Opick - Assalamualaikum

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Menuju Puncak Kesuksesan Dengan Sabar

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Kesuksesan dan keberhasilan tidak semua yang baik dapat dihasilkan dengan cepat dan tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa dan ingin cepat menuju pucak kesuksesan adalah berasal dari setan. Prilaku tergesa-gesa dan ingin cepat sukses menjurus kepada perbuatan yang menyimpang, contohnya korupsi, mencuri serta menipu dll.

Sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk menuju kesuksesan. Padahal sifat tergesa-gesa itu terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Untuk berhasil dan sukses, kita harus bersedia untuk bersabar menanti dampak dari upaya kita. Bukankah rahasia utama untuk mencapai keberhasilan dalam semalam, adalah bekerja keras dan terus berusaha serta berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kesuksesan dan keberhasilan itu butuh proses dan latihan serta belajar dari pengelaman. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkannya, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut."(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan Al-Albani dalam As-Shahihah No. 342)

Kalau kita gagal, jangan menyerah terus berusaha. Sesulit apapun kita alami pasti ada kemudahan. Seperti Janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Quran disurat Al Insyirah ayat 6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan" (Qs.Al Insyirah;94:6)

Untuk mencapai kerhasilan dan kesuksesan, kita harus terus-menerus dalam berusaha walaupun sedikit. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit." ( HR. Muslim no. 783 Dari 'Aisyah radhiyallahu anha)

Seorang trainer pernah mengatakan Kesuksesan besar adalah hasil dari kumpulan kesuksesan-kesuksesan kecil.

Lakukanlah perubahan itu, meski pun kecil, sebab tidak ada yang kecil jika kita melakukan secara terus menerus.

Akhirnya, semua itu tergantung pada diri kita menghadapinya dengan sabar atau tidak?. Bagaimana mengelola mindset serta mental kita ketika mengahadapi perubahan. Sekaligus secara tegas dan berkomitmen berubah hingga meraih apa yang kita impikan

wallahu a'lam bish-shawab

Jumat, 19 April 2013

Jangan berkata mendayu-dayu yang membangkitkan nafsu seseorang

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh   


JANGAN MELEBUTKAN PERKATAAN/MENDAYU-DAYU/SEKEDAR BASA-BASI.

Penyimpangan dalam adab ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti "sayang", canda tawa, basa - basi, cari perhatian, dsb.

BAGAIMANA SELANJUTNYA.. ??

Syariat Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas untuk mengatur pola interaksi / IKHTILATH antara laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat). Islam tidak membenarkan adanya INTERAKSI seseorang dengan yang bukan muhrimnya.

" Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad).

Jangan mendayu-dayu saat berbicara, jangan memanja-manjakan suara, intinya harus tegas dalam berbicara baik melalui telepon mau pun ketika berbicara di forum-forum, di acara atau saat syura dan interaksi lainnya dengan orang-orang yang bukan mahram kita. Maka tegaskanlah cara bicara Anda. Tegas bukan berarti keras atau marah karena dengan tegas berarti kita telah membentengi hati dan menjaga izzah diri. Sebab jika tunduk berbicara maka telah membuka peluang bagi syeitan untuk mempermainkan nafsu, menghembus penyakit dalam hati, menikmati rasa yang tidak biasa dan pada akhirnya akan menjerumuskan kepada zina hati. Karena pada hakikatnya, hati seseorang dapat diketahui dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Apa yang diucapkan oleh lidah bisa dijadikan parameter untuk menilai keistiqamahan iman seseorang.

Setan itu sangat lihai mengambil celah untuk menggoda manusia dengan mempermainkan nafsunya. Ikhtilath tidak hanya terjadi dalam interaksi nyata namun bisa juga terjadi melalui jejaring sosial dunia maya. Dengan adanya orang yang mendampingi saat membahas hal urgen tersebut melalui telepon diharapkan komunikasi menjadi lebih terjaga.

"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (terlebih dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (terlebih dahulu)." (HR. Ahmad dari Anas RA).

Dan pada hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh akan memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, 'Takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng'." (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Yahya bin Mu'adz berkata:

Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalam hatinya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana "rasa" hatinya, adalah apa yang ia keluarkan dari lidahnya.

"Dan ucapkanlah perkataan yang baik." termasuk penggalan ayat dalam surah Al-Ahzab ayat 32. Perkataan yang baik yaitu berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat dan kebaikan serta mampu menahan lidah dari ucapan yang bathil yang bisa merusak hati.

