Opick - Assalamualaikum

Rabu, 12 September 2012

Hai Orang Be-Ilmu,..Jangan Sombong Dengan Ilmu Yang Kamu Miliki

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim



Allah, telah menciptakan manusia dengan karakteristik sikap yang berbeda-beda. selain itu, Dia pun melengkapi kita dengan kemampun /bakat yang berbeda-beda. apa yang telah Dia berikan itu adalah anugerah bagi kita semua. dan Allah telah menunjukkan salah satu sifatnya, yang itu Dzat yang maha pemberi. selain kelebihan yang di berikan, Dia juga menyertakan kekurangan dalam diri kita. kenapa kekurangan itu Dia berikan juga kepada manusia?. menurutku ini adalah cara Allah, untuk memberitahu , bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah. makhluk yang selalu membutuhkan-Nya setiap saat. dengan kata lain, Hanya Dialah Dzat yang mempunyai keagungan.

     Kadang kita selalu mengeluhkan kekurangan yang ada dalam diri kita, malah kita protes terhadap  apa yang telah Dia berikan. Namun, kita merasa bangga, dengan kelebihan yang kita miliki.  rasa bangga itu membuat kita lupa untuk jadi manusia yang selalu (merendah). padahal kelebihan yang kita miliki itu adalah ujian yang tak terasa.

    Disekitarku banyak sekali yang ingin kuurai tentang sifat sombong seseorang, kesombongan orang tersebut seakan menunjukan bahwa dirinyalah segalanya, dirinyalah yang paling baik diantara yang lain. Misalnya saja seseorang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dari kita, pasti mereka menunjukannya dengan beragam perilaku yang mempresentasikan bahwa "kamu adalah bawahan saya" dengan jalan membusungkan dada, tangan dimasukan ke kantong, tolak pinggang sambil memerintah bawahannya bahkan satu waktu pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, mungkin karena dia sudah sangat tamak dengan Ilmu yang dia miliki di menunjuk tidak lagi dengan jari telunjuknya, tapi memerintah sambil menunjuk dengan kakinya, "Astagfirullah" di didik dengan apa dia itu oleh orang tuanya, sehingga dia bisa seperti itu memperlakukan orang lain. dan jangan merasa diri anda palin bener dan paling pintar.

     sikap 'merasa lebih' yang ada dalam ego (*hati). kalau dibiarkan terus-menerus akan menimbulkan sikap sombong, dan 'merasa lebih' dari orang lain. seakan kita merasa tak punya kekurangan sedikit pun. untuk meng-handle sikap seperti ini, seharusnya kita menyadari dengan sepenuh hati bahwa kelebihan yang di miliki adalah titipan, sekaligus ujian (yang tak terasa). kita mungkin mengenal istilah sombong, dan memberikan predikat tersebut pada orang  berharta yang menunjukkan/memamerkan hartanya pada orang lain, tetapi orang tersebut tak pernah mengulurkan bantuan jika ada yang meminta tolong padanya. tapi ternyata, ada pengertian sombong yang lain. yang datangnya dari ego (*isi hati). Allah telah mengingatkan kita untuk tidak bersikap sombong di dalam Al Qur'an "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."(QS.Luqman-18).

     Semoga kita menjadi bagian yang diberikan rahmat oleh Allah, ketika Dia memberikan kelebihan pada kita. sehingga kita mampu menjaga amanat itu, dan memanfaatkan anugerah itu dengan sebaik-baiknya.  Aamiin



wallahu a'lam bish-shawab



By : Mencari Rezky

JIN Menurut Keterangan Al-Qur'an

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Beda antara nama-nama itu memang ada, meski sangat berdekatan. Bahkan seringkali bertumpang tindih, namun tetap ada pengertian yang berbeda-beda.

Jin

Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata jin. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin. Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.

a. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api. Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.

b. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as. Sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran:

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.

Dan Kami angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Setan

Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.

a. Mengajak kepada Perbuatan Keji Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

b. Syetan adalah Musuh Manusia Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

c. Memberi Janji dan Angan-angan Kosong Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

d. Manusia pun ada yang Syaitan Juga Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus/jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.

Iblis

Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jeisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.

Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam. Allah berfirman:

Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis, Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.

Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT

Iblis menjawab, Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Allah berfirman, Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.

Iblis berkata, Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya.

Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as. dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada di antara keturunannya itu yang mati. Meski barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis.
 
 

Keterangan Quran mengenai Para Penghuni Bumi Paling Awal bisa kita baca dalam QS 2 Al Baqarah ayat 30. Dalam ayat tersebut digambarkan bahwa ketika Adam (moyang seluruh manusia) diciptakan, Tuhan mengumpulkan para malaikat yang termasuk di dalamnya seluruh kelompok Jin. Ketika Tuhan menobatkan Adam sebagai khalifah di muka bumi (orang yang ditugaskan memakmurkan bumi) Malaikat mengemukakan data tentang perilaku penghuni bumi sebelumnya. Siapakah mereka itu?

Mereka adalah bangsa Jin. Mengenai sifat sifat suka menumpahkan darah (saling berperang) dan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaiman dikemukakan Malaikat, ini memiliki kemiripan dengan sifat manusia (keturunan adam). Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan mengingat dalam banyak hal bangsa Jin itu lebih mirip manusia ketimbang malaikat. Hal ini diperkuat dengan firman Tuhan dalam Quran
"Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah mengabdi kepadaKU"

Malaikat tidak disebut dalam ayat tersebut. Dan tak ada keterangan yang mengarah pada pengertian yang berbeda, bahwa makhluk Tuhan yang diberi tanggungjawab untuk beribadah, menyembah dan mengabdi kepada Tuhan hanya ada dua jenis yaitu Jin dan Manusia.

