Opick - Assalamualaikum

Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Menuju Puncak Kesuksesan Dengan Sabar

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Kesuksesan dan keberhasilan tidak semua yang baik dapat dihasilkan dengan cepat dan tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa dan ingin cepat menuju pucak kesuksesan adalah berasal dari setan. Prilaku tergesa-gesa dan ingin cepat sukses menjurus kepada perbuatan yang menyimpang, contohnya korupsi, mencuri serta menipu dll.

Sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk menuju kesuksesan. Padahal sifat tergesa-gesa itu terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Untuk berhasil dan sukses, kita harus bersedia untuk bersabar menanti dampak dari upaya kita. Bukankah rahasia utama untuk mencapai keberhasilan dalam semalam, adalah bekerja keras dan terus berusaha serta berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kesuksesan dan keberhasilan itu butuh proses dan latihan serta belajar dari pengelaman. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkannya, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut."(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan Al-Albani dalam As-Shahihah No. 342)

Kalau kita gagal, jangan menyerah terus berusaha. Sesulit apapun kita alami pasti ada kemudahan. Seperti Janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Quran disurat Al Insyirah ayat 6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan" (Qs.Al Insyirah;94:6)

Untuk mencapai kerhasilan dan kesuksesan, kita harus terus-menerus dalam berusaha walaupun sedikit. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit." ( HR. Muslim no. 783 Dari 'Aisyah radhiyallahu anha)

Seorang trainer pernah mengatakan Kesuksesan besar adalah hasil dari kumpulan kesuksesan-kesuksesan kecil.

Lakukanlah perubahan itu, meski pun kecil, sebab tidak ada yang kecil jika kita melakukan secara terus menerus.

Akhirnya, semua itu tergantung pada diri kita menghadapinya dengan sabar atau tidak?. Bagaimana mengelola mindset serta mental kita ketika mengahadapi perubahan. Sekaligus secara tegas dan berkomitmen berubah hingga meraih apa yang kita impikan

wallahu a'lam bish-shawab

Rabu, 17 April 2013

Dalam 'bersabar' itu terkandung sifat-sifat yang mulia. Sabar adalah salah satu puncak proses perjuangan

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh 


Subhanallah! ORANG YANG BISA BERSABAR, pasti MEMILIKI KEMAMPUAN KONTROL DIRI YANG BAGUS. Kecuali sabarnya karena terpaksa. Tapi, itu bukan sabar namanya. Sekadar terpaksa bersabar. KESABARAN hanya bisa dijalankan lewat KEIKHLASAN. Dan keikhlasan muncul karena LATIAHAN yang PANJANG berdasarkan kepahaman.

Maka, orang yang tidak memahami persoalan akan SULIT untuk menjalankan kesabaran. Dalam sabar juga terkandung seni dalam ber-positif-positif thinking. Orang yang negatif thinking, pastilah sulit untuk disuruh bersabar. Karena dia menduga jelek terus. Jadi, ringkas kata, dalam 'kesabaran' itu terkandung sifat-sifat yang baik dan mulia.

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Al [Fushilat : 35]

Betapa hebatnya 'kesabaran'. Karena itu, Allah lantas menyebutkan, bahwa DIA AKAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG YANG SABAR. Akan tetapi, begitu KESABARAN KITA HILANG, ALLAH PUN 'MENIGGALKAN' KITA. Bagian akhir dari ayat di atas juga menarik untuk dicermati. Bahwa, ORANG YANG BISA BERSABAR dijamin akan MEMPEROLEH KEUNTUNG YANG BESAR. Mereka yang sabar telah mengikuti dan menjalankan proses sunnatullah dengan benar, sehingga pantas memperoleh hasil yang terbaik. Tapi, 'BERSABAR' juga bermakna TAHAN UJI ketika mengalami cobaan. Dia tahu persis bahwa segala macam cobaan itu datangnya dari Allah. Allah ingin menguji seberapa tinggi kualitas kesabaran kita. Karena agama bukanlah teori, jadi harus terlihat dalam praktik kehidupan sehari hari.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Al Baqarah : 155]

Begitulah, KUALITAS BERAGAMA KITA TERLIHAT DARI PRAKTIK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI . BUKAN sekadar PENGETAHUAN AGAMA YANG TINGGI. Demikian pula kesabaran, sebagai salah satu parameter kualitas keagamaan. Bagi orang-orang yang sabar, Allah telah menyiapkan hasil terbaik untuknya. Maka, ayat di atas ditutup dengan : "berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar", BUKAN HANYA KETIKA DI DUNIA ALLAH MENJANJIKAN KEUTAMAAN , MELAINKAN JUGA DI AKHIRAT. Mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bermartabat tinggi dan terhormat, di dalam surga dan bahkan mereka MENDAPATKAN SALAA DARI PARA MALAIKAT.

"Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya."
[Al Furqan : 75]

"…Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [Ar Ra'd : 23-24]

Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahuakbar!

Lebih jauh, orang yang sabar adalah orang yang SELALU MEMPEROLEH PETUJUK ALLAH. Inilah salah satu bukti bahwa Allah selalu bersamanya, dimana pun dan kapan pun. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya, semata-mata berdasarkan pada petunjuk dan bimbingan Allah. Ya, Allah selalu bersamanya.

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka MEYAKINI AYAT-AYAT Kami." [As Sajadah : 24]

Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah berkata dalam bait syair,

Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.

Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.

Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.

Sabar, juga memiliki keterkaitan erat dengan TAWAKKAL. Orang yang bisa bersabar adalah orang yang bertawakkal. MENGGANTUNGKAN SEGALA PERSOLANNYA KEPADA ALLAH. Tentu saja setelah melakukan usaha keras. Kata 'sabar' dan 'tawakkal' memiliki konotasi yang mirip, yaitu 'aktif berusaha'. tetapi tidak tergesa-gesa dan menyerahkan hasilnya kepada Allah saja. Jika pun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak kecewa karenanya. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik buat dirinya.


 Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur'an, baik berbentuk isim maupun fi’'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah subhanahu wa ta'ala

1. Sabar merupakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala. "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.

2. Larangan isti'jal (tergesa-gesa). "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…" (Al-Ahqaf: 35)

3. Pujian Allah subhanahu wa ta'ala bagi orang-orang yang sabar: "…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 177)

4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)

5. Kebersamaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46)

6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)



 Wallahu a’lam bish-shawab

Rabu, 14 November 2012

Nasehat dan kritikan itu, merupakan sedekah yang teramat berharga bagi setiap muslim

Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim




Bahkan orangtua, guru, sahabat serta atasan kita di kantor sering menasehati untuk me

nghindari mengeluarkan kata-kata yang kasar, menyakitkan, memojokkan, merendahkan, mempermalukan, serta untuk menghindari pula nada suara yang keras lagi berlebihan. Kita harus menjaga perilaku dan etika yang terbaik sehingga akan menyenangkan siapapun.

Sahabat, apa yang segera terlintas di benak kita ketika mendengar orang berkata, " saya ingin mengkritik saudara!" Biasanya, perasaan orang langsung menjadi tidak enak. Seakan-akan bakal ada penyerangan dan gangguan yang mengancam kehormatannya. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga dirinya dan mencemarkan nama baiknya. Lalu, muncullah reaksi pada diri kita baik berupa pikiran, perasaan maupun sikap tubuh secepatnya untuk membela diri daripada menikmati kritik itu sendiri. Kita cenderung sungkan menerimanya.

Apakah kita merasa takut dan terhina hanya karena dikoreksi. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai keinginan kita. Ada kalanya benar isinya benar, caranya salah. Ada masanya isinya benar dan caranya pun benar. kadang terjadi, isinya salah caranya sudah benar. Dan yang tak mustahil, isinya salah juga caranya salah!

Dalam menerima kritik, kita butuh beberapa trik yang dapat membuat kritik itu efektif sebagai sarana pembangunan kemuliaan. Kita harus bisa memosisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi dan rindu dinasehati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus.
  • Kritik itu penting
  • Kritik itu kunci kesuksesan dan kemajuan
  • Kritik membuka prestasi dan membuka derajat, dan kritik merupakan jalan untuk menuju lebih baik.

Kita harus berterima kasih atas kebaikan kritikannya tersebut dan jangan dilupakan pula selalu sertakan namanya dalam doa-doa kita. Semoga Allah SWT. membalas kebaikannya yang telah bersudi hati meluangkan waktu buat membantu perbaikan diri kita. Memaafkan kesalahannya, andaipun dia salah dalam menyampaikan kritik. Yang rugi adalah mereka yang salah dalam menyikapinya dan justru kehinaan itu ada pada orang yang tak mau memperbaiki diri setelah menerima kritikan.

Merasa diri tak sempurna itu wajar sebab memang selain menganugerahi kelebihan, Allah juga menitipkan hal yang kita sebut "kekurangan".

Yuk sahabat, kita niatkan bahwa kita menginginkan perubahan dan jangan merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang beruntung dan mudah-mudahan Dia senantiasa mendekatkan kita dengan orang-orang yang mau dengan tulus memberikan kritikannya dan menganugerahi kita kelapangan hati untuk mendengar kritik. Dan semoga kerendahan hati juga dapat menjadi jalan keselamatan hidup kita. Kita harus amanah dengan ilmu dan pengalaman yang kita miliki agar orang lain bertambah ilmunya, wawasannya, pengalamannya. Bukankah sebuah kenikmatan tersendiri bila kita bisa berbuat sesuatu untuk orang lain dengan tulus dan ikhlas.