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan hal-hal yang baik atau diam saja" (HR. Bukhari-Muslim).

LALU BAGAIMANA.. ??

Jika ada hal urgen yang memang harus diselesaikan melalui TELP, SMS, FB, TWITER antara ikhwan dan akhwat, Maka hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan hal tersebut dengan baik dan efektif. Baik dalam arti menggunakan kata-kata yang formal, singkat, padat, jelas dan tegas. Dan efektif menggunakan waktu dalam menyampaikan hal itu melalui MEDIA.

Fokus pada tujuan awal agar hal-hal di luar bahasan tidak perlu diutarakan ( hemat ). Mengapa hal ini perlu dilakukan? Agar hal yang disampaikan baik dan efektif sesuai dengan urgentifitas hal tersebut dan untuk mengantisipasi terjadinya ikhtilath. Jika Laki-laki bertanya pada seorang akhwat, akhwat merekomedasikan untuk bertanya kepada ikhwan, misalkan " Maaf lebih baik anda bertanya sesama ikhwan. - sebaliknya untuk akhwat.

Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

"Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. al-Ahzab: 32)

Imam Qurtubi menafsirkan kata 'Takhdha'na' (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.

Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.

Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata-kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan.

Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa-biasa saja.


Wallahu a’lam bish-shawab
 

Beramal tanpa ilmu ditolak, beramal tanpa niat ikhlas di tolak

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh   


Imam Ghazali berkata: "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia."

Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu tidak tahu ilmunya, maka pekerjaan kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak." (HR Muslim)

Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).

Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan:
wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu // a'maluhu mardudatun la tuqbalu. Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya.

Jelas sekali, kan?

Itu sebabnya, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda; "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim." (Ibnu Majah)

Dasar kewajiban ini, karena Islam menginginkan umatnya mengerjakan sesuatu berlandaskan ilmu yang diketahuinya, sehingga apa yang dikerjakan sesuai dengan al-Qur'an dan Sunah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam . Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah dan amal tanpa ilmu sama halnya perbuatan yang sia-sia.

*****
Yang menjadi ukuran amal seseorang ialah ke"Ikhlasannya".

Membicarakan soal ikhlas haruslah didahului dengan uraian tentang niat, sebab antara keduanya sangat erat hubungannya, tak ubahnya laksana pohon dan bibit.

Niat(ikhlas) itu adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan dan lain-lain. Dia menjadi ukuran yang menentukan tentang baik buruknya sesuatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peranan niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama salaf (dahulu kala) menyimpulkan : "Kerap kali amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya(ikhlas), dan kerap kali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya."

Niat(ikhlas), Iradah atau qashad ialah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan ataupun ucapan tertentu.

Kedudukan niat(ikhlas) itu dijelaskan dalam sebuah hadits

"Dari Amiril Mu'minin Abi Hafsin Umar Bin Khattab r.a berkata : "Saya dengar Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh sesuatu dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah ke arah yang ditujunya itu". (H.R. Bukhari dan Muslim)

Menurut hadits itu tiap-tiap amal perbuatan harus berlandaskan niat yang ikhlas, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah, bergantung kepada niat orang yang mengerjakannya, atau kepada nawaitu-nya. Jika niatnya baik, maka amalnya akan diterima. Sebaliknya kalau niatnya ada "udang dibalik batu", maka amalnya itu pun akan ditolak.

Didalam setiap niat yang penting adalah ikhlas. Arti ikhlas ialah memperindah ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaan-Nya. 


Wallahu a’lam bish-shawab
 

Jangan berbisik bisa menyinggung perasaan teman, mungkin bisa juga menimbulkan prasangka yang bukan-bukan

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh   


Betapa halusnya ucapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda. ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda tentang "larangan berbisik-bisik dalam islam", mengapa berbisik itu dilarang?

Bersabda Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam:
"Idzaa Kuntum Tsalaatsatan Falaayatanaajatsaani Duunal Aakkhari Hatta Taktalithuu Binnaasi Min Ajli Annadzaalika Yuhzinuhu". (HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud)

Artinya :
Sabda Rasulullah Saw :
"Apabila kamu sedang bertiga sekawan, maka janganlah dua orang diantaranya berbisik-bisik tanpa ikut sertanya yang lain (yang ketiga) sampai kamu bercampur gaul dengan orang banyak, karena yang demikian akan menyedihkan hatinya."
(HR.Bukhari dan muslim dari Ibnu Mas'ud).