Mengenai petunjuk tentang diamnya bangsa jin dimuka bumi ini sebelum Adam diciptakan, kita bisa merujuk penjelasan berikut:

Dunia kita sekarang ini dihuni oleh Jin dan Manusia. Padahal ketika Tuhan memerintahkan keluar dari "Surga" yang diperintahkan keluar hanya tiga orang yaitu Adam, Hawa (manusia) dan Iblis(nama seorang Jin). Jadi keberadaan manusia sekarang ini sangat jelas karena seluruh Manusia adalah keturunan Adam. Tapi bagaimana dengan Jin? Apakah semua Jin keturunan Iblis? Lalu untuk memiliki anak, Iblis kawin dengan siapa?

Bukan demikian. Iblis adalah nama salah seorang Jin yang diwaktu kecilnya bernama Azazil. Iblis adalah satu dari ribuan atau jutaan Jin yang sudah ada saat itu. Artinya tidak semua Jin merupakan turunan Iblis. Dan semua Jin termasuk Iblis dan keturunannya sekarang ini tinggal di muka bumi bersinggunggan langsung dengan anak cucu Adam tapi dengan frekuensi yang berbeda.

Jadi alur berpikir yang paling runut benang merahnya tanpa harus menyalahi nash atau dalil Quran adalah bahwa penghuni awal bumi ini sebelum Adam diciptakan adalah bangsa Jin.


wallahu a'lam bish-shawab


By : Mencari Rezky
 

PERGUNAKAN NIKMAT PANCA INDRA UNTUK MEMAHAMI FIRMA ALLAH, JANGAN SOMBONG!!!


Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
Bismillaahirrahmaanirrahiim

 
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (Al A'raaf: 179).

Karena itu sahabat dan saudaraku, syukurilah nikmat panca indera yang ada padamu, karena tidak semua orang seberuntung kita, memiliki panca indera yang berfungsi sempurna. Bersyukur tentunya tidak hanya sebatas berucap "alhamdulilah" atau segala bentuk ucapan syukur lainnya. Tapi juga memanfaatkan panca indera tersebut untuk hal2 yang baik.

Menggunakan Lisan kita hanya untuk mengucapkan kalimat2 yang baik. Sebisa mungkin menghindari perkataan2 sia2, apalagi sampai menebar perkataan2 haram. Jika memang tak bisa berkata baik lebih baik diam.

Bahkan lisan memegang kunci surga n neraka. Rasul saw bahkan sampai menjanjikan surga bagi yang bisa menjaga farji dan lisannya. Dan karena lisan juga, seseorang bisa memperoleh surga atau bahkan ditelungkupkan ke neraka, hanya karena lisan "yang mungkin dia tidak sadar bahwa ucapannya akan berdampak sebesar itu"

Menggunakan penglihatan kita hanya untuk memandang yang halal2 saja, menghindari segala kesia2an apalagi yang haram. Kita bisa memilih mau menjadikan rabunnya penglihatan kita ketika tua, disebabkan melihat hal2 yang sia2 -membaca majalah2 sampah misalnya- , melihat yang haram, atau melihat yang halal2 –membaca qur’an, membaca buku2 bermanfaat-.

Namun tanpa berniat, terkadang hal2 haram berseliweran di depan kita "aurat2 terbuka misalnya", tapi beruntung Allah memaafkan pandangan pertama yang tanpa disengaja. Dan untuk menghindari pandangan2 yang haram itu kita diperintahkan untuk "gadhul bashar" (menundukkan pandangan), tidak mengumbar pandangan kita.

Juga pendengaran kita, gunakan untuk mendengar hal2 yang baik, hindari segala bunyi kesia2an apalagi bunyi2 yang jelas2 haram seperti musik misalnya.

Karena semua panca indera kita akan dimintai pertanggungjawaban, mereka akan menjadi saksi untuk apa mereka digunakan.

Alangkah beruntung mereka yang tuli, bisu dan buta. Tuli dari mendengar hal2 yang haram, bisu dari berucap yang haram dan buta dari memandang yang haram.

Tidak heran mengapa kita disunnahkan berdzikir meminta keselamatan badan, pendengaran dan penglihatan tiap pagi dan sore

Perhatikan firman Allah:

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. " (QS. Fushshilat: 20-22)

Semoga ulasan ini bisa membuat kita, khususnya saya sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan panca indera kita hanya untuk hal2 yang bisa mendatangkan ridhoNya, minimal yang mubah. Dan semoga Allah memaafkan segala dosa yang diperbuat panca indera kita.


Dan perhatikan kisah-kisah orang sombong yang tidak PERGUNAKAN NIKMAT PANCA INDRA UNTUK MEMAHAMI FIRMA ALLAH !!!

Karena sifat takabur pula, sosok-sosok sepert Fir'aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.

Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukanberkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar. Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain.

Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga dengan budaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit juga yang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selalu dibanggakan.

Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jasmani mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah. Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelap tanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).

Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur). (Al Muddatstsir: 23).

Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Setan tentu dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia.

Takabur / Sombong

Takabur adalah menganggap rendah orang lain, merasa lebih dibandingkan dengan orang lain. Biasanya di pengaruhi oleh kekayaan, kedudukan, kecantikan, ketampanan, kepandaian, dan sebagainya. Takabur merupakan sebagian dari sifat tercela (madmunah), yakni sifat yang mengingkari kebenaran, bahkan menganggap dirinya yang paling benar dan selalu merendahkan orang lain.