Sebuah Kritik Dapat Membantu Anda Untuk Berubah.

Orang-orang berpikiran positif selalu menjadikan kritik sebagai guru yang mengajari mereka, untuk menghindarkan diri dari risiko dan tindakan yang salah. Mereka akan memahami isi dan makna kritik yang disampaikan. Lalu, meresapi, mengintrospeksi, serta menjadikannya sebagai energi perbaikan kualitas dan integritas diri. Sebaliknya, orang-orang berpikiran negatif akan menanggapi kritik dengan marah dan cara-cara tidak terpuji. Mereka tidak akan pernah punya nurani dan akal sehat, untuk dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab dalam memahami, meresapi, atau pun menjadikan kritik sebagai bahan renungan untuk memperbaiki sikap, perilaku, kebiasaan, moral dan mental.

wallahu a'lam bish-shawab

Rabu, 19 September 2012

PENGALAMAN ADALAH GURU SEJATIH

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.

Bismillaahirrahmaanirrahiim



PENGALAMAN ADALAH GURU SEJATIH ADA DUA MAKNA

Pengalaman adalah guru terbaik memiliki dua makna. Pengertian ini didasarkan pada apa yang terkandung dalam kata pengalaman itu sendiri. Kata pengalaman dapat diartikan sebagai bagian dari kejadian atau peristiwa dalam perjalanan hidup yang terjadi pada waktu yang telah lewat. Yang perlu digarisbawahi adalah apakah pengalaman itu merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang menimpa diri sendiri atau orang lain? Berdasarkan pertanyaan ini, maka ungkapan Pengalaman adalah guru terbaik memiliki dua makna jika ditinjau dari segi orang yang tertimpa yaitu berdasarkan pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain.

a. Pengalaman diri sendiri adalah guru terbaik

Ungkapan Pengalaman diri sendiri adalah guru terbaik dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang terjadi pada waktu yang telah lewat yang menimpa diri kita sendiri dan tidak menimpa orang lain, kemudian dari peristiwa atau kejadian itu kita jadikan sebagai pelajaran atau peringatan menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.

Dalam memaknai ungkapan ini, sudah jelas bahwa kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan itu memang terjadi pada diri kita sendiri bukan atas kejadian atau peristiwa yang menimpa orang lain dan hanya diri kita yang merasakan dan diri kita sendiri yang menanggung akibatnya.

Mengacu pada ungkapan diatas, kejadian atau peristiwa tidak menyenangkan itu akan menjadi dasar kita untuk mengambil hikmah bahwa kita harus berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, merencanakan dengan matang sebelum jauh melangkah dan mempertimbangkan kembali secara cermat. Tanpa perencanaan dan pertimbangan dalam menentukan langkah hidup, maka kemungkinan besar kita akan terjerumus pada kehidupan yang tidak menyenangkan dan keterpurukan. Sedangkan atas kejadian atau peristiwa yang menyenangkan, maka kita akan mengambil hikmah untuk selalu dan terus mengikuti langkah-langkah yang kita ambil sebelum kehidupan yang menyenangkan datang menimpa kita.

Dari uraian diatas, dapat penulis gambarkan bahwa kita belajar memaknai hidup dengan mempelajari dan mengambil hikmah dari kejadian atau peristiwa yang menimpa diri kita sendiri. Bila yang menimpa itu sesuatu yang menyenangkan, maka hal itu tidaklah masalah karena telah sesuai dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Akan tetapi bila yang menimpa diri kita adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, maka hal itu akan selalu tertanam dalam benak kita sepanjang kita belum bisa melepaskannya.

b. Pengalaman orang lain adalah guru terbaik

Dalam menyingkap makna Pengalaman orang lain adalah guru terbaik maka pikiran yang ada dalam benak kita adalah kita melihat, mendengar dan berusaha semampu kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Sudah jelas bahwa pengertian dari ungkapan Pengalaman orang lain adalah guru terbaik yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang telah menimpa orang lain kemudian kita belajar dari pengalaman tersebut sebagai bekal kita dalam mengarungi perjalanan hidup kita sendiri. Dengan kata lain, kejadian atau peristiwa itu sama sekali belum menimpa diri kita dan kita sama sekali belum merasakannya.

Bila yang menimpa itu adalah sesuatu yang menyenangkan maka hal itu tidak akan menjadikan masalah bagi kita melainkan hanya sebagai motivasi dan pelajaran bagaimana caranya kita dapat menggapai harapan diri kita sendiri dengan belajar dari pengalaman orang lain.