Apa yang dimaksud berbisik-bisik disini, berbisik-bisik ialah berkata-kata yang hanya dapat didengar sendiri atau orang lain yang ada didekatnya. Dalam pergaulan, bisik-bisik berduaan saja padahal disitu ada kawan yang ketiga dalam aturan islam dilarang, sebab dapat menyinggung perasaan kawan yang tidak diajak berbicara. mengapa? sebab mungkin bisa menimbulkan prasangka yang bukan-bukan baginya, apakah sedang membicarakan tentang aib dirinya atau ia merasa disingkirkan atau dianggap tak pandai memegang rahasia dan sebagainya, maka dari itu berbisik dilarang dalam islam.

Termasuk dalam kategori berbisik ialah berbicara berdua dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh kawan yang ketiga. tetapi apabila kawan yang ketiga telah mendapat teman sendiri atau telah bercampur dengan orang banyak sehingga teman ketiga tidak memiliki urusan lagi dengan dua teman yang lain maka bisik-bisik dua orang itu dilarang.

Saudaraku sekalian janganlah pernah kita berbisik-bisik, apabila ada urusan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, maka akan lebih baik jika kita berbicara empat mata dengan orang yang ada urusan dengan kita, hal ini tidak akan menyinggung perasaan orang lain.


 Wallahu a’lam bish-shawab

Sebelum Terlambat…mintalah maaf & berilah maaf

 Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


Kita tidak tahu ajal kita kapan…

Jangan sampai ajal menjemput kita atau dirinya, sehingga kita meninggalkan perlakuan buruk kepadanya…

Betapa banyak tangisan yang hampa disebabkan keangkuhan untuk memohon maaf…

Betapa banyak penyesalan yang tiada berbanding; ketika kita ditinggalkan seorang yang telah jujur memohon maaf tapi kita tidak segera memaafkannya sehingga ajalnya mendahului maaf kita…

Ingat muslim adalah saudara bagi muslim yang lain! Inginkah dirimu ditinggal wafat saudara/i-mu dalam keadaan engkau tidak memohon maaf atau memaafkannya?!

Sebelum penyesalan dan tangisan itu datang…

Maka hendaknya kita:

- Menjaga lisan dan perbuatan kita dari menyakitinya..

- Berlapang hati dengan segera memaafkan kesalahannya…

- Dan tidak angkuh untuk bersegera memohon maaf apabila tergelincir…

Karena kita tidak tahu, apakah ajal ataukah permohonan/penerimaan maaf kita yg mendahului…

Bukankah kita tidak ingin meninggalkan kesan akhir yang tidak kita sukai terhadap saudara kita!?






Wallahu a’lam bish-shawab

Selasa, 16 April 2013

Dalam membaca status yang posting di akun facebook oleh seseorang

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


kalau tidak suka dengan status yang posting di akun facebook oleh seseorang, sebagusnya tindakan sebagai 'seorang muslim yang beriman' adalah; abaikan(ignore) atua lewati saja. Kenapa...? karena, kalau kita comment bisa terjadi perdebatan dan bisa timbul bahaya lisan.
kalau niat ingin meluruskan dan memberi nasehat, cukup satu kali comment. kenapa...? karena sesuai sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam ;

"Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang MENINGGALKAN DEBAT MESKIPUN DIA BERADA DALAM PIHAK YANG BENAR. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya."
(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

kenapa kita MENINGGALKAN DEBAT MESKIPUN BERADA DALAM PIHAK YANG BENAR?

-supaya lisan kita terjaga dari bahaya lisan (Secara umum bahaya lisan ada pada kesalahan dalam berbicara, berdusta, menggunjing (ghibah), adu domba (namimah), bermuka dua (nifaq), berkata-kata kotor, berdebat yang tidak ada gunanya, memuji diri sendiri, membicarakan kebatilan, menyebarkan permusuhan, menyakiti orang lain, menodai kehormatan orang lain, dan sebagainya)
-supaya kita terhindar dari sifat sombong
-supaya kita di jauh sifat gila pujian(Barang Siapa Yang Begitu Girang Dengan Pujian Manusia, Syaithan Pun Akan Merasuk Dalam Hatinya).
-supaya terhindar dari pujian & populer wujudkan sifat ujub,angkuh, sombong dan riya'

 kalau status yang posting di akun facebook oleh seseorang membawa manfa'at tinggal mengamalkan