Mendengar kata dan istilahnya saja secara spontan tentu merasakan bahwa sombong merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan. Dan siapapun tentu tidak senang bila berhadapan, bergaul, bahkan berkawan dengan orang yang sombong. Tanyakan kepada diri kalian masing-masing, apakah ada yang betah bersahabat dengan orang yang sombong ? Tentunya tidak ada yang suka sama sekali.

Namun, di sisi yang lain disadari atau tidak, terkadang seseorang menampakkan sikap angkuh dan sombongnya. Apabila sikap sombong ini hanya dilakukan sesekali, barangkali orang yang di sekelilingnya belum memberikan predikat sebagai orang yang sombong. Predikat sombong ini biasanya baru diberikan ketika perbuatan sombong itu berulang-ulang kali dilakukan dan ditampakkannya, baik berupa sikap, perkataan, maupun cara bertingkah laku.

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita menghindarkan diri dari sifat dan perilaku sombong ini. Teladan seorang muslim adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok manusia yang bergelimang kemuliaan dan kelebihan, namun beliau tidak pernah sedikitpun merasa lebih. Bahkan para pengikutnya pun dipanggilnya dengan sebutan “sahabat”. Sebutan sahabat ini mempunyai makna tersirat yakni kesetaraan. Jadi, Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang mempunyai derajat tinggi, tetapi tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari para pengikutnya yang disebutnya dengan sahabat itu.

Berkaitan dengan sifat sombong ini Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya tersimpan sedikit saja kesombongan. Lalu ada seorang sahabat berkata : sesungguhnya ada seseorang yang suka berpakaian bagus dan sandalnya juga bagus. Rasulullah bersabda : sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, sedangkan sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang”. (HR. Muslim).

Allah Berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (Q.S. An-Nahl ayat 23 )

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al Mukmin ayat 60)

Sabda Rasulullah SAW : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.” (HR. Muslim)

Bentuk-bentuk Takabur

Sombong ada dua macam, yaitu sombong lahir (takabur zahir) dan sombong batin (takabur batin). Sombong lahir yaitu perbuatan sombong yang dilakukan oleh anggota badan dan jelas terlihat. Sombong batin yaitu sifat kesombongan di dalam jiwa atau hati yang tidak terlihat.

Orang yang sombong tidak memiliki perasaan untuk mencintai dan menyayangi sesama saudaranya yang mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Orang yang sombong banyak memiliki sifat yang buruk, misalnya merendahkan orang lain, pemarah, pembohong, khianat, dan sebagainya. Orang yang sombong tidak segan-segan menggunakan hal-hal yang buruk untuk mempertahankan kemuliaannya.

Rasulullah saw menjelaskan, bahwa ada dua macam sifat yang merupakan himpunan dari sifat sombong, yaitu menolak kebenaran dan menghina orang lain, sebagaimana sabdanya : “Sombong adalah (sifat) orang yang mengingkari kebenaran dan menghina orang lain.” (HR. Abu Daud dan Hakim)

Itulah sifat orang yang sombong, ia senantiasa menolak kebenaran yang dianggapnya akan merugikan dirinya dan menghina atau merendahkan orang lain. Orang yang sombong sering lupa diri; siapa dia, dari mana, dan hendak ke mana ia sebenarnya. Fir’aun adalah bukti sejarah dari seorang yang sombong yang membanggakan pangkat dan kedudukannya sampai mendaulat dirinya sebagai Tuhan. Perangai Fir’aun yang sombong itu benar-benar dan terangterangan menentang Tuhan.

Orang yang sombong telah merampas suatu sifat yang sebenarnya tidak pantas disandangnya karena sifat itu hanyalah milik Allah SWT. Perilaku orang yang sombong ibarat seorang budak yang mengambil mahkota raja, kemudian ia memakainya. Setelah itu ia duduk di singgasana raja bertingkah seperti raja yang patut dihormati. Tentu saja sang raja sangat murka terhadap budak yang kurang ajar itu dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Banyak hal yang dapat memungkinkan seseorang terjerumus ke dalam kesombongan, antara lain : keturunan, kekayaan harta, kepandaian atau ilmu pengetahuan, kedudukan, kecantikan / ketampanan, kekuatan tubuh. Demikianlah banyak celah yang dapat menjadikan seseorang bersifat sombong. Oleh sebab itu, hendaklah kita memohon kepada Allah agar diberi petunjuk ke jalan yang benar dan terhindar dari sifat sombong.

Akibat Negatif Takabur

Sifat takabur adalah sifat tercela yang harus di jauhi oleh setiap mukmin, karena akan berakibat sangat fatal di antaranya :
Tidak mau menerima kebenaran
Tidak menyadari bahwa segala keberhasilan yang diperolehnya adalah karunia Allah
Menganggap rendah pada orang lain
Setan sudah menguasai dirinya
Tidak pernah bersyukur kepada Allah
Dalam pergaulan tidak disenangi oleh orang lain
Di akhirat hanya di neraka tempatnya

Cara Menghindari Takabur

1. Memahami dan menyadari tentang bahaya takabur, baik bahayanya di dunia maupun bahaya di akhirat nanti.

2. Menerima setiap nikmat maupun kelebihan yang dimiliki semata-mata karena karunia Allah SWT.

3. Menyadari bahwa asal kejadian semua manusia adalah sama, yakni dari sel sperma dan ovum. Yang mungkin manusia itu sendiri merasa jijik bila melihatnya. Kalau kemudian menjadi makhluk yang sangat bagus bentuknya semua itu karena kehendak dan kasih sayang dari Allah SWT, dan diri kita sendiri tidak pernah memesannya kepada Allah SWT.