Lain halnya bila yang menimpa itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, maka keberuntungan kita yaitu dapat belajar dari pengalaman orang lain sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa diri kita. Dengan demikian kita akan selalu hati-hati dan waspada dalam menyikapi dan mengambil langkah kita selanjutnya. Kita akan selalu berusaha untuk melakukan persiapan dan perencanaan yang lebih baik agar terhindar dari rasa sakit dan keterpurukan.


 C. Jadikan kekeliruan pada masa lalu sebagai pelajaran

Simpan masa lalu ! Ambillah pelajaran untuk masa depan yang lebih baik! Dengan begitu, kita menjadi waspada dan melakukan perbaikan terhadap sesuatu yang pernah terjadi. Saatnya untuk melangkah, membuka pikiran positif bahwa ada masa dep
an yang lebih baik sedang menunggu di depan !

Orang yang ikhlas dengan kegagalan atau masa lalu buruk yang pernah di alaminya, lalu di susul dengan pikiran positif terhadap masa yang akan datang, sama dengan memberikan stimulus terhadap diri sendiri, mempunyai dorongan dan keyakinan bahwa sesuatu yang akan di inginkan akan terwujud. Sikap tersebut mampu menjadi pemompa yang melengkapi tindakan nyata menuju sukses.

Pepatah mengatakan bahwa masa lalu adalah guru, terlebih kegagalan, yang dengannya kita bisa memetik pelajaran apa yang harus dan jangan sampai dilakukan! Insya Allah, dari ketidakberhasilan pada masa lalu, terbentang kesusksesan di masa yang akan datang.


MANA YANG TERBAIK DARI KEDUANYA ?




Bila kita harus memilih ungkapan mana yang sebaiknya kita ambil dalam menentukan prinsip hidup kita? Sepintas pertanyaan ini mungkin mudah, tapi dalam prakteknya mungkin akan tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Poin dari pertanyaan ini sebenarnya akan lebih dominan pada sesuatu yang tidak menyenangkan, karena untuk sesuatu yang menyenangkan kita hanya tinggal belajar dari diri kita sendiri dan melihat perjalanan orang lain kemudian memahami dan mempraktekkannya dalam perjalanan berikutnya. Berbeda dengan sesuatu yang menyenangkan, dalam hal sesuatu yang menimpa hidup kita itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, menyedihkan bahkan menyakitkan, maka kita akan dihadapkan pada efek fisik dan psikis yang membahayakan.

Dibawah ini merupakan gambaran dari pilihan, bila kita harus memilih salah satu dari ungkapan diatas. Gambaran ini hanya penegasan atas kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan saja.

Bila kita memilih Pengalaman diri sendiri adalah guru yang terbaik maka berarti kita mempelajari setiap langkah yang telah kita lakukan, mengingatnya dalam pikiran kita dan mempraktekkanya kembali dalam langkah selanjutnya. Bila sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa diri kita, maka kita akan belajar bagaimana caranya agar tidak menimpa untuk kedua kalinya. Pengalaman ini sudah jelas kita sendiri yang mengalaminya, kita sendiri yang merasakan sakitnya dan kita sendiri yang menanggung akibatnya. Kita baru belajar setelah kajadian itu secara nyata menimpa diri kita. Apakah kita tidak memiliki potensi untuk menghindarkan diri kita dari sesuatu yang tidak menyenangkan dengan melihat pengalaman orang lain ? Bukankah manusia telah dianugerahi kelebihan pikiran untuk membaca lingkungan di sekitar kita? Apakah kita akan membiarkan diri kita tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan setelah semuanya terjadi pada orang lain? Semuanya adalah tergantung kita memilih prinsip hidup kita terutama dalam menyikapi makna Pengalaman adalah guru yang terbaik.
Bila kita memilih Pengalaman orang lain adalah guru terbaik maka berarti kita membaca, mempelajari dan berpikir atas kejadian atau peristiwa yang menimpa orang lain dan menjadikannya sebagai pengingat agar sesuatu yang tidak menyenangkan itu tidak menimpa diri kita. Adalah suatu keuntungan bila kita dapat belajar dari pengalaman orang lain, karena menjadikan kita akan lebih hati-hati dan cermat dalam mengambil langkah hidup kita. Kita bisa belajar dari orang-orang yang telah sukses dan menemukan kedamaian hidupnya, tetapi kita juga bisa belajar agar terhindar dari keterpurukan seperti yang telah lebih dulu menimpa orang lain. Bila kita telah belajar dari keberhasilan seseorang, bukankah itu adalah suatu keuntungan besar buat kita? Bila kita telah belajar dari seseorang yang telah tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan, bukankah itu suatu pelajaran berharga agar kita terhindar dari keburukan itu? Apakah kita masih akan membiarkan diri kita tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan setelah orang lain merasakan betapa sakit dan sedihnya? Maka, belajarlah dari pengalaman orang lain sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa diri kita.