Wallahu a’lam bish-shawab

kapan dikatakan ILMU itu BERMANFA'AT bagi pemiliknya yaitu saat ILMU itu harus DIAMALKA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh

 


Sebuah MANFA'AT/FAEDAH yang penting bagi para penuntut ilmu dimana memiliki KEWAJIBAN untuk MENGAMALKAN ILMUNYA. Karena sebelum mendakwahkannya, kita hendaknya mengamalkannya terlebih dahulu. Bagaimana kita bisa mengajak seseorang ke jalan kebenaran, namun kita sendiri tidak mengamalkannya ?

Perlu diingat, ilmu BUKANLAH hanya SEKEDAR HIASAN di lisan dan banyaknya hapalan, namun rasa takut kita kepada Allah Ta'ala. Semakin tinggi kadar ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula kadar rasa takutnya kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, yang artinya;
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang yang berilmu)"[QS.Fathir: 28]

LUPAKAH ? kita terdapat ANCAMAN bagi orang yang TIDAK MENGAMALKAN ilmunya?

Allah Ta'ala berfirman,yang artinya;
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan"[QS. Ash- Shaff : 2-3)]


 Wallahu a’lam bish-shawab

jangan paksakan menulis di akun facebook kalau tidak membawa manfa'at bagi anda dan orang lain

 Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh



Buat apa kita menulis jika ternyata tidak membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi jika tulisan itu hanya akan membuat rantai keburukan yang baru untuk generasi setelah kita. Na'udzubillahi min dzalik.

Tetapi jika dengan tulisan itu ada orang yang merasakan manfaat serta memberikan nilai tambah baginya, maka itulah hakikat berbagi yang sebenarnya. Ada manfaat yang kita semaikan. Dan bukankah manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Sangat lembutnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Jika kita menampilkan tulisan yang baik, yang bermanfaat, yang mengarahkan manusia pada kebaikan dan kedekatan kepada Rabbnya, bukankah ini salah satu aset jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya?


Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" (HR. Muslim, No. 2674).

Jadi Biar itu sebuah TULISAN yang ditulis di akun facebook dengan maksud bercanda dan main-main(tidak membawa manfa'at). Tapi itu syah sebuah perbuatan yang di catatat oleh malaikat.

Begitu sayang Allah Ta'ala memberi peringatan pada hamba_Nya.
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya ;
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS.Qaf[50] : 18)

Maka berhati-hati dalam menulis dan berkata.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknyaa lebih jauh antara timur dan barat." (HR. Bukhari Muslim).

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR. Bukhari dan Muslim)




 Wallahu a’lam bish-shawab

Kamis, 28 Maret 2013

ilmu meresap kedalam hati bukan hanya sebatas mampir

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh







Ilmu yang hanya sebatas "mampir" di mata kita (ketika kita membacanya) atau mampir di telinga kita ketika kita mendengarkannya..

atau hanya ada dalam kitab-kitab yang ada di rak-rak buku kita.. atau hanya ada dalam catatan kajian kita.. atau hanya ada dalam file documets di laptop/komputer kita..

Akan tetapi TIDAK meresap kedalam hati kita, sehingga TIDAK NAMPAK dalam amalan kita.. walaupun KITA SUDAH PERNAH PELAJARI.. tapi AMALAN kita mengindikasikan seakan-akan kita JAHIL akan hal ini..

Maka berarti kita belum disebut berilmu dalam hal tersebut..

Makanya benar kata ulamaa; "seorang itu TIDAK DISEBUT BERILMU, hingga ilmu itu ia amalkan" meskipun orang-orang menilai dari ucapan maupun tulisannya kita, kita memiliki ilmu..

Ketahuilah, yang menjadi pertanggung jawaban kita terhadap Allah adalah:

"apakah ilmu tersebut, ADA dalam

- HATI (yaitu kita resapkan kedalamnya)

- dan AMALAN kita (yaitu tercermin dlm lisan dan anggota badan kita, dgn semata-mata mengharapkan wajah_Nya)..

?!"

Maka perhatikanlah hati dan amalan kita, apakah didalam hati kita ada semangat untuk beramal shalih dan membenci amal jelek? Dan apakah hal tersebut nampak dalam amal kita? Yaitu kita bersegera dalam beramal shalih, dan bersegera dalam meninggalkan keburukan?!