4. Berusaha untuk dapat bergaul dengan siapa saja denga baik, tanpa membeda-bedakannya.

5. Segera mengikis benih-benih kesombongan di dalam hati yang setiap saat dihembuskan oleh setan, dengan cara membaca istighfar manakala kita menyadari telah berbuat sombong.



wallahu a'lam bis-shawab



By : Mencari Rezky

Senin, 10 September 2012

Emang Sulit Menyatakan IKHLAS?,..Ikhlas itu mudah di ucapakan, tapi sulit dilakasanakan.

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim

Sulit Menyatakan IKHLAS?,..Ikhlas itu mudah di ucapakan, tapi sulit dilakasanakan. Pertanya ini sering kita dengar dan mungkin hanya menjadi jawaban dalam diri kita masing-masing. Ikhlas bukan perkara gampang dalam melakukan sesuatau perbuatan. Perjuangan menuju Ke-IKHLASAN selalu bersinggungan dengan pergolakan BATIN  dan KEIMANAN  seseorang. Sebab fitrah kita sebagai manusia seringkali ingin mendapat nilai atau mengharapakan PUJIAN dan BALASAN dari sesuatu yang kita kerjakan(hehehe...tidak mau rugi kale dan tidak mau menerima). Tidak ada formula khusus yang bisa dirumuskan dari ikhlas, kecuali BERUSAHA dan MENCOBA dengan bersikap ikhals, memiliki IMAN dan KEPERCAYAAN pada diri sendiri

Lalu apa makna / arti dari kata IKHLAS. makana ikhlas secara bahasa, ikhlas berasal dari kata KHALASHA yang berarti BERSIH atau MURNI. Secara istilah ikhlas yaitu suatu perbutan yang dilakukan tanpa sebuah angan-angan atau sesuatu yang dipikirkan, berarti membersihkan hati dari maksud selain mengharap ridho Allah Azza Wa Jalla, atau tidak tidak mengaharapkan imbalan dari orang lain. Perbuatan Ikhlas dibarengi pula dengan keyakinan atas perbutan dan tidakan memiliki keinginan untuk menarik kembali apa yang telah ia berikan dan ia lakukan.

Dalam hidup ini, sering kita dihadapakan pada kenyataan yang memakasa kita untuk bersikap ikhlas. Ikhlas meminta dan memberi maaf, ikhlas menerima kemarahan dari orang tua, pasangan kita ( dibaca Nikah, bukan Pacaran...hehehe) atau atasan atau orang yang tidak kita kenal sama sekali. Ikhlas atas kehilang suatu harta benda atau ikhlas ditinggal pergi anak dan istri( yang sudah berkeluarga lho!!!) atau ditinggal kedua orang kita. Ikhlas diberi hadiah kecil(mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan) dan berbagai bentuk keterpaksanikhlas lainya yang kadang bukan porsi kita. Bahkan kita juga tidak bisa menerima taqdir yang dialamatkan dalam hidup kita. Ikhlas yang dipaksakan atau berat hati( jangan marah dan kecewa ya....kadang-kadang kemarahan dan kecewaan ditulis di akun FB ,...hmm ^_^ supaya dibaca orang untuk dapat perhatian....hehehe)

Pada sisi yang lain, kita juga perna dihadapkan pada perbutan yang awalnya sudah kita lakukan dengan ikhlas tapi akhirnya berubah tidak ikhlas. kita ikhlas memberi dan berbuat tetapi orang yang menerima melontarkan ketidakpuasan( hmmm,...termasuk saya dalam menulis di dunia maya ini, tidak semua mau orang menerima nasehat yang disampaikan yaitu sebuah kebenaran yang berasal dari Alllah SWT) hingga berbentuk ke-ikhlasan kita-pun berubah menjadi ke-engganan. Berbutan ikhlas memang banyak godaan dan ujiannya.

Benarkah ikhlas itu rahasia antara pelaku dengan Allah SWT ?. Siapa pun tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah seseorang itu ikhlas atau tidak. IKHLAS ITU TIDAK PERLU DIUCAPKAN, hanya Allah SWT berkenan memperlihatkan dampak atau akibat dari ke-ikhlasan seseorang tersebut kepada manusia-manusia sekitarnya, sehingga orang-orang akan dengan mudah mengetahui ke-ikhlasan dari seseorang

Lalu bagaimana caranya supaya kita belajar ikhlas ?  Mencoba dan berusaha melakukan sesuatu dengan hati, jangan mencoba berusaha keras untuk menjadi seperti yang orang lain pikirkan untuk tebar pesona, jangan melakukan dan mengatakan ikhlas( bila ditanya ke-ikhlas kta,..lebih baik mengucapakan wallahu a'lam bish-shawab), kecuali jika kamu percaya bahwa itu keluar dari hati atau sesuia dengan hati nurani yang bersih dan murni. Tetaplah berusaha tenang ketika orang lain memuji ke-ikhlasanmu (kalua dipuji  kita berdoa, Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:"Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)". (HR. Al-Bukhari) Nabi Saw. kemudian berdoa: "Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira." (HR. Al-Bukhari) ) sebab ujian ke-ikhlasan sering kali datang pergolakan bathin dalam diri kita sendiri.