Dari gambaran diatas, tentunya kita bisa menentukan prinsip hidup yang manakah yang akan kita ambil. Penulis tidak akan mengarahkan pada pilihan tertentu, karena semuanya tergantung pada diri Anda masing-masing. Lain orang maka lain pula cara berpikir dan mengambil keputusannya. Semuanya tergantung pada hati nurani dan akal pikiran Anda.

Kedua ungkapan tersebut pada dasarnya tidak bisa dipisahkan, mengapa? karena keduanya mungkin bisa terjadi dalam hidup kita, seperti halnya kebaikan dan keburukan yang selalu silih berganti menimpa setiap manusia. Hanya saja manusia dengan segala kelebihan yang telah dianugerahkan, bisa menentukan mana yang terbaik diantara yang baik. Bukankah hidup ini adalah pilihan?


 

Semoga kita senantiasa terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan dan keburukan yang tidak diinginkan. Dan tetap bersabar dan ihlas jika memang keburukan itu menimpa diri kita terlebih dahulu. Prinsip hidup kita akan menentukan kondisi harapan kita pada masa yang akan datang. Berusahalah terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan dengan belajar mengkaji dari pengalaman orang lain.




Wallahu A'lam Bish-shawab


By : Mencari Rezky

Sabtu, 08 September 2012

Ketika Allah swt "greatly missed and very much in love"(sangat sayang dan sangat rindu) pada hamba-NYA,

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim

Kasih sayang dapat diwujudkan dengan berbagai macam cara. Ada orang yang menunjukkan rasa sayangnya dengan terus memberikan perhatiannya. Ada pula orang yang menunjukkan rasa sayangnya dengan membelikan beraneka ragam benda yang disukai orang yang ia sayangi. Ada juga yang menunjukkannya dengan sering mengganggu atau mengusili ‘sayang’nya (biasanya kakak laki-laki, hehe…) Namun, ada pula yang menunjukkan rasa sayangnya dengan terus mengekang atau mengurung sang tersayang agar ia aman dari segala macam bahaya.

Atau bahkan ada yang tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya kepada orang yang ia sayangi. Trus, kalo’ kasih sayang Allah itu wujudnya seperti apa? Apakah dengan melimpahnya harta benda. Atau dengan kekuasaan? Atau kecantikan dan ketampanan yang kita miliki? Itukah tanda kasih sayang Allah kepada hambaNya?

Ketika Allah swt "greatly missed and very much in love"(sangat sayang dan sangat rindu) pada hamba-NYA, ia akan mengirimkan sebuah "hadiah istimewa" melalui malaikat Jibril yang isinya adalah "ujian & cobaan."


Dalam hadits qudsi Allah berfirman: "Pergilah pada hambaKU lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 

Dalam Q.S. Al Fajr:15-17 disebutkan,Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian)(Q.S. Al Fajr : 15-17)

Kesenangan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang hamba belum tentu menjadi sebuah pertanda bahwa Allah menyayanginya. Begitu juga sebaliknya, kesulitan serta cobaan yang Allah berikan belum tentu menjadi wujud kebencian Ia kepada kita. Jadi jangan GR dulu dan buru-buru merasa kalo’ ente pade dah disayang ama Allah. Kita kaji dulu beberapa tanda kasih sayang Allah kepada kita melalui pedoman hidup kita. Al-Quran dan hadits Rasulullah.

UJIAN DAN COBAAN SEBAGAI BUKTI CINTA TUHAN

Apabila Allah Swt secara khusus menyayangi seorang hamba-Nya, niscaya Dia akan menhadapkannya pada berbagai kesulitan dan kesusahan. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan ujian dan cobaan kepada seorang mukmin sebagaimana seorang suami menjanjikan kepada isterinya dengan hadiah yang dirahasiakan (disembunyikan)-nya.” 1]

Atau dalam hadits lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba niscaya Dia tenggelamkan hamba tersebut ke dalam cobaan.” 2]

Hal ini bisa dicontohkan dengan seorang pelatih renang. Sewaktu ia diminta untuk melatih seseorang agar bisa berenang, maka ia akan melatih orang tersebut dengan mengerahkan segenap kemampuannya agar orang itu bisa berenang. Sama saja dengan Allah SwT ketika mencintai seorang hamba, maka Dia akan mendidiknya – untuk mencapai kesempurnaan – dengan mengujinya dengan berbagai cobaan.