Jika kita tahu/berilmu ttg sebuah kebaikan, tapi hati kita tidak tergerak untuk mencintainya atau tidak tergerak untuk bersegera/semangat mengamalkannya; maka ada penyakit dalam hati kita..

Demikian pula, jika kita tahu/berilmu ttg sebuah keburukan, tapi hati kita tidak tergerak untuk membencinya atau tidak tergerak untuk bersegera meninggalkannya, tapi malah mengamalkannya; maka ada penyakit dalam hati kita..

Oleh karenanya, luruskanlah niat kita dalam menuntut ilmu; katakan kepada diri kita:

"aku akan menuntut ilmu untuk menunaikan kewajibanku sebagai Hamba Allah. Yaitu beribadah kepada_Nya dengan ikhlash sesuai syari'a_Nya. Dan juga untuk mewujudkan taqwa. Yaitu mengerjakan seluruh kewajiban (setelah mempelajarinya) dan meninggalkan seluruh larangan (setelah mempelajarinya)"

*-semoga bermanfa'at-*


 Wallahu a’lam bish-shawab

Rabu, 20 Maret 2013

' Beramal & Beribadah dalam rangka MENCARI pujian, maka ini termasuk perbuatan syirik.'


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh


' Beramal & Beribadah dalam rangka MENCARI pujian, maka ini termasuk perbuatan syirik.'

1. Jika ia meniatkan amalannya hanya semata-mata karena makhluq tanpa sama sekali meniatkan untuk beribadah kepada Allah; "maka ini syirik akbar. syirik seperti inilah yang dimiliki kaum munaafiqiin" (faidah dari syaikh abdurrazzaaq)

Tidak ada sama sekali dalam hati mereka keinginan untuk beribadah kepada Allaah dalam shalat wajib, akan tetapi hanya memperlihatkan ibadah mereka kepada orang-orang, agar mereka "disebut muslim" dan agar mereka tidak dihukum bunuh "karena meninggalkan shalat".

2. Jika ia meniatkan amalannya tersebut karena Allah, tapi ia CAMPURI niat tersebut untuk mendapatkan PUJIAN MAKHLUK… maka ini SYIRIK ASHGHAR. dan ini diantara DOSA BESAR YANG PALING BESAR…

Mengapa bisa demikian? karena Allah TIDAK MEMILIKI sekutu dalam peribadatan sedikitpun… jika hendak menginginkan pujian dari IBADAH-mu… maka INGINKANLAH PUJIAN DARI ALLAH SEMATA, dan jangan engkau sekutukan Dia, dalam hal tersebut dengan menginginkan pujian selain dari pujianNya…

Kelak dihari kiamat Allah akan memintakan mereka untuk meminta balasan (apakah itu pujian/dsb) dari makhluq yang mereka inginkan balasan tersebut…

Bagaimana dengan orang yang sudah mengusahakan mengikhlashkan amalnya dari awal hingga akhir, kemudian datang pujian (tanpa ia menginginkannya) ?

Maka Rasuulullaah bersabda:


تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

"Itu adalah kabar gembira yang Allah segerakan bagi seorang MUKMIN."

(HR Muslim)

Meskipun berdasarkan hadits diatas "rasa senang" tersebut tidak mencacati pelakunya (karena memang dari awal ia tidak mengharapkan pujian)

Hanya saja Rasuulullaah mengatakan "bagi seorang MUKMIN" dan kita TIDAK TAHU apakah kita telah benar-benar mengamalkan amalan tersebut dengan landasan keimanan (yaitu benar-benar ikhlash dalam amalan kita tersebut)!!

Maka apakah kita hendak merasa senang dengan sesuatu yang TIDAK KITA LAKUKAN?

Allah mencela yahudi dengan firmanNya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا

"…Dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan…"

[Aali 'Imran: 188]

Dan apakah kita hendak mentazkiyyah diri kita sebagai seorang MUKMIN yang dimaksud hadits diatas?

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."

[An-Najm: 32]

Rasuulullaah bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اَللهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ.

"Janganlah menganggap diri kalian suci, Allah lebih mengetahui orang yang berbuat baik di antara kalian."