CARA MENJAGA AMALAN GAR TETAP IKHLAS

1. Banyak berdo'a
Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdo'a kepada Allah SWT

2. Menyembunyikan Amal Kebaikan
Hal ini yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah menyembunyikan amal kebaikan. Yakni dia menyembunyikann amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan ( seperti shalat sunnah, puasa sunnah[ tapi kalau kita lagi puasa sunnah teman...bagus bilang "maaf saya lagi puasa " HR. Bukhari dan Muslim] dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakuakan tanpa diketahui  orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena allah semata.

3. Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hambah adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakuakan, di mana hal ini dapat menyeretnya kedalam perbutan ujub(berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya ke-ikhlasan. Semaking ujub seorang terhadap amal kebaikan yang dia lakukan, maka semakin kecil dan rusak ke-ikhlasan dari amal tersebut

4. Takut akan Tidak Diterima Amal
Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia. Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Jangan engakau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh. Karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun ketika ia beramal saleh.

5. Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Sesungguhnya apabila seorang hanba menyadari bahwa orang-orang yang jadikan sebagai tujuan amalnya itu(baik karena ingin pujian amupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah SWT, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk di masukan ke SURGA atau NERAKA?

 wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

Sabtu, 08 September 2012

Ketika Allah swt "greatly missed and very much in love"(sangat sayang dan sangat rindu) pada hamba-NYA,

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim

Kasih sayang dapat diwujudkan dengan berbagai macam cara. Ada orang yang menunjukkan rasa sayangnya dengan terus memberikan perhatiannya. Ada pula orang yang menunjukkan rasa sayangnya dengan membelikan beraneka ragam benda yang disukai orang yang ia sayangi. Ada juga yang menunjukkannya dengan sering mengganggu atau mengusili ‘sayang’nya (biasanya kakak laki-laki, hehe…) Namun, ada pula yang menunjukkan rasa sayangnya dengan terus mengekang atau mengurung sang tersayang agar ia aman dari segala macam bahaya.

Atau bahkan ada yang tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya kepada orang yang ia sayangi. Trus, kalo’ kasih sayang Allah itu wujudnya seperti apa? Apakah dengan melimpahnya harta benda. Atau dengan kekuasaan? Atau kecantikan dan ketampanan yang kita miliki? Itukah tanda kasih sayang Allah kepada hambaNya?

Ketika Allah swt "greatly missed and very much in love"(sangat sayang dan sangat rindu) pada hamba-NYA, ia akan mengirimkan sebuah "hadiah istimewa" melalui malaikat Jibril yang isinya adalah "ujian & cobaan."


Dalam hadits qudsi Allah berfirman: "Pergilah pada hambaKU lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 

Dalam Q.S. Al Fajr:15-17 disebutkan,Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian)(Q.S. Al Fajr : 15-17)

Kesenangan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang hamba belum tentu menjadi sebuah pertanda bahwa Allah menyayanginya. Begitu juga sebaliknya, kesulitan serta cobaan yang Allah berikan belum tentu menjadi wujud kebencian Ia kepada kita. Jadi jangan GR dulu dan buru-buru merasa kalo’ ente pade dah disayang ama Allah. Kita kaji dulu beberapa tanda kasih sayang Allah kepada kita melalui pedoman hidup kita. Al-Quran dan hadits Rasulullah.

UJIAN DAN COBAAN SEBAGAI BUKTI CINTA TUHAN

Apabila Allah Swt secara khusus menyayangi seorang hamba-Nya, niscaya Dia akan menhadapkannya pada berbagai kesulitan dan kesusahan. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan ujian dan cobaan kepada seorang mukmin sebagaimana seorang suami menjanjikan kepada isterinya dengan hadiah yang dirahasiakan (disembunyikan)-nya.” 1]

Atau dalam hadits lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba niscaya Dia tenggelamkan hamba tersebut ke dalam cobaan.” 2]

Hal ini bisa dicontohkan dengan seorang pelatih renang. Sewaktu ia diminta untuk melatih seseorang agar bisa berenang, maka ia akan melatih orang tersebut dengan mengerahkan segenap kemampuannya agar orang itu bisa berenang. Sama saja dengan Allah SwT ketika mencintai seorang hamba, maka Dia akan mendidiknya – untuk mencapai kesempurnaan – dengan mengujinya dengan berbagai cobaan.

Seseorang yang ingin pandai berenang, tetapi hanya bermodal dengan membaca buku teori renang tanpa menceburkan dirinya ke kolam renang, pasti seumur hidupnya ia tidak akan pernah bisa berenang. Seseorang yang sungguh-sungguh ingin pandai berenang harus berada di dalam air dan berlatih dengan mencoba bertarung dengan air agar tidak tenggelam.

Bahkan kadang-kadang seseorang yang sedang belajar berenang harus menghadapi maut ketika ia berenang jauh ke tengah laut. Tidak bisa tidak seseorang harus pernah menghadapi kesulitan-kesulitan sejak ia berada di dunia ini, sehingga ia bisa belajar menyelamatkan diri darinya. Ia harus pernah menghadapi kesukaran-kesukaran hidup, sehingga ia menjadi lebih dewasa dan matang. 3]

TIIDAK ADA KEBAIKAN BAGI ORANG YANG TIDAK PERNAH DITIMPA MUSIBAH

Suatu hari, Rasulullah saw diundang ke rumah salah seorang Muslim. Sewaktu beliau tiba di rumahnya, beliau melihat seekor ayam sedang bertelur di sebuah sarang di samping rumah. Beliau melihat telor ayam tersebut tidak jatuh, dan kalaupun jatuh ternyata tidak pecah. Betapa takjubnya Rasulullah saw melihat kejadian tersebut.

Karena itu, pemilik rumah tersebut bertanya kepada beliau, “Engkau heran melihatnya, ya Rasulullah? Demi Allah yang telah memilih Anda sebagai Nabi, sesungguhnya saya selama ini tidak pernah sakit”

Rasulullah segera meninggalkan rumah tersebut, seraya berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah.” 4]

SEMAKIN TINGGI TINGKAT SPIRITUAL SESEORANG SEMAKIN BERAT UJIANNYA

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya disebutkan di dalam kitab ‘Ali bahwa yang paling berat cobaannya di antara semua manusia adalah para nabi, dan setelah mereka adalah para washiy (para Imam Ahlul Bait as), dan setelah mereka adalah orang-orang pilihan yang seperti mereka. Sungguh orang mukmin pasti mengalami cobaan sesuai dengan kadar amal baiknya. Maka, orang yang baik agamanya dan baik pula amalnya akan lebih berat cobaannya. Hal itu disebabkan Allah SwT tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberi pahala bagi orang mukmin dan tempat menyiksa orang yang ingkar. Dan orang yang lemah imannya dan buruk amalnya, akan lebih ringan cobaannya. Sesungguhnya, cobaan itu menimpa orang beriman lebih cepat daripada air hujan yang turun ke bumi.” 5]

Sesungguhnya manusia yang paling keras cobaannya ialah para Nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, dan selanjutnya orang-orang setelah mereka yang layak mendapatkan cobaan seperti mereka. Para penyusun kitab-kitab hadis, membuat bab khusus mengenai kerasnya cobaan yang dihadapi oleh Amir Al-Mu’minin, para Imam dan putra-putranya.

Cobaan yang dihadapi oleh para kekasih Allah, pada dasarnya, adalah kasih sayang-Nya yang dikemas dengan penderitaan, sebagaimana halnya dengan kenikmatan dan kesehatan yang dialami oleh mereka yang dimurkai oleh Allah, yang pada dasarnya merupakan siksaan untuk mereka yang dikemas dalam bentuk kenikmatan, dan kemurkaan dengan bentuk kasih sayang. 6]

Imam al-Shadiq as berkata, ”Besarnya pahala seseorang sebanding dengan besarnya penderitaannya dan tidaklah Allah mencintai seorang hamba kecuali Dia menghadapkannya dengan penderitaan” 7]

Bala’ yang berarti ujian dan cobaan dapat terjadi pada manusia yang baik maupun yang jahat. Bala’ dan ibtila’, tidak hanya terbatas hanya berupa penyakit berat atau ringan, atau kesengsaraan, seperti kemiskinan, penghinaan, dan kehilangan keuntungan-keuntungan duniawi.

Bahkan seperti kekuasaan, kebesaran, kekayaan, ketinggian status, kehormatan, dan yang semacam itu juga merupakan bentuk lain dari ujian dan cobaan.

Tetapi dalam konteks hadits dari Imam al-Shadiq as di atas, bala’ yang dimaksudkan adalah bala’ dalam pengertian yang pertama, yang berupa penderitaan dan kesengsaraan.

BALA ‘ MERUPAKAN UJIAN SARINGAN

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Demi yang mengutusnya (Muhammad saw) dengan kebenaran, kamu benar-benar akan dicampur baurkan dan kemudian dipisahkan dalam saringan (ujian dan penderitaan).” (Nahjul Balaghah hal. 57, Khutbah ke 16, Syarah Dr. Subhi Shalih)

Dalam hadits lainnya, Imam al-Shadiq as berkata, ”Sudah merupakan kemestian bagi manusia bahwa mereka mesti dibersihkan, dipisahkan dan disaring sehingga sejumlah besar dari mereka dikeluarkan dari saringan itu.” 8]

Diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazhim as, ketika beliau membaca ayat, ” Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira dibiarkan mengatakan : ‘Kami telah beriman!’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabut [29] : 1-3) kemudian beliau as berkata, ”Ujian yang dimaksud dalam ayat ini adalah ujian dalam agama.” Kata beliau lagi, ”Mereka akan dibakar dan dibersihkan sebagaimana dibakar dan dibersihkannya emas (dari karat dan kotorannya)!” 9]

Setiap dada tanpa Kekasih
adalah tubuh tanpa kepal,
Manusia yang jauh dari perangkap cinta
adalah burung tanpa sayap
~ Rumi 10]
JIKA ALLAH MENYAYANGI HAMBANYA..

Jika Allah menyayangi seorang hamba Nya, maka :

1. Allah mengujinya (baik dengan kesenangan ataupun kesusahan) kemudian menolongnya dengan kesabaran…

Dalam sebuah hadits disebutkan, Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka ditimpakan ujian padanya (HR. Bukhari)

Di AlQuran surat Ali Imran ayat 146 juga disebutkan, ”Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”.

Ujian yang Allah berikan, baik itu berupa kesenangan ataupun kesusahan adalah salah satu bentuk sayangnya Allah kepada kita. Jangan merasa hina jika Allah timpakan cobaan kepada kita.

Jangan pula merasa gagal jika Allah menakdirkan keburukan kepada kita. Karena apapun bentuk cobaan yang diberikan, itu semua adalah untuk kebaikan kita, karena Allah menyayangi kita dan tahu yang terbaik untuk diri kita. Jika kita bersabar dalam menghadapinya, yakin deh, Allah pasti lebih sayang kepada kita. Justru kita harus bertanya pada diri sendiri jika merasa aman dari cobaan, apakah Allah tidak menyayangi kita lagi? (Nah lo…)

2. Allah akan mencerdaskannya dalam masalah agama….

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kabaikan Maka dicerdaskan dalam masalah agama” (HR.Bukhari-Muslim)

Jelas banget nih haditsnya. Orang-orang yang disayangi oleh Allah akan mudah menerima nasihat, mudah memahami ilmu agama, dan dicerdaskan fikirannya. Semua ilmu mudah sekali mengalir dan terngiang di otaknya. Yang merasa ilmu agamanya baik boleh lah GR sedikit, hehe…

3. Allah akan memudahkan dalam menjalankan kewajiban pada-Nya…
Abu Hurairah R.a berkata Bersabda Rasulullah saw, Allah Swt berfirman:Dan tiada mendekat kepada Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada menjalankan apa yang Aku wajibkan atasnya (HR.Bukhari)Hadits ini menelaskan bahwa Allah menyukai amalan wajib, akan mudah sekali bagi Allah membuka pintu keridhoannya melalui amalan wajib ini. Dan orang-orang yang dikasihiNya lah yang akan mendapat kemudahan dalam melaksanakan semua kewajibannya. Semua perintah yang Ia berikan serasa mudah dilaksanakan, tidak ada halangan yang berarti. Semuanya lancar dan mudah, inilah wujud lain sayangnya Allah kepada hamba yang dikasihi-Nya. Ia akan memudahkannya untuk terus memdekat kepada Allah.

4. Allah menjadikannya berpegang teguh(cinta) pada sunnah ….

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Ali Imran:31)Rasulullah adalah Habibullah, kekasih Allah. Allah akan mengasihi orang-orang yang mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah. Dan jika Allah menyayangi hambaNya, Ia akan menolongnya.

5. Allah menjadikannya seorang yang dermawan yang selalu berinfaq serta menjadikannya ahli ilmu yang selalu menyampaikan ilmunya…
Dari Ibnu Umar, berkata Rasulullah Saw, ”Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal:Seseorang yang diberi Allah kepandaian tentang Alquran, maka diamalkannyadan dikajinya sepanjang siang dan malam, dan seorang yang diberi kekayaan hartamaka ia infaqkan sepanjang siang dan malam.(HR. Bukhari Muslim)

Hmm…, kita tidak diperbolehkan iri kecuali pada dua perkara diatas. Ini menunjukkan bahwa dua hal tersebut adalah hal yang luar biasa dan patut dicita-citakan oleh setiap insan. Hanya Allah lah yang berhak memberikan sifat yang terpuji ini. Ini berarti, Allah memang memberi keistimewaan kepada hambaNya yang ia kasihi dan tidak memberinya kepada hamba yang lain. Wah, kita diistimewakan sama Allah… senangnya… :)

Pantaslah kita diperbolehkan iri kepada dua hal ini, karena keduanya adalah tanda kasih sayang Allah, dan berarti orang yang demikian adalah orang yang dicintai Allah. Rasa iri ini harus memacu kita untuk mengetahui rahasia bagaimana si fulan mendapatkan kasih sayang Allah sedangkan kita tidak. Kita harus memacu amalan kita dan menjauhi maksiat agar kita juga disayang sama Allah.

6. Allah akan menjaganya dari apa yang diharamkan-Nya …

Dari Abu Hurairah Ra: Bersabda Rasulullah Saw,” Sesungguhnya Allah cemburu, dan cemburu Allah Ialah mencegah seseorang mengerjakan apa yang diharamkan-Nya” (HR.Bukhari-Muslim)

Siapapun tidak akan rela jika orang yang disayangnya melakukan hal yang tidak baik. Tidak akan ia membiarkannya menjauhinya dan berpaling darinya. Begitu pula Allah. Ia akan menjauhkan hamba yang ia sayangi dari apa-apa yang haramkanNya. Perkara haram yang paling besar adalah syirik. Maka orang yang Allah kasihi tentu memiliki keimanan yang begitu besr kepada Allah tanpa keraguan sedikitpun. Apakah kita sudah seperti itu?

7. Allah akan mematikannya dalam keadaan husnul khatimah atau dalam keadaan syahid….

Husnul khotimah menandakan ia akan masuk syurga, sedangkan mati syahid menandakan ia terbebas dari pertanyaan kubur dan hisab, maka ia telah mendapatkan sesuatu yang besar yang tidak Allah berikan kepada semua hambaNya. Hanya ia yang Allah sayangi saja yang berhak mendapatkannya.

Betapa indahnya hidup kita jika Allah benar-benar menyayangi kita. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain menjadi hamba yang disayangi dan dikasihi oleh Yang Maha Penyayang.
Yang pasti, jika seseorang menyayangi orang lain, pasti ia ingin selalu berada didekatnya, membahagiakannya, dan memberikan yang terbaik untuknya. Begitu juga dengan Allah. Allah akan selalu ingin hamba yang Ia sayangi selalu berada dekat dengannya, dan memberikan yang terbaik untuk hamba tersebut. Dan yang diatas tadi adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan yakinlah itu semua untuk kebaikan kita juga baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita merasa belum disayang sama Allah, dekati terus Allah dari segala penjuru, agar kelak, kita bisa bertemu dengan Nya dan menatap wajahNya di Syurga. Jangan sampai kita tidak mendapatkan kasih sayang dari Allah dan mari kita berlomba-lomba mendapatkan kasih sayang dariNya.Subhanallah…

1 ]. Bihar al-Anwar 15 : 56.
2 ]. Ibid 15 : 55
3 ]. Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, hal. 145.
4 ]. Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 15 : 1 : 53
5 ]. Al-Kulayni, Ushul al-Kafi, 2 : 259, hadits no, 29.
6 ]. Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, hal. 146
7 ]. Al-Kulayni, Ushul Kafi hal. 252, hadits no. 3
8 ]. Al-Kulayni, al-Kafi 1 : 370.
9 ]. Bihar al-Anwar 64 : 144.
10]. Jalaluddin Rumi, Diwan i Syams 75776-78

wallahu a'lam bish-shawab

By Mencari Rezky
 

Rasa Percaya Diri Perlu Sikap Rendah Hati

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuhBismillahirrahmanirrahim

Artikel kecerdasan emosional, artikel spiritual motivasi

Kerendahan Hati Sejati Bukan Berarti Berkata Kau Tidak Mengetahui Apa Pun, Tetapi Mengakui Bahwa Kau Hanya Tahu Sedikit."

Ketika rasa percaya diri menjadi tak terkendali, hanya aura kesombongan yang akan tampak dari dalam diri. Ketika rasa kurang percaya diri menguasai diri, hanya aura ketidakmampuan yang akan terpancar dari dalam diri. Anda wajib menjadi cerdas secara emosi dan spiritual, untuk bisa menjaga rasa percaya diri yang seimbang dalam keharmonisan diri.

Setiap orang wajib membangun kualitas dirinya dengan kekuatan rasa percaya diri yang seimbang dalam keharmonisan batin terdalam.

Rasa percaya diri yang baik akan terlihat dari aura diri yang positif; akan terlihat dari body language yang bersahabat; akan terlihat dari cara berpakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi; akan terlihat dari kata-kata dan tata bahasa yang positif; akan terlihat dari kemampuan memainkan peran dan fungsi diri di dalam kehidupan; dan akan terlihat dari kekuatan emosional baik yang menguasai semua sikap dan sifat hidup.

Rasa percaya diri yang seimbang akan selalu mendapat respek dari siapa pun, sebab dalam rasa percaya diri yang seimbang ada sikap rendah hati.

Seseorang dengan rasa percaya diri yang seimbang akan selalu mampu menyesuaikan diri dengan kultur dan gaya hidup apa pun. Dia akan selalu merasa nyaman di lingkungan manapun, tanpa merasa dirinya luar biasa hebat atau pun merasa dirinya serba kekurangan. Dia seorang pribadi yang selalu respek kepada semua keyakinan, kepercayaan, dan pola hidup dari orang-orang lain.

Pribadi dengan rasa percaya diri yang seimbang selalu merasa bahagia dan rileks dengan tamu-tamunya. Ia akan menjadi tuan rumah yang hangat dan penuh hormat kepada setiap tamunya tanpa pilih kasih


Perbedaan Orang Sombong Dengan Orang Percaya Diri

1. Orang sombong menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan orang percaya diri percaya bahwa dirinya memiliki keunikan dan talenta sebagaimana yang dianugerahkan berbeda kepada setiap orang.


2. Orang sombong seolah selalu tahu apa yang paling baik untuk orang lain. Sedangkan orang yang percaya diri selalu terbuka tentang pendapatnya terhadap orang lain.


3. Orang sombong biasanya tajam terhadap orang yang ia lihat sebagai saingan. Orang percaya diri sudah lahir dengan kemampuan untuk bersaing.


4. Orang sombong sulit dan bahkan tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Orang percaya diri tidak takut untuk mengaku bahwa ia melakukan kesalahan.


5. Orang sombong biasanya suka jika orang lain melakukan kesalahan Sedang mereka yang percaya diri suka membantu orang menghadapi kesalahan yang mereka buat.


6. Orang sombong biasanya sangat peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya. Sedangkan orang percaya diri tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya.


7. Orang sombong biasanya suka membanggakan dirinya, sedangkan mereka yang percaya diri cenderung diam.


wallahu a'lam bish-shawab

By : Mencari Rezky

Mempunyai Sifat Malu, Aset Berharga Wanita Beriman

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

Bismillahirrahmanirrahim




 

SIFAT malu merupakan aset berharga wanita mukmin yang mampu menolongnya menjaga kehormatan dirinya, martabat, dan statusnya. Para istri shalihah adalah para muslimah yang memiliki sifat malu dalam akhlak, berpakaian, tindak-tanduk, obrolan, interaksi, dan budi pekerti. Sifat malu positif yang dimiliki seorang istri shalihah membuatnya senantiasa patuh pada aturan berpakaian Islami, baik itu jilbab, cadar, ataupun burqa. Dia tidak akan pernah mau mengenakan pakaian yang transparan, ketat, sama dengan pakaian pria, dipakai untuk niatan pamer dan berlagak, lalu memakai wewangian dan menggoda.


Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan 'Laa ilaaha illallah ' , dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan." (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.

Tentang kesejajaran sifat malu dan iman dipertegas lagi oleh Rasulullah saw., "Malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat." (HR. Hakim dari Ibnu Umar. Menurut Hakim, hadits ini shahih dengan dua syarat-syarat Bukhari dan Muslim dalam Syu'ban Iman. As-Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shagir menilai hadits ini lemah.)

Karena itu, sifat malu tidak akan mendatangkan kemudharatan. Sifat ini membawa kebaikan bagi pemiliknya. "Al-hayaa-u laa ya'tii illa bi khairin, sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan," begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Dengan kata lain, seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut seorang muslimah meluncur kata-kata kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, "Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka." (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)

Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Allah itu Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah swt.

wallahu a'lam bish-shawab
 
By Mencari Rezky