Seseorang yang ingin pandai berenang, tetapi hanya bermodal dengan membaca buku teori renang tanpa menceburkan dirinya ke kolam renang, pasti seumur hidupnya ia tidak akan pernah bisa berenang. Seseorang yang sungguh-sungguh ingin pandai berenang harus berada di dalam air dan berlatih dengan mencoba bertarung dengan air agar tidak tenggelam.

Bahkan kadang-kadang seseorang yang sedang belajar berenang harus menghadapi maut ketika ia berenang jauh ke tengah laut. Tidak bisa tidak seseorang harus pernah menghadapi kesulitan-kesulitan sejak ia berada di dunia ini, sehingga ia bisa belajar menyelamatkan diri darinya. Ia harus pernah menghadapi kesukaran-kesukaran hidup, sehingga ia menjadi lebih dewasa dan matang. 3]

TIIDAK ADA KEBAIKAN BAGI ORANG YANG TIDAK PERNAH DITIMPA MUSIBAH

Suatu hari, Rasulullah saw diundang ke rumah salah seorang Muslim. Sewaktu beliau tiba di rumahnya, beliau melihat seekor ayam sedang bertelur di sebuah sarang di samping rumah. Beliau melihat telor ayam tersebut tidak jatuh, dan kalaupun jatuh ternyata tidak pecah. Betapa takjubnya Rasulullah saw melihat kejadian tersebut.

Karena itu, pemilik rumah tersebut bertanya kepada beliau, “Engkau heran melihatnya, ya Rasulullah? Demi Allah yang telah memilih Anda sebagai Nabi, sesungguhnya saya selama ini tidak pernah sakit”

Rasulullah segera meninggalkan rumah tersebut, seraya berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah.” 4]

SEMAKIN TINGGI TINGKAT SPIRITUAL SESEORANG SEMAKIN BERAT UJIANNYA

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya disebutkan di dalam kitab ‘Ali bahwa yang paling berat cobaannya di antara semua manusia adalah para nabi, dan setelah mereka adalah para washiy (para Imam Ahlul Bait as), dan setelah mereka adalah orang-orang pilihan yang seperti mereka. Sungguh orang mukmin pasti mengalami cobaan sesuai dengan kadar amal baiknya. Maka, orang yang baik agamanya dan baik pula amalnya akan lebih berat cobaannya. Hal itu disebabkan Allah SwT tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberi pahala bagi orang mukmin dan tempat menyiksa orang yang ingkar. Dan orang yang lemah imannya dan buruk amalnya, akan lebih ringan cobaannya. Sesungguhnya, cobaan itu menimpa orang beriman lebih cepat daripada air hujan yang turun ke bumi.” 5]

Sesungguhnya manusia yang paling keras cobaannya ialah para Nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, dan selanjutnya orang-orang setelah mereka yang layak mendapatkan cobaan seperti mereka. Para penyusun kitab-kitab hadis, membuat bab khusus mengenai kerasnya cobaan yang dihadapi oleh Amir Al-Mu’minin, para Imam dan putra-putranya.

Cobaan yang dihadapi oleh para kekasih Allah, pada dasarnya, adalah kasih sayang-Nya yang dikemas dengan penderitaan, sebagaimana halnya dengan kenikmatan dan kesehatan yang dialami oleh mereka yang dimurkai oleh Allah, yang pada dasarnya merupakan siksaan untuk mereka yang dikemas dalam bentuk kenikmatan, dan kemurkaan dengan bentuk kasih sayang. 6]

Imam al-Shadiq as berkata, ”Besarnya pahala seseorang sebanding dengan besarnya penderitaannya dan tidaklah Allah mencintai seorang hamba kecuali Dia menghadapkannya dengan penderitaan” 7]

Bala’ yang berarti ujian dan cobaan dapat terjadi pada manusia yang baik maupun yang jahat. Bala’ dan ibtila’, tidak hanya terbatas hanya berupa penyakit berat atau ringan, atau kesengsaraan, seperti kemiskinan, penghinaan, dan kehilangan keuntungan-keuntungan duniawi.

Bahkan seperti kekuasaan, kebesaran, kekayaan, ketinggian status, kehormatan, dan yang semacam itu juga merupakan bentuk lain dari ujian dan cobaan.

Tetapi dalam konteks hadits dari Imam al-Shadiq as di atas, bala’ yang dimaksudkan adalah bala’ dalam pengertian yang pertama, yang berupa penderitaan dan kesengsaraan.