(HR Muslim)

Dia lebih tahu siapa yang telah benar-benar ikhlash dalam amalnya, dan mengetahui siapa yang telah merusak keikhlashannya dalam amalnya dengan riya', sum'ah, ujub maupun takabbur.

Bahkan jika kita mendapati orang yang memuji kita, berkaitan dengan ibadah kita… maka hendaknya merenung: "bukankah ' badah ' yang hakiki adalah ibadah yang selamat dari kesyirikan? sedangkan aku tidak tahu apakah diriku selamat atau tidak?" sehingga kita tidak LUPA DIRI ketika dipuji…

Abu Bakar yang sangat mengerti akan hal ini pun sampai-sampai dia berkata ketika dipuji1:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka

(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sy'abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami'ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)

Ibnu'Ajibah mengatakan,

"Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, "Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya."

(Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu 'Ajibah, hal. 159, Mawqi' Al Qaroq, Asy Syamilah; copas dari rumaysho.com)

Berkata Ibnu Hazm:

"Barang siapa yang memujimu karena kebaikan yg tidak kau miliki maka sungguh ia telah benar-benar mencelamu. Karena ia telah mengingatkanmu akan kekuranganmu (dengan pujian tersebut)"

(copas dari ustadz firanda)

Maka justru dengan pujian tersebut, harusnya kita kembali meluruskan niat kita: menyeimbangkan rasa harap kita agar semoga kita termasuk dalam hadits diatas, dengan rasa takut senang dipuji pada sesuatu yang tidak pantas kita terima…

Sekalipun amalan kita ikhlash (dan ini hanya Allah pun yang tahu)… Maka ketahuilah, yang memudahkan kita untuk dapat beramal sesuai sunnah, dan dapat ikhlash untuk mengamalkan amalan tersebut adalah Allah…

Maka hendaknya kita kembali menyandarkan pujian tersebut kepada Allah, karena tanpa taufiq dan pertolonganNya, kita tidak mampu untuk melakukan hal tersebut…

الحمد لله الذي بنعمته تتمالصالحات

alhamdulillaah alladziy bi ni'matihi tatimush shaalihaat

Segala puji HANYA BAGI ALLAH, yang dengan nikmatNya, sempurnalah segala kebaikan…

لاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ

laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah

"Tidak ada kemampuan bagi kami dalam melakukan amalan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan bagi kami untuk meninggalkan maksiat kecuali dengan pertolongan dari Allah (pula)."




Wallahu a’lam bish-shawab




Semoga bermanfaat…

Catatan Kaki

Hanya saja hendaknya kita tidak menyikapi ucapan beliau ini seperti dzikir nabi, kemudian kita jadikan "sunnah" (yaitu dzikir yang dibaca ketika dipuji).

' Rawatlah apa yang kita miliki '


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh


Pengetahuan yang kita miliki
Sia-sia karena tidak diamalkan

Perbuatan yang kita lakukan
Sia-sia karena tidak disertai rasa ikhlas.

Perjuangan yang kita lakukan
Sia-sia karena tidak ada tujuan yang jelas

Pengorbanan yang kita lakukan
Sia-sia karena mengharapkan pujian

Marah yang kita lampiaskan
Sia-sia karena dilandasi emosi bukan rasio

Cinta yang kita berikan
Sia-sia karena dilandasi syahwat semata

Kekayaan yang kita dapatkan
Sia-sia karena hanya untuk kepentingan pribadi

Kegagalan yang kita alami
Sia-sia karena dijadikan alasan keputusasaan

Musibah yang kita jumpai
Sia-sia karena tidak menjadikan kita semakin kuat

Kesuksesan yang kita raih
Sia-sia karena membuat kita semakin sombong

Anugerah yang kita dapatkan
Sia-sia karena tidak disyukuri

Pelajaran dan peringatan yang kita dengar atau baca
Sia-sia karena hanya melintas di pikiran

DEMI MASA SESUNGGUHNYA MANUSIA ITU BENAR-BENAR BERADA DALAM KERUGIAN .KECUALI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN MENGERJAKAN AMAL SHALEH DAN NASEHAT MENASEHATI SUPAYA MENTAATI KEBENARAN DAN NASEHAT MENASEHATI SUPAYA MENETAPI KESABARAN.
(Qs Al-Ashr 1-3)

Imam Al ghazali mengatakan iman membutuhkan perawatan . Dan untuk merawat iman tidak cukup dengan menyiraminya agar tetap segar atau memupuknya agar menjadi subur dan berkembang, tetapi juga perlu menjaganya dari ancaman berbagai hama yang dapat merusaknya, bahkan menghancurkannya.

Hama yang mengancam perkembangan dan kesehatan iman, yang umum dihadapi setiap mukmin adalah : kemusyrikan (penyekutuan terhadap Tuhan), kemunafikan (kepura-puraan, pengakuan lahir yang berbeda dengan batinnya), dan kemaksiatan (pelanggaran dan kedurhakaan).
Sumber utamanya adalah :
(1) syetan, musuh laten manusia .
(2) Hawa nafsu manusia itu sendiri.
(3) Pengaruh lingkungan sosial.

"Hawa nafsu" selalu dijadikan alat oleh syetan dalam merusak keimanan manusia sehingga berulang-ulang Allah mengingatkan manusia agar jangan mudah mengikuti hawa nafsu."JANGANLAH KAMU MENGIKUTI HAWA NAFSU...(QS Shaad :26 ; juga dalam Qs Al-a'raaf :176 ; Thoha : 16; Al-Qashash :50 dalam arti yang sama)

Hawa nafsu manusia seringkali memanipulasi amal perbuatan dengan cara-cara yang dapat mendistruksi (menghancurkan) nilai amal itu sendiri, seperti kemunafikan, riya (niat pamer), ketamakan, kesombongan dsb. Banyak amal perbuatan yang penampilan lahirnya seperti amal shaleh, tetapi tidak memperoleh nilai kebaikan apa-apa gara-gara niatnya salah.Seperti niat yang mendorongnya tidak benar, tidak ikhlas, karena pamer (riya'), sehingga nilai-nilai amal tersebut jatuh, dan bahkan membawa resiko yang menyedihkan (mendapat siksa). Mereka sudah memanipulasi amalnya terhadap Tuhan, padahal Tuhan Maha Tahu yang sebenarnya memotivasi amal mereka, ini merupakan kemunafikan amal dimana penampilan lahirnya seperti ibadah, padahal tujuan sebenarnya untuk memperoleh popularitas.

Untuk "Ikhlas " itu tidak mudah, karena ikhlas termasuk karunia Allah yang diberikan Allah kepada hamba-NYa yang dicintainya.

Seorang sahabat Khudzaifah bin al yaman, menanyakan kepada Rasulullah tentang ikhlas itu apa sebenarnya, nabi tidak lansung menjawab, tapi menanyakan hal itu kepada jibril. Kemudian Jibril mengatakan: Saya pernah menanyakan tentang ikhlas ini kepada Tuhan Rabbul Izzah, kemudian beliau menjelaskan.
"IKHLAS ITU MERUPAKAN RAHASIAKU, YANG KUTITIPKAN PADA HATI ORANG-ORANG YANG KU CINTAI DIANTARA HAMBA-HAMBA KU" (Diriwayatkan Al-Qazwini)


Wallahu a’lam bish-shawab
 

Selasa, 05 Maret 2013

Menjaga Lisan Dari Bahaya Lisan




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh



Kalau bicara jaga lisanmu

Jika menulis jagalah bahasamu

Lidahmu adalah pedangmu

Mulutmu adalah harimaumu

Ungkapan atau peribahasa diatas seringkali kita dengar sejak zaman kita duduk di bangku sekolah bahkan hingga kini masih terus saja terngiang. Dan ungkapan seperti itu memang seperti wasiat dari orang -orang sebelum kita agar kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan kita.

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara.
Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan memang karunia Allah yang demikian besar.
Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya.
Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam.
Bukan dengan mengumbar pembicaraan semaunya sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan.
Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam.
Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :  
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula.
Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.
Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan.
Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan.
Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan.
Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah bersabda: 
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda.
“Artinya : 
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ?

Para sahabat pun menjawab, 
‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.

‘Beliau menimpali, 

‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain.
Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi.
Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.

Memang lisan tidak bertulang.
Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya.
Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya.

Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik:
“Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu Ad-Darda’:
“Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
3. Al-Ahnaf bin Qais:
“Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
4. Abu Hatim:
“Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.
Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara.
Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara).
Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara.
Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
5. Yahya bin ‘Uqbah:
“Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata:
‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat.
Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:
“Orang Islam yang paling utama adalah orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)
Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga.
Rasulullah bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :
“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.
Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Bukhari :
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”
Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan.

Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

Wallahu a’lam bish-shawab