itu tidak diridhai oleh Allah SWT karena bias saja Allah SWT memberikan nikmatnya dengan atau tanpa ridhanya. Konsep tentang nikmat Allah SWT dianggap sangat penting dalam islam karena sebagai orang islam kita dianjurkan memiliki keseimbangan antara pemenuhan kewajiban akherat dan dunia. Rezeki yang diridhai oleh Allah SWT akan memberikan keamanan dan kedamaian bagi umat islam sehingga mereka dapat menjalankan kewajiban-kewajiban spiritualnya. 
Berdekatan dengan Allah SWT akan membuat mereka biasa mendapatkan rezeki yang lebih diberkahi.
Allah SWT menyatakan bahwa tidak semua orang dilahirkan kedunia ini dengan kemampuan yang sama. Beberapa diantara mereka memiliki kemampuan dan motivasi yang lebih bagus sehingga mereka bisa mendapatkan rezeki yang lebih besar.
Kesimpulan:

Karunia yang diberikan oleh Allah SWT menurut pandangan agama islam mencakup beberapa elemen, diantaranya:
1. Umat islam dianjurkan mencari rezeki dengan giat dan dalam cara-cara yang halal.
2. Allah SWT akan melimpahkan nikmatnya yang tak terhingga kepada orang-orang yang mau bekerja keras dan jujur.
3. Rezeki yang dihasilkan dengan cara-cara yang halal merupakan kepercayaan yang diberikan langsung Allah SWT.
4. Rezeki atau penghasilan yang halal digunakan lebih jauh untuk membantu orang-orang yang kurang mampu dan untuk membantu kelangsungan perkembangan islam dan Negara
By : Mencari Rezky

REZEKI YANG TAK DISANGKA-SANGKA


 
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim


Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, kontraktor, hotel dan rumah sakit, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 15 Milyar per bulannya (kita krus dalam Rupiah). Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan (kita krus dalam Rupiah). Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah Hotel Adlon Kempinski Unter den Linden 77, Berlin, Jerman. Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”
Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.
“Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA
“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.” Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah". Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA
“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka,” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya :  
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga”, (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?,” tanya beliau.


“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”


“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama anda di kala anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi anda dan mendukung segala usaha anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan anda. Namun ketika anda mendapatkan sukses itu, anda meninggalkannya. Atau anda menduakannya.”

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Saint Johns Wood, Newham, United Kingdom , saya menjumpai beliau punya seorang ayah dan ibu yang bijaksana, dan mempunyai 1 orang adik perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang

By : Mencari Rezky

PENUHI KEBUTUHAN HIDUPMU DENGAN REZEKI YANG HALAL

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim



Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata : "Telah bersabda Rasululloh : 
" Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhan, wahai Tuhan" , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do'anya". [Muslim no. 1015]
Kata "thayyib (baik)" berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.
Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Kalimat "kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu", maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?
Kalimat "menengadahkan kedua tangannya" maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.
Kalimat "makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do'anya", maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do'anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do'anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia.

Wallaahu a'lam bishawab

By : Mencari Rezky