BALA ‘ MERUPAKAN UJIAN SARINGAN

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Demi yang mengutusnya (Muhammad saw) dengan kebenaran, kamu benar-benar akan dicampur baurkan dan kemudian dipisahkan dalam saringan (ujian dan penderitaan).” (Nahjul Balaghah hal. 57, Khutbah ke 16, Syarah Dr. Subhi Shalih)

Dalam hadits lainnya, Imam al-Shadiq as berkata, ”Sudah merupakan kemestian bagi manusia bahwa mereka mesti dibersihkan, dipisahkan dan disaring sehingga sejumlah besar dari mereka dikeluarkan dari saringan itu.” 8]

Diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazhim as, ketika beliau membaca ayat, ” Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira dibiarkan mengatakan : ‘Kami telah beriman!’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabut [29] : 1-3) kemudian beliau as berkata, ”Ujian yang dimaksud dalam ayat ini adalah ujian dalam agama.” Kata beliau lagi, ”Mereka akan dibakar dan dibersihkan sebagaimana dibakar dan dibersihkannya emas (dari karat dan kotorannya)!” 9]

Setiap dada tanpa Kekasih
adalah tubuh tanpa kepal,
Manusia yang jauh dari perangkap cinta
adalah burung tanpa sayap
~ Rumi 10]
JIKA ALLAH MENYAYANGI HAMBANYA..

Jika Allah menyayangi seorang hamba Nya, maka :

1. Allah mengujinya (baik dengan kesenangan ataupun kesusahan) kemudian menolongnya dengan kesabaran…

Dalam sebuah hadits disebutkan, Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka ditimpakan ujian padanya (HR. Bukhari)

Di AlQuran surat Ali Imran ayat 146 juga disebutkan, ”Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”.

Ujian yang Allah berikan, baik itu berupa kesenangan ataupun kesusahan adalah salah satu bentuk sayangnya Allah kepada kita. Jangan merasa hina jika Allah timpakan cobaan kepada kita.

Jangan pula merasa gagal jika Allah menakdirkan keburukan kepada kita. Karena apapun bentuk cobaan yang diberikan, itu semua adalah untuk kebaikan kita, karena Allah menyayangi kita dan tahu yang terbaik untuk diri kita. Jika kita bersabar dalam menghadapinya, yakin deh, Allah pasti lebih sayang kepada kita. Justru kita harus bertanya pada diri sendiri jika merasa aman dari cobaan, apakah Allah tidak menyayangi kita lagi? (Nah lo…)

2. Allah akan mencerdaskannya dalam masalah agama….

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kabaikan Maka dicerdaskan dalam masalah agama” (HR.Bukhari-Muslim)

Jelas banget nih haditsnya. Orang-orang yang disayangi oleh Allah akan mudah menerima nasihat, mudah memahami ilmu agama, dan dicerdaskan fikirannya. Semua ilmu mudah sekali mengalir dan terngiang di otaknya. Yang merasa ilmu agamanya baik boleh lah GR sedikit, hehe…

3. Allah akan memudahkan dalam menjalankan kewajiban pada-Nya…
Abu Hurairah R.a berkata Bersabda Rasulullah saw, Allah Swt berfirman:Dan tiada mendekat kepada Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada menjalankan apa yang Aku wajibkan atasnya (HR.Bukhari)Hadits ini menelaskan bahwa Allah menyukai amalan wajib, akan mudah sekali bagi Allah membuka pintu keridhoannya melalui amalan wajib ini. Dan orang-orang yang dikasihiNya lah yang akan mendapat kemudahan dalam melaksanakan semua kewajibannya. Semua perintah yang Ia berikan serasa mudah dilaksanakan, tidak ada halangan yang berarti. Semuanya lancar dan mudah, inilah wujud lain sayangnya Allah kepada hamba yang dikasihi-Nya. Ia akan memudahkannya untuk terus memdekat kepada Allah.

4. Allah menjadikannya berpegang teguh(cinta) pada sunnah ….

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Ali Imran:31)Rasulullah adalah Habibullah, kekasih Allah. Allah akan mengasihi orang-orang yang mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah. Dan jika Allah menyayangi hambaNya, Ia akan menolongnya.

5. Allah menjadikannya seorang yang dermawan yang selalu berinfaq serta menjadikannya ahli ilmu yang selalu menyampaikan ilmunya…
Dari Ibnu Umar, berkata Rasulullah Saw, ”Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal:Seseorang yang diberi Allah kepandaian tentang Alquran, maka diamalkannyadan dikajinya sepanjang siang dan malam, dan seorang yang diberi kekayaan hartamaka ia infaqkan sepanjang siang dan malam.(HR. Bukhari Muslim)

Hmm…, kita tidak diperbolehkan iri kecuali pada dua perkara diatas. Ini menunjukkan bahwa dua hal tersebut adalah hal yang luar biasa dan patut dicita-citakan oleh setiap insan. Hanya Allah lah yang berhak memberikan sifat yang terpuji ini. Ini berarti, Allah memang memberi keistimewaan kepada hambaNya yang ia kasihi dan tidak memberinya kepada hamba yang lain. Wah, kita diistimewakan sama Allah… senangnya… :)

Pantaslah kita diperbolehkan iri kepada dua hal ini, karena keduanya adalah tanda kasih sayang Allah, dan berarti orang yang demikian adalah orang yang dicintai Allah. Rasa iri ini harus memacu kita untuk mengetahui rahasia bagaimana si fulan mendapatkan kasih sayang Allah sedangkan kita tidak. Kita harus memacu amalan kita dan menjauhi maksiat agar kita juga disayang sama Allah.

6. Allah akan menjaganya dari apa yang diharamkan-Nya …

Dari Abu Hurairah Ra: Bersabda Rasulullah Saw,” Sesungguhnya Allah cemburu, dan cemburu Allah Ialah mencegah seseorang mengerjakan apa yang diharamkan-Nya” (HR.Bukhari-Muslim)

Siapapun tidak akan rela jika orang yang disayangnya melakukan hal yang tidak baik. Tidak akan ia membiarkannya menjauhinya dan berpaling darinya. Begitu pula Allah. Ia akan menjauhkan hamba yang ia sayangi dari apa-apa yang haramkanNya. Perkara haram yang paling besar adalah syirik. Maka orang yang Allah kasihi tentu memiliki keimanan yang begitu besr kepada Allah tanpa keraguan sedikitpun. Apakah kita sudah seperti itu?

7. Allah akan mematikannya dalam keadaan husnul khatimah atau dalam keadaan syahid….

Husnul khotimah menandakan ia akan masuk syurga, sedangkan mati syahid menandakan ia terbebas dari pertanyaan kubur dan hisab, maka ia telah mendapatkan sesuatu yang besar yang tidak Allah berikan kepada semua hambaNya. Hanya ia yang Allah sayangi saja yang berhak mendapatkannya.

Betapa indahnya hidup kita jika Allah benar-benar menyayangi kita. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain menjadi hamba yang disayangi dan dikasihi oleh Yang Maha Penyayang.
Yang pasti, jika seseorang menyayangi orang lain, pasti ia ingin selalu berada didekatnya, membahagiakannya, dan memberikan yang terbaik untuknya. Begitu juga dengan Allah. Allah akan selalu ingin hamba yang Ia sayangi selalu berada dekat dengannya, dan memberikan yang terbaik untuk hamba tersebut. Dan yang diatas tadi adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan yakinlah itu semua untuk kebaikan kita juga baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita merasa belum disayang sama Allah, dekati terus Allah dari segala penjuru, agar kelak, kita bisa bertemu dengan Nya dan menatap wajahNya di Syurga. Jangan sampai kita tidak mendapatkan kasih sayang dari Allah dan mari kita berlomba-lomba mendapatkan kasih sayang dariNya.Subhanallah…

1 ]. Bihar al-Anwar 15 : 56.
2 ]. Ibid 15 : 55
3 ]. Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, hal. 145.
4 ]. Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 15 : 1 : 53
5 ]. Al-Kulayni, Ushul al-Kafi, 2 : 259, hadits no, 29.
6 ]. Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, hal. 146
7 ]. Al-Kulayni, Ushul Kafi hal. 252, hadits no. 3
8 ]. Al-Kulayni, al-Kafi 1 : 370.
9 ]. Bihar al-Anwar 64 : 144.
10]. Jalaluddin Rumi, Diwan i Syams 75776-78

wallahu a'lam bish-shawab

By Mencari Rezky
 

Minggu, 12 Agustus 2012

4 Tingkat Manusia Dalam Menghadapi Ujian / Musibah


Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
 
Bismillahirrahmanirrahim
Manusia terbagi menjadi 4 tingkatan dalam menghadapi ujian atau musibah.

Tingkatan Pertama : Marah-Marah

Ini terbagi kepada beberapa macam:

Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Tuhan karena taqdir buruk menimpanya. Ini dilarang dalam Islam, terkadang malah bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman: "Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat" [QS.Al-Hajj : 11]
Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga dilarang.
Dengan anggota tubuh seperti menampar pipi, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya.

Semua ini dilarang karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban setiap muslim.


Tingkatan Kedua : Bersabar

Seperti diucapkan oleh seorang penyair "sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu" Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar. Dia berfirman : "Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar" [ QS.Al-Anfa : 46]

Tingkatan Ketiga: Ridha, dalam arti Ikhlas
 
Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. Ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan tiga ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

Tingkatan Keempat : Bersyukur

Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya.

"Tidaklah seorang Muslim menderita karena kesedihan, kedudukan, kesusahan, kepayahan, penyakit, dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya." (HR Bukhari)

wallahu a'lam bish-shawab
By : Mencari Rezky

